Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri,fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. 

Dewasa ini, perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain, seperti biokimia , komputer, biologi, molekuler, mikrobiologi, genetika, kimia,matematika, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.

Bioteknologi kedokteran memegang peranan penting dalam perkembangan tindakan medis untuk pengobatan suatu penyakit. Di bidang medis, penerapan bioteknologi di masa lalu dibuktikan antara lain dengan adanya penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin walaupun masih dalam jumlah yang terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna.

Perkembangan bioteknologi ini awalnya ditandai dengan penemuan antibiotik penisilin yang dihasilkan oleh jamur Penicillium notatum yang ditemukan oleh Alexander Fleming pada tahun 1929. 

Adapun pada tahun 1939 oleh Rene Dubois mengisolasi dua antibiotic gramisidin dan tirosidin modern yang pertama dan tergolong luas penggunaannya. Penisilin tersebut dihasilkan selama pertumbuhan dan metabolism cendawan tertentu, yaitu Penicillium notatum dan Penicillium Chrysogenum.

Setelah antibiotic penisilin ditemukan, banyak penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman yang dapat disembuhkan.Namun, beberapa jenis bakteri lain menghasilkan enzim yang dapat menghambat kerja penisilin sehingga tahan terhadap penisilin.

Akibatnya, beberapa penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut tidak dapat sembuh. Karena itu, para ahli berusaha menemukan obat lain pembasmi bakteri yang kebal terhadap penisilin. Jenis antibiotic lain yang dihasilkan oleh jamur/cendawan, antara lain : sefalosporin dan streptomisin.

Selain itu,perubahan signifikan terjadi setelah penemuan bioreaktor oleh  Louis Pasteur. Dengan alat ini, produksi antibiotik maupun vaksin dapat dilakukan secara massal. 

Pada masa ini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di negara-negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh penyembuhan penyakit-penyakit genetik maupun kronis yang belum dapat disembuhkan, seperti kanker ataupun AIDS.

Tonggak awal teknik kloning dibangun pada 1952 ketika R. Briggs dan T. King berhasil membuat pertama kali katak kloning yang diklon menggunakan sel-sel kecebong. Sepuluh tahun kemudian J. Gurdon mengumumkan keberhasilannya mengklon katak dari sel berudu yang lebih tua. Namun demikian, kecebong tersebut tidak pernah berhasil tumbuh menjadi katak dewasa.

Kemudian Louise Brown asal Inggris diumumkan ke seluruh dunia pada 1983 sebagai bayi tabung pertama yang dihasilkan melalui teknik pembuahan dalam cawan petri. 

Pada 1985 para ilmuwan dari Laboratorium Ralph Brinters melaporkan telah berhasil membuat babi sebagai hewan transgenik pertama yang mampu memproduksi hormon pertumbuhan manusia (HGH human growth hormone). Selanjutnya, berbagai penemuan baru muncul sejalan dengan semakin rumitnya teknik yang ditemukan.

Akhirnya, pada 1997 dunia dikejutkan oleh laporan hasil penelitian Ian Wilmut beserta rekan-rekannya dari Institute Roslin di Edinburgh, Inggris, yang menyatakan berhasil mengklon domba dari sel epitel kambing (sel payudara) seekor domba lainnya. 

Wilmut pertama mengambil sel epitel kambing seekor domba jenis Finn Dorset berumur enam tahun yang sedang hamil. Jika, diharapkan hewan hasil kloning yang bisa bereproduksi, maka digunakanlah sel non-embrio, sedangkan jika diharapkan hewan kloning yang tidak harus bisa bereproduksi, maka digunakan sel embrio.

Bentuk lain kemudahan yang diciptakan bioteknologi adalah cara paling tepat untuk mendiagnosa gonorrhoea pada wanita. Dahulu penyakit ini didiagnosa dengan lebih dulu mengkultur bakteri penyebabnya, suatu prosedur yang memakan waktu 2 sampai 3 hari. 

Diagnosa infeksi chlamydia khusus, bahkan lebih menyulitkan lagi, karena C, trachomatis hanya dapat tumbuh dalam sel hidup, dan tes baru dapat dilakukan dengan memakan waktu 3 sampai 4 hari. 

Tester baru, dengan menggunakan antibodi klon tunggal, telah sangat menyingkat waktu untuk mendiagnosa kedua penyakit kelamin itu.Antibodi klon tunggal juga dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan genetic pada janin, ini digunakan untuk diagnosa prenatal.

Teknik yang digunakan dalam bioteknologi kedokteran ini menggunakan pendekatan molekular untuk mendeteksi penyakit genetik yang berhubungan dengan ketidaknormalan kromosom dan kerusakan gen.

Kajian bioteknologi kedokteran mempertimbangkan bagaimana bioteknologi mampu menggunakan teknik baru untuk menghasilkan suatu produk dalam pengobatan suatu penyakit.

Seiring berjalannya waktu,pengembangan bioteknologi di bidang medis semakin canggih dengan dibuktikan adanya terapi antibodi sebagai alternatif penyembuhan masalah kesehatan.

Hadirnya terapi antibodi tersebut dapat menjadi solusi lain bagi penderita suatu penyakit dalam memilih metode pengobatan.

Menggunakan antibodi sebagai terapi suatu penyakit merupakan salah satu strategi yang dikembangkan dalam dunia kedokteran, karena antibodi bersifat sangat spesifik terhadap suatu molekul atau patogen tertentu sehingga mengikat target dengan afinitas yang sangat baik. Antibodi monoklonal merupakan salah satu contoh pengobatan yang memanfaatkan sifat antibodi tersebut.

Antibodi monoklonal berpotensi menjadi “peluru ajaib” dalam pengobatan suatu penyakit karena dapat langsung menuju target yang diinginkan. Salah satu metode pembuatan antibodi monoklonal yaitu misalkan dengan menyuntikkan antigen penyebab penyakit yang telah dimurnikan pada tikus.

Setelah tikus membentuk antibodi terhadap antigen (membutuhkan waktu hingga beberapa  minggu) limfa tikus diambil. Limfa tersebut kaya akan antibodi yang dihasilkan oleh limfosit B yang biasa dikenal dengan sel B.

Pada cawan petri, sel B tersebut kemudian dicampurkan dengan sel kanker yang disebut myeloma. Dalam kondisi yang tepat, beberapa sel B akan menyatu (fusi) dengan myeloma membentuk sel hibrid yang disebut hybridomas

Sel hybridoma dapat tumbuh dengan cepat pada medium cair karena sel tersebut mengandung gen pembentuk antibodi dari sel B. Sel hybridoma  akan mensekresikan antibodi pada medium disekitar sel.

Hybridoma kemudian dipisahkan dengan sel lain yang gagal mengalami fusi dan dipindahkan ke medium yang lain. Selanjutnya sel hybridoma tersebut disimpan pada temperatur yang sangat rendah sehingga dapat digunakan sebagai stok yang sewaktu-waktu dapat digunakan. 

Antibodi dapat diisolasi dalam jumlah besar dengan cara menumbuhkan sel hybridoma tersebut pada medium kultur yang lebih besar menggunakan bioreaktor.

Antibodi monoklonal pertama yang terdaftar di FDA pada tahun 1986 yaitu OKT3 yang digunakan untuk mengatasi penolakan organ hasil transplantasi oleh tubuh. Pada tahun 1990 antibodi monoklonal dikembangkan untuk mengobati kanker payudara (Herceptin).

Saat ini antibodi monoklonal sudah banyak digunakan di seluruh dunia untuk mengobati kanker, penyakit jantung, alergi, dll. Saat ini peneliti juga tengah mengembangkan untuk memasukkan bahan kimia atau zat radioaktif pada antibodi monoklonal tersebut untuk merusak sel kanker dan mematikannya.

Strategi menggunakan terapi antibodi akan sangat berguna bagi pasien yang kecanduan pada zat berbahaya seperti kokain dan nikotin.Para ilmuwan percaya bahwa menstimulasi produksi antibodi dapat mengobati kecanduan pada narkoba. 

Antibodi tersebut akan berikatan dengan obat-obatan berbahaya sebagai antigen sehingga mencegah obat tersebut mempengaruhi sel otak pemakai.

Penggunaan antibodi monoklonal juga bukan berarti tanpa efek samping. Sebagai contoh pada pengobatan beberapa penderita Alzheimer penggunaan antibodi monoklonal menimbulkan efek inflamasi karena adanya respon antibodi antimouse.

Produksi antibodi monoklonal pada tubuh manusia dinilai dapat mengatasi permasalahan tersebut, namun hingga saat ini hal tersebut masih menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Terlebih lagi antibodi monoklonal tampaknya akan menjadi salah satu metode pengobatan yang akan sangat memudahkan dunia kedokteran pada abad 21 ini.

Aplikasi terapi dari Antibodi monoclonal diantaranya sebagai berikut:

Antibodi monoklonal dapat digunakan untuk melihat protein tertentu dalam tubuh, misal antibodi monoklonal dikonjugasikan dengan logam inert pasien yang dirontgen. Dari hasil rontgen tersebut dapat dikenali protein tertentu yang terlibat dalam penyakit. Cara ini juga diterapkan dalam melihat metastasis sel kanker.

Antibodi monoklonal dapat diaplikasikan untuk identifikasi penyakit yang lebih dikenal dengan imunologikal diagnostik. Di mana deteksi imunologik merupakan deteksi imunologik merupakan sistem deteksi yang sensitif, spesifik, dan sederhana. Misal: membedakan DHF dan tifus.

Dengan ditemukannya lebih banyak lagi antigen kanker, berarti akan semakin banyak antibodi monoklonal yang bisa digunakan untuk terapi berbagai jenis kanker.

Hadirnya bioteknologi ini tak lepas dari perjuangan para peneliti untuk mengembangkan penelitiannya dalam kajian bidang bioteknologi medis.Berkat mereka,banyak nyawa yang dapat ditolong.Dengan demikian,bioteknologi telah menjadi Superhero dalam menumpas penyakit yang diderita manusia.