Presiden Joko Widodo pada tanggal 16 Agustus 2019 membacakan pidato kenegaraan di depan sidang bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia merancang visi besar untuk memajukan kualitas sumber daya manusia dari sejak manusia Indonesia dalam kandungan. Selain itu, berniat menghimpun talenta-talenta Indonesia untuk ikut berpartisipasi dalam visi mulia tersebut. 

Karakteristik Pemerintahan Joko Widodo di second term akan lebih menitikberatkan pembangunan manusia Indonesia, selain melanjutkan pembangunan infrastruktur demi pemerataan kesejahteraan. Hal ini terlihat dari tema Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74, yaitu SDM Unggul, Indonesia Maju

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dalam acara Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (Dismed FMB’9) dengan tema “SDM Unggul, Indonesia Maju”, yang berlangsung di Ruang Rapat Benny S. Mulyana, Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (14/8), menjelaskan bahwa salah satu visi tema pembangunan SDM Unggul, Indonesia Maju adalah Indonesia menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelas dunia. 

Salah satu teknologi kelas dunia yang menjadi alat kemajuan bangsa-bangsa besar adalah teknologi biologi. Baru-baru ini, kita telah melihat tren dalam perkembangan ilmiah di persimpangan biologi dan teknologi di bidang-bidang seperti bioteknologi, bioinformatika, dan biologi sintetis (synthetic biology)

Perkembangan ilmu biologi telah mengarah pada pengenalan perspektif yang unik dalam teknologi yang baru dikembangkan di berbagai bidang, seperti desain, arsitektur, ilmu material, perawatan kesehatan, dan pertanian. Pada akhirnya, perkembangan ini dimanfaatkan negara-negara maju untuk meningkatkan daya saing global secara ekonomi dan kesehatan. 

Di masa hidup kita, abad 21, bioteknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia dengan cara yang hampir tidak bisa dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Dan startup bioteknologi saat ini menghasilkan gelombang inovasi yang berdampak tidak hanya pada kedokteran dan pertanian, tetapi juga bidang-bidang yang tampaknya non-biologis, seperti komputasi dan industri kimia.

Nilai industri bioteknologi dalam hal moneter memiliki total pendapatan sebesar USD 323,1 miliar pada tahun 2014, mewakili tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 7,2% antara tahun 2010 dan 2014. Peran bioteknologi memberikan peluang untuk kemajuan menuju tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). 

Di sektor energi dan kimia, inovasi bioteknologi sedang berusaha mengurangi ketergantungan pada minyak bumi dan bahan bakar fosil, dan diharapkan berdampak positif terhadap lingkungan. Seperti usaha membuat biodiesel dan bioavtur menggunakan mikroalga.

Pada sektor kesehatan, genome editing, antibiotik, vaksin, personal medicine, riset microbiome menjadi wasilah dalam peningkatan kesehatan dan kualitas hidup. Di bidang pertanian, inovasi bioteknologi secara bersamaan meningkatkan pasokan makanan
mengurangi kerusakan lingkungan, melestarikan sumber daya alam tanah, air dan nutrisi, dan meningkatkan pendapatan pertanian. 

Pada konteks Tiongkok, alat molekuler seperti CRISPR/Cas9 digunakan besar-besaran untuk riset pangan. Hal sederhana seperti pupuk hayati juga perlu dikembangkan, tentunya dengan pengembangan inokulan yang berkualitas sehingga berkontribusi pada peningkatan produksi pangan. 

Bioteknologi lanjutan seperti biologi sintetis menyumbang penemuan-penemuan mengagumkan, seperti Artimisinin obat malaria yang sekarang dapat diproduksi dalam sel ragi, lebih ramah lahan dan produksi yang besar, tentunya menghindari kebutuhan untuk mengisolasi dari tanaman asli tempat zat tersebut di produksi yaitu sweet wormwood (Artemisia annua).

Biomonitoring adalah area lain yang menarik untuk perkembangan biologi sintetis. Biosensor kecil yang sangat spesifik dapat direkayasa untuk mendeteksi sejumlah besar molekul seperti polutan hidrokarbon, gula, logam berat, dan antibiotik.

Di bidang medis, pendekatan biologi sintetis digunakan untuk mendesain protein buatan yang direkayasa untuk memerangi sel kanker. Selain itu, baru-baru ini treatment pertama menggunakan CRISPR/Cas9 telah berhasil dilakukan di Amerika Serikat untuk menyembuhkan penyakit sel sabit dengan merekayasa sel sumsum pasien agar memproduksi sel darah normal. 

Dalam konteks Australia, University of Queensland dan CSIRO sedang membangun proyek senilai $4,5 juta untuk meningkatkan kemampuan biologi sintetis Australia. Aliansi ini merekrut ahli biologi sintetik senior dan yang muda untuk pengembangan industri. 

Visi mereka adalah menciptakan sektor bioteknologi dan produk-produk bio yang berkelanjutan, berorientasi ekspor, menarik investasi nasional dan internasional yang signifikan, dan menciptakan lapangan kerja regional yang bernilai tinggi dan pengembangan ilmu pengetahuan. 

SynBio FSP CSIRO adalah program penelitian dan pengembangan senilai $40 juta dengan 60 proyek penelitian kolaboratif dan lebih dari 40 organisasi mitra nasional dan internasional. Australia memosisikan diri sebagai pemain utama dalam salah satu bidang sains modern yang paling cepat berkembang sehingga dapat memahami perkembangan global dan berkontribusi pada kemajuan di bidang-bidang seperti manufaktur, bioteknologi industri, perbaikan lingkungan, biosecurity, pertanian dan penelitian kesehatan.

Konteks Finlandia, terdapat Synbio Powerhouse, sebuah proyek yang bertujuan membangun biologi sintetis dan jaringan ekonomi sirkular di Finlandia,di mana perusahaan dan peneliti diberi kesempatan untuk menguji manfaat biologi sintetis di bidang ekonomi sirkular. Jaringan ini akan menyelenggarakan seminar, proyek pengembangan khusus perusahaan, dan proyek penelitian dan pengembangan produk.

Selain itu, laboratorium teknologi genetika yang open access dan inkubator bisnis akan dibuka di Otaniemi yang disebut Biogarage. Di sana, mahasiswa dan peneliti dapat dengan bebas menguji ide-ide baru mereka dalam lingkungan multidisiplin. Di Biogarage, Mahasiswa diberi akses ke pendampingan dari, misalnya Aalto, VTT, dan peneliti Neste, dan mereka dapat mengadakan kuliah dan acara publik sendiri.

Selama durasi satu tahun proyek, beberapa acara lain juga akan diselenggarakan. Pada Januari 2019, mereka telah mengadakan presentasi riset-riset konkret dan diskusi panel.  

Dalam acara Reverse-Pitch pada bulan Februari, perusahaan menantang mahasiswa untuk mencari solusi menggunakan biologi sintetis. Selain itu, diselenggarakan biohackathon, di mana  kecerdasan buatan atau AI dapat digunakan untuk memodifikasi operasi sel.

Jika kita menengok ke negeri Paman Sam, perkembangannya sangat cepat. Amerika Serikat adalah negara lahirnya Biologi sintetis, alumni-alumni yang pernah ikut berkompetisi IGEM membuat startup berbasis biologi sintetis, seperti Ginkgo Bioworks yang nilainya miliaran dollar. Selain itu, muncul startup lain yang juga memainkan peran, seperti Arzeda, Synthego, Twist Bioscience, dan sebagainya. 

Pada intinya, biologi sintetis tidak hanya masalah ilmu pengetahuan, riset yang berakhir pada publikasi ilmiah di jurnal ternama seperti Nature, Science, atau Cell. Tetapi lebih jauh, ia adalah teknologi dan mesin penggerak ekonomi. 

Dalam konteks negara tetangga kita, yaitu Singapura, mereka membuat program R&D yang berguna memajukan agenda dan keahlian penelitian biologi sintetis Singapura, sebagai bagian dari upaya untuk mempromosikan ekonomi berbasis bio yang dibangun di atas kemampuan sains yang mendalam. 

Program ini akan mengintegrasikan dan memastikan pengembangan holistik kemampuan biologi sintetis di Singapura, termasuk terjemahan hasil penelitian untuk penggunaan klinis dan industri. Riset-riset seperti rekayasa sistem mikroba untuk meningkatkan produksi produk alami yang mengantikan metode kimiawi yang melelahkan, mahal, dan hasilnya rendah. 

Universitas seperti NUS didorong menjadi garda terdepan misalnya dalam pengembangan strain ragi, biofuel, biosensor, dan terapi. Selain itu juga, mereka mengembangkan Cannabinoid Sintetis untuk memberikan terapi penyelamatan jiwa yang berasal dari tanaman ganja secara berkelanjutan. 

Cannabinoid adalah senyawa kimia yang ditemukan di tanaman ganja. Cannabinoid sangat menjanjikan dan berguna untuk terapi berbagai penyakit, dan beberapa senyawa sudah digunakan dalam uji klinis. Berbagai kelas senyawa kimia seperti Cannabinoid juga sedang dievaluasi oleh berbagai industri farmasi. 

Budidaya tanaman ganja ilegal di banyak negara, termasuk Singapura. Oleh karena itu, Program Biologi Cannabinoid Sintetis bertujuan untuk menemukan gen cannabinoid untuk membuat senyawa cannabinoid secara sintetis dalam sel tunggal tanpa perlu budidaya. 

Biologi sintetis dirancang untuk mendorong inovasi di industri yang beragam. Biologi sintetis adalah industri multi-miliar dolar yang berkembang pesat dengan potensi signifikan untuk menghasilkan manfaat sosial dan peluang komersial bagi negara yang mau mengembangkannya. 

Meski ketinggalan, Indonesia dapat mempersiapkan SDM yang mumpuni untuk mempelajari ilmu dan teknologi baru dalam bidang bioteknologi ini, tentunya dengan rancangan strategis jangka panjang dan keinginan kuat untuk berinvestasi untuk masa depan melalui pendidikan dan riset ilmiah. 

Secara ideal, dengan penguatan SDM dan ketersediaan data genetika yang tersimpan dalam keanekaragaman hayati di negeri ini yang kaya, bangsa ini akan menjadi bangsa yang unggul. Bayangkan kita memiliki pusat database biologi sendiri, mengolahnya baik dari tataran riset yang bisa berdampak pada naiknya publikasi ilmiah negara kita, dan data biologi tersebut juga dimanfaatkan untuk riset-riset komersial ketika biologi sintetis dan pengembangan genome editing sudah mapan di negeri ini. 

Pemerintahan Joko Widodo kedua ini, apakah menjadi batu peletak kemajuan sains dan teknologi Indonesia seperti yang didengungkan dalam tema besar SDM Unggul, Indonesia Maju? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi waktu juga mempersilahkan kita untuk mau berkorban dalam investasi baik SDM maupun finansial. Tidak ada kemajuan yang diperoleh secara gratis.