15675_28546.jpg
marketingweek.com
Cerpen · 7 menit baca

Bir Ketiga

Aku masuk ke sebuah bar di tengah kota Kendari yang ramai. Ketika aku masuk, semua pengunjung yang ada di dalam bar itu menoleh kearahku. Menatapku dengan tatapan curiga kemudian kembali ke posisi semula seperti tidak terjadi apa-apa. 

Sebenarnya sudah lima kali aku datang ke tempat ini. Namun, sambutan orang-orang tidak pernah berubah setiap kali pintu bar itu di buka. Seolah-olah aku adalah pengunjung baru dan patut untuk di curigai,  atau mereka melakukan hal yang sama kepada setiap mereka yang datang ke bar ini?.

Aku memesan sebotol bir lalu duduk di depan bartender cantik yang selalu melayani setiap pelanggan dengan ramah. Bartender itu menyuguhkan sebotol bir, kemudian menuangkannya kedalam gelas.

Thanks,” ucapku lembut. Perempuan itu hanya tersenyum lalu kembali melayani pelanggan yang lain.

Aku merogoh kedalam saku celana mengeluarkan sebungkus rokok lalu menyalakannya sebatang. Aku hisap rokok itu dalam-dalam dan menghembuskan asap tebalnya yang berbahaya itu dengan percuma. Aku mulai mengamati satu per satu orang-orang di bar itu. 

Mereka tampak menikmati minuman mereka sembari matanya tak berkedip sedikitpun melihat bokong penari seksi yang meliuk-liukan tubuhnya pada sebatang besi di atas panggung. Salah seorang dari mereka sampai terlena kemudian kaget ketika menyadari batang rokok yang mereka selipkan di antara jari itu telah habis terbakar dan nyaris mengenai tangannya.

Musik elektrik terus menggema di ruangan yang penuh sesak dengan pengunjung yang sebagian besar berjenis kelamin pria – namun tidak sedikit pula kaum hawa berpakaian seksi di bar itu. Mereka semua tampak asyik dengan dunianya. Walaupun sebenarnya mereka tidak bisa menyembunyikan aura kebosanan hidup dari wajahnya yang muram. Mereka butuh hiburan. Tidak, mereka tidak butuh hiburan. Mereka butuh Tuhan. Seperti halnya aku, sama-sama butuh Tuhan. Bir itulah Tuhannya.

Di meja deretan kiri, seorang lelaki tengah bercengkerama dengan dua wanita yang mengapit di samping kanan-kirinya. Ketiganya tampak cengengesan. Entah apa yang mereka tertawakan. Sesekali kedua wanita yang mengenakan gaun mini itu secara bergantian menuangkan minuman kedalam gelas yang telah kosong.

Aku kembali menuangkan bir kedalam gelas. Kembali ku arahkan pandanganku ke bartender cantik yang tengah meracik minuman yang di pesan pengunjung bar. Ketika  melihatnya, aku  jadi teringat mantan istriku yang tak kalah cantik dari bartender itu. Tapi pikiran itu segera aku buang  jauh-jauh. Aku tak mau kenangan bersama istri yang telah aku ceraikan  itu kembali menghantui. Untuk apa jauh-jauh datang ke bar ini jika tak mampu membuang semua ingatan tentangnya. Bukankah itu tujuanku datang ke bar ini?

Semakin malam suasana bar semakin ramai. Lelaki dan perempuan bercampur baur. Berjoget bersama. Aroma alkohol semakin menyengat. Di tambah asap rokok yang terus mengepul dari mulut-mulut kotor para pengunjung yang kini bukan hanya kaum lelaki saja. Tetapi para wanita pun banyak yang menhisap rokok yang membuat bar itu semakin panas seperti terbakar. Bar itu kini semakin penuh sesak oleh lelaki dan wanita malam.

Terkadang aku merasa heran, kemarin aku baca sebuah berita yang di share salah seorang teman di media sosial. Ada seorang ustadz yang memberi tausiah keliling bar. Bahkan melantunkan shalawat pula. Mungkin tujuannya bagus: mengajak kepada kebaikan langsung dari tempat para pendosa berkumpul. Tetapi apakah sang ustadz tidak tahu kalau di tempat bar seperti ini banyak wanita seksi yang mempertontonkan auratnya. Alih-alih mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan perbuatan dosa, malahan ia sendiri mendapat dosa.

Tetapi apalah artinya kritikan dari seorang yang juga tengah menenggak bir di bar seperti diriku. Sepertinya memang tak pantas bagiku menghakimi setiap perbuatan yang dilakukan orang-orang. Apalagi ustad itu tidak mengajak kepada hal yang buruk. Dia juga berhak menyampaikan nasihat kepada siapapun, termasuk orang yang berada di bar sekalipun. Justru ustad seperti itulah yang pantas menjadi contoh. Karena dia tidak memposisikan diri sebagai orang suci, tapi sebagai sesama manusia yang tak luput dari dosa.

Kira-kira pukul 9 malam, tiga orang polisi masuk kedalam bar. Semua orang langsung menoleh kepadanya. Mereka terkejut kenapa tiba-tiba ada polisi masuk. Ada rasa cemas di wajah para pengunjung. Volume musik berangsur-angsur menurun. Wanita penari striptis turun dari panggung menghentikan tariannya. 

Lelaki yang bersama dua perempuan tadi tampak buru-buru membereskan sesuatu di atas mejanya yang berantakan kemudian mengantonginya. Semua orang terdiam menunggu apa yang akan dilakukan oleh ketiga polisi itu yang sepertinya akan melakukan inspeksi mendadak.

Seorang bodyguard penjaga bar tampak tergesa-gesa mendatangai ketiga polisi itu. Menyalami ketiganya dengan sangat ramah. Tidak seperti saat menyambut para pengunjung yang selalu memasang muka datarnya. Mereka terlihat sedang tawar-menawar. Bodyguard itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya ketika polisi itu berbicara.

Setelah beberapa menit mereka berunding, akhirnya Polisi itu melangkah keluar di ikuti kedua kawannya. Sebelum mereka keluar, bodyguard itu memberikan sebuah amplop yang secara diam-diam dimasukan kedalam kantong jaket polisi itu. Aku mencoba untuk berpikir positif: mungkin amplop itu berisi surat permintaan maaf dari pihak bar.

“Lanjut!” teriak sang bodyguard sambil tangannya memberi isyarat kepada operator musik untuk membesarkan voulume suaranya. Suasana kembali seperti semula, gegap gempita oleh alunan musik yang sempat terhenti beberapa saat lalu disebabkan kedatangan ketiga polisi tadi.

Aku kembali meminum bir  yang tinggal separuh. Entah apa yang membuatku tiba-tiba teringat kepada tiga orang kawanku: Fajar, Agus dan Edy. Aku teringat dulu kami sering minum bir bersama. Duduk melingkari meja. Bercerita, bercanda, berdiskusi, sampai berdebat tentang apa saja yang bisa di perdebatkan. 

Awalnya mungkin hanya membahas masalah yang ringan-ringan seperti: bola, film atau perempuan. Namun, setelah semuanya mabuk oleh minuman, percakapan pun berubah. Yang awalanya santai berubah menjadi serius. Pembahasan beralih ke masalah politik, sosial, ekonomi, agama, hingga tentang Tuhan.

Orang-orang bodoh seperti kami yang hanya lulusan sarjana dari Perguruan Tinggi tak ternama, tetapi ketika mabuk, kami berubah menjadi seperti pakar setingkat profesor yang mampu ngomong masalah apa saja. Persoalan negara, persoalan nilai tukar rupiah yang melemah hingga masalah agama. Seringnya adalah masalah agama yang menjadi topik hangat diantara kita berempat. Padahal kita sendiri tak tahu masih beragama atau tidak.

Salah seorang kawanku yang bernama Edy pernah berkata di sela-sela mabuknya,”Agama itu candu, sama seperti arak yang dapat memabukan.” Aku pikir ada benarnya juga, sih. Jaman sekarang bukan hanya minuman keras yang bisa memabukan, agama pun kini bisa membuat orang lupa dengan saudaranya karena dimabukan agama.

“Itu bukan karena agama yang memabukan,” balas Fajar. “Itu karena orangnya saja yang mudah mabuk, seperti dia ini yang baru setengah botol saja sudah pusing kepalanya,” lanjutnya sambil menepuk bahu Agus lalu  tertawa di ikuti yang lain, ikut juga tertawa. Wajah Agus tampak memerah karena malu disebut gampang mabukan.

Ketiga orang kawanku itu kini entah dimana. Aku tak pernah lagi bertemu atau di hubungi lewat telepon. Kabarnya mereka kini telah menikah dan mempunyai anak. Mungkin mereka sibuk mengurusi kelurganya masing-masing.

Ketika sedang asyik mengingat ketiga kawanku, aku baru sadar ternyata sedari tadi ada sepasang mata yang terus menatapku dengan penuh gairah. Seorang wanita cantik duduk sendiri di pojokan bar  di temani segelas minuman. Ketika aku menatapnya, wanita itu tersenyum sambil mengerlingkan matanya seperti memberikan sebuah isyarat supaya aku datang menemaninya.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku lekas berjalan menemuinya. Wanita berambut panjang itu menaruh kaki kirinya di atas paha kaki kanan. Sementara tangan kanannya memegang gelas berisi minuman. Dibalik gaun ketat  berwarna hitam yang dipakainya, menggunung sepasang payudara yang begitu agung yang membuatku berdecak kagum.

“Hai,” sapa wanita itu penuh kelembutan.

“Hai juga,” jawabku.

”Sendiri?” tanyaku kemudian. Sebuah pertanyaan bodoh keluar dari mulutku yang masih malu-malu dan canggung. Padahal aku sendiri tahu kalau tidak ada siapapun di meja itu kecuali aku dan dia.

“Iya, tapi sekarang tidak lagi, kan ada kamu,” jawab wanita itu sedikit menggoda. Kami lalu tertawa. Suasana canggung pun berangsur-angsur mencair. Lantas kami berkenalan dan sederet percakapan basabasi seperti halnya orang yang baru saja kenal pada umumnya. Nama wanita itu Sarah.

“Bagaimana kalau aku traktir minuman?” kata ku menawarkan diri untuk membelikan minuman.

“Oke,” jawab Sarah sambil tersenyum.

Kemudian aku memesan dua botol bir dingin. Dari bir itulah percakapan kami dimulai. Dari sekedar basabasi beralih ke hal yang lebih dalam dan lebih intim. Dari percakapan itu pula aku mengetahui bahwa Sarah juga telah bercerai dengan suaminya setahun yang lalu. Anaknya yang baru berumur delapan tahun ikut dengan suaminya. Kini ia hidup sendiri mencoba untuk move on dan mencoba untuk membuka lembaran baru. Aku pun bergantian menceritakan kehidupanku. Apa yang saya kerjakan, dimana aku tinggal hingga kenapa saya bisa bercerai dengan istriku.

Tidak terasa botol pertama sudah habis. Obrolan kami sejenak terhenti. Kemudian aku membuka penutup botol bir yang kedua lalu menuangkannya kedalam gelas. Lelaki yang bersama dua wanita di deretan meja sebelah kiri terlihat beranjak pulang. Ia di papah oleh dua perempuan yang menemaninya. Sepertinya dia mabuk berat.

“Apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Sarah kemudian memecah kebisuan. Sebuah pertanyaan yang menggambarkan kepasrahan seorang wanita. 

Aku tentu paham maksud dari pertanyaan Sarah itu. Kebanyakan setiap lelaki yang berkenalan dengan seorang wanita di bar akan berakhir di ranjang. Tapi aku belum mau terburu-buru untuk berbuat lebih dari sekedar berhubungan badan. Tidak tahu nanti di akhir malam. Sepertinya aku masih ingin lebih jauh mengenalnya.

“Setelah bir kedua ini habis maka kita bisa....” aku berhenti sejenak sambil melirik ke arah Sarah. Wanita itu menggigit-gigit bibir bagian bawahnya dan pipinya mendadak merah merona karena malu. Ia tampak salah tingkah ketika aku menatapnya.

“Kita bisa apa? Apa yang akan terjadi setelah bir kedua habis?” desak Sarah penasaran sembari menyandarkan kepalanya ke pundakku.

“Setelah bir kedua habis maka akan ada bir ketiga,” bisikku pelan.

Lalu kami pun tertawa renyah. Tawa kami melebur bersama alunan musik, aroma minuman keras dan omog kosong para pengunjung bar lainnya.