Penulis
2 bulan lalu · 376 view · 3 min baca menit baca · Politik 96208_76529.jpg
Pixabay

Bisakah Ada Revolusi di Dunia Kapitalis?

Sebenarnya tulisan ini termasuk lambat saya selesaikan karena adanya beragam kesibukan. Tapi, saya berusaha untuk tetap menyelesaikannya. Selain itu, sudah lama saya tidak menulis di Qureta dan ingin kembali menulis.

Dari banyak tulisan yang berseliweran soal demo 1 Mei yang terjadi beberapa waktu lalu, banyak yang menyoroti soal gerakan anak muda yang melakukan tindakan vandalisme. Siapa sebenarnya mereka? Sebagian menyebut kelompok tersebut adalah gerakan anarkis. Sebagian lagi menamai mereka komunis gaya baru. Sebagian menyebut mereka sebagai anak muda labil yang cari perhatian.

Apa pun bentuknya, mereka membawa muatan ideologi di belakangnya. Ideologi inilah yang menarik untuk dikupas. Atribut mereka cukup unik. Kebanyakan menggunakan pakaian hitam dan bendera bertuliskan huruf A yang dikelilingi lingkaran.

Orang yang pernah belajar dasar dari ilmu politik biasanya akan menyimpulkan bahwa ini adalah gerakan anarkisme. Anarkisme dalam filsafat politik berbeda 180 derajat maknanya dengan anarkisme yang dipahami oleh khalayak ramai di Indonesia. Anarkisme adalah sebuah filsafat politik yang percaya bahwa negara pada dasarnya menghambat manusia meraih potensi terbesarnya (Baradat, 2006:132). 

Sebenarnya bukan hanya negara, tapi terhadap semua sistem sosial yang selama ini dianggap melahirkan ketidakadilan. Tapi musuh utama kaum anarkis di seluruh dunia adalah negara, karena negara dianggap sebagai institusi utama yang paling kuat mengontrol kehidupan manusia.

Kaum anarkis menolak adanya kontrol tersebut. Namun, bukan berarti kaum anarkis menginginkan dunia tanpa otoritas. Seperti yang dijelaskan oleh Noam Chomsky, setiap otoritas harus mendapat justifikasi mengapa mereka memiliki otoritas tersebut. Dalam banyak kasus, seperti terjadinya perbudakan, sistem patriarki, dan munculnya negara. 


Otoritas yang ada tidak pernah melakukan justifikasinya. Mereka memberikan otoritas dan kontrol atas dasar warisan dari periode sebelumnya. Hal inilah yang ditolak oleh kaum anarkis.

Ada banyak varian dalam kelompok anarkis. Salah satu yang cukup populer adalah anarko sindikalisme. Gerakan ini percaya bahwa kaum buruh (serikat pekerja) adalah pelopor utama dalam revolusi sosial untuk melahirkan tatanan masyarakat baru yang lebih demokratis. 

Sangat mirip dengan komunisme. Tapi dalam anarko-sindikalisme, ide komunisme soal harus adanya diktator proletar untuk mewujudkan utopian world ditolak karena akan menciptakan kontrol baru atas masyarakat.

Revolusi Sosial

Saya termasuk salah satu orang yang tidak percaya dengan adanya revolusi sosial dalam dunia kapitalis. Semenjak Francis Fukuyama menulis The End of History and The Last Men, saya makin yakin bentuk final dari ideologi umat manusia adalah demokrasi liberal dengan sistem kapitalis.

Karl Marx adalah orang yang percaya bahwa revolusi sosial dalam dunia kapitalisme tinggal menunggu waktu karena keserakahan kaum borjuis yang terus memupuk modal dan membiarkan kelas proletar hidup dalam kemiskinan. Pada akhirnya kaum buruh akan sadar akan kondisinya dan bangkit melawan kaum borjuis.

Tapi kita tahu hal tersebut tidak pernah terjadi. Nyaris 100 tahun sesudah kematian Karl Marx, komunisme sudah menjadi ideologi usang dan ditinggalkan. 

Kenapa tidak pernah ada revolusi sosial mengganti sistem kapitalis? Kehebatan utama dari kapitalisme mutakhir yang berkembang pascaperang dunia kedua adalah kemampuannya menjadikan segala sesuatu sebagai komoditas. 

Tidak hanya sekadar komoditas untuk kebutuhan hidup, tapi memberi nilai dalam hidup. Anda akan dapat dengan mudah melihat kaos Che Guevara dijual dalam butik yang mahal, tapi yang membeli mungkin tidak tahu apa yang pernah dilakukan Che Guevara.


Menurut pandangan Mazhab Frankfurt, kapitalisme telah mengembangkan sebuah sistem yang disebut peng-administrasi-an total (Piliang, 2010: 152). Pengadministrasian total ini bermakna bahwa manusia sudah tidak dapat menentukan apa pun. Selera, standarisasi pilihan, dan keinginannya telah ditentukan, tanpa mereka menyadarinya. Pilihan yang dibuat pun berdasarkan pilihan dari industri kapitalis itu sendiri.

Mereka yang telah melakukan demo dengan membawa simbol anarkisme pada 1 Mei lalu bisa jadi merupakan korban dari realitas semu yang telah ditimbulkan oleh indutri kapitalis itu sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa keinginan mereka dikendalikan oleh logika hasrat. 

Logika hasrat adalah sebuah istilah untuk menjelaskan mekanisme produksi yang bersandarkan pada logika ketidakcukupan manusia akan objek (Piliang, 2010: 165). Memang beginilah paradoks dalam dunia kapitalis. Ideologi, simbol, dan slogan untuk melawannya malah dijadikan komoditas untuk dijual kembali pada khalayak ramai.

Lalu bisakah kaum anarko-sindikalisme mewujudkan utopian world mereka? Anda sendirilah yang menyimpulkan.

Artikel Terkait