Tahun 1869, jenis plastik sintesis pertama kali dibuat dasi selulosa, ini merupakan bahan alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Wesley Hyatt, seorang penemu lahir dari asal Amerika menemukan sebuah penemuan dan menyatakan bahwa selulosa nitrat bisa dijadikan plastik dengan menambahkan kamper.

Plastik sintesis pertama juga telah diakui secara komersial yang biasa disebut dengan seluloid. Plastik seperti ini digunakan sebagai bahan pembuat sisir, gigi plasu, bingkai kacamata, dan lain-lain yang biasa kita lihat.(kaskus.co.id)

Bahan Dasar Plastik dan Cara Pembuatannya. Plastik adalah unsur yang terbentuk dari karbon,hidrogen, klorin, oksigen, belerang dan nitrogen. Pada awal pembuatannya plastik dibuat menggunakan bahan natural seperti tanduk hewan,shellac (sekresi dari serangga kecil) serta getah perca.

Di Indonesia, setiap orang menggunakan plastik ratusan hingga ribuan per tahun. Ini menyebabkan masalah penumpukan sampah yang terjadi di darat maupun di laut. Volume sampah plastik di seluruh dunia terus membengkak hingga ratusan juta ton per tahun.

Mungkin, sampah yang berada di darat masih dapat dijangkau untuk didaur ulang kembali, tidak seperti sampah yang sudah terapung di laut. Plastik yang sangat sulit terurai menjadi ancaman terbesar bagi ekosistem laut. Sekitar 80-100 juta ton sampah yang mengapung di seluruh lautan dunia, dan yang paling banyak mengapung adalah plastik jenis polietilen.

Dari data diatas, peneliti limbah di Jerman mengungkapkan beberapa mikroplastik yang terbawa arus ke laut. Roberto Frei adalah manajer teknis pengolahan limbah di Basel, Swiss. Dimana semua limbah, mulai dari limbah industri, rumah tangga, dan peternakan menyatu dalam satu selokan yang mengalir ke arah pengolahan limbah. Semua limbah yang terbawa akan diolah atau di daur kembali hingga menjadi air bersih.

Di pabrik pengolahan limbah tersebut terdapat empat pompa raksasa mengolah air limbah hingga 10.000 liter per detik sampai ke tahap pembersihan pertama. Sepuluh meter di atasnya terus menyapu keluar elemen kasar air limbah. Isinya: tissue toilet, pembersih, daun, hewan mati dan apa pun bisa mendarat dalam limbah cair.

Dalam perangkap pasir, kerikil, pasir dan pecahan kaca tertumpuk. Apa yang tidak bisa didaur ulang berakhir di pembakaran. Akhirnya, air limbah dari sini mengalir ke pengolahan Biological Treatment: Dengan ventilasi terbaik dan lingkungan hangat, bakteri mulai bekerja. Mereka membusukkan senyawa organik dalam air, CO 2 , nitrat, fosfat dan sulfat.

Pembersihan yang efektif: Di kolam pembersih ini, bau itu hampir tidak tercium. Namun demikian, air masih terkontaminasi dengan polutan mikro, karena fasilitas pengolahan air limbah saat ini tidak bisa menyaring partikel-partikel kecil. Tapi ini akan berubah. Seperti Swiss, banyak negara di Eropa yang ingin meningkatkan upaya perlindungan air. Antara lain dengan langkah pembersihan keempat, yakni menghilangkan kontaminasi mikro di air lewat senyawa kimia atau mekanis.

Tahap pemurnian keempat ini penting untuk alam. Inilah yang diteliti ilmuwan pada ganggang dan ikan. Di laboratorium mereka mencatat, ada pengaruh positif terutama pada perkembangan embrio. Percobaan dengan udang air tawar, sudah ke arah ini. Hewan kecil tersebut sensitif terhadap polutan mikro.

Untuk mengetahui reaksi kepiting terhadap air tersebut, para peneliti menempatkan hewan bersama dengan makanan favorit mereka selama tiga minggu di tangki uji coba. Tes serupa dilaksanakan di dekat pabrik pengolahan limbah. Hasilnya, kepiting dalam air limbah konvensional, berkurang nafsu makannya. Tapi saat hidup di air yang bersih dari limbah, maka nafsu makan mereka hampir sepenuhnya kembali.

Dengan penelitian mereka di tahap pengolahan limbah keempat, kelak, pemurnian air yang dirintis para ilmuwan Swiss akan bermanfaat bagi negara lain. Dan air pengolahan limbah dari Basel, yang kemudian mengalir ke Sungai Rhein di Jerman, di antaranya, kemungkinan jadi air terbersih di dunia. (sumber: http://www.dw.com/id)

Menurut peneliti dari Universitas Georgia Dr. Jenna Jambeck - yang dimuat dalam Jurnal Science (sciencema.org) 12 Februari 2015 - Indonesia membuang limbah plastik sebanyak 3,2 juta ton, dan berada di urutan kedua sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut setelah Cina.

Tahukah kamu? Bahwa plastic terurai hingga 5 abad sedangkan memakainya hanya 25 menit saja paling lama. Para peneliti di jerman, meneliti mengapa banyak burung pantai yang mati. Ternyata, burung-burung tersebut memakan plastik-plastik yang dibuang oleh para turis, dan tidak hanya mikroplastik tapi plastik yang utuh pun ada dalam perut mereka.

Di laut, penyu menganggap plastik adalah makanan mereka, baik plastik yang utuh maupun yang mikroplastik, sehingga banyak penyu yang mati dan penyu kini menghadapi kepunahan.

Di Jerman sudah mengurangi penggunaan plastik, dimana setiap orang per tahunnya hanya menggunakan 70 kantong plastik, sedangkan di Finlandia menggunakan 450 kantong plastik per tahun untuk setiap orangnya. Ini menjadi salah satu contoh bagaimana mereka bisa mengurangi sampah plastik di Negara nya.

Di Irlandia, pajak untuk setiap kantong plastik adalah 22 sen, dampaknya penggunaan kantong plastic disana berkurang hingga 90% dan kini setiap penduduk hanya menggunakan 18 kantong plastik pertahun.

Jika saja di Indonesia mengikuti jejak Irlandia, mungkin saja ada harapan untuk meningkatkan eksosistem laut maupun darat yang kini makin terpuruk karena sampah plastik. Hal ini membuat wajah dan citra laut Indonesia menjadi buruk di mata dunia, memang Indonesia telah berupaya dalam penanganan sampah plastik, dengan membuat Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Sampah Plastik.

Rencana tersebut bertujuan, agar Indonesia bisa mengurangi 70% kontribusi Indonesia terhadap sampah plastik di laut sebelum 2025. Dalam Konferensi East Asia Summit (EAS) 2017 yang digelar di Bali, Indonesia mengkampanyekan perang terhadap sampah plastik di lautan. Dalam konferensi tersebut, Indonesia menyampaikan beberapa langkah yang telah dilakukan Indonesia untuk memerangi sampah plastik di laut.

Diantaranya adalah penerbitan Perpres Nomor 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia dan National Plan of Action on Marine Plastic Debris 2017-2025 (Mei 2017), Kampanye Combating Marine Plastic Debris serta Reduction Plastic Bag Production and Use, papar Safri.

Di Indonesia kini ada pengusaha yang menyelam ke dunia bisnis bioplastik, beliau menciptakan beberapa inovasi yang terbuat dari singkong, jagung dan juga tebu. Produk bioplastik memang sudah ada di pasar, namun United Nations Environment Programme (UNEP) tampak ragu akan industri tersebut.

Dalam laporan tahun 2015, Badan PBB itu menyimpulkan bahwa produk bioplastik cenderung lebih mahal dan tidak memainkan peranan utama dalam mengurangi sampah laut. Meski demikian, pejabat senior UNEP Habib El-Habr, yang bekerja pada perlindungan lingkungan laut, mengakui, bioplastik adalah "solusi inovatif" yang bisa menjadi bagian dari solusi jangka panjang.

Dengan adanya bioplastik sebenarnya Indonesia telah menemukan bagaimana cara untuk mengurangi sampah plastik. Hal ini tentu di apresiasi, karena melihat perkembangan digitalisasi dan perusahaan startup dan unicorn maka pemakian plastik semakin meningkat, plastik menjadi pakeging primoda untuk menarik konsumen.

Saat ini  pemerintah Indonesia mencoba menerapkan skema nasional, dimana toko-toko wajib mengenakan biaya pada pelanggan yang gunakan kantong plastik dari toko mereka. Skema ini telah diuji coba di berbagai kota dan telah berhasil mengurangi penggunaan plastik walupun hasilnya tidak terlihat signifikan karena masih tahap sosialisasi dan lagi berupaya untuk membuat regulasi dalam penggunaan plastik.

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, tetapi bangsa Indonesia tetap optimis untuk bisa mengurangi pemakaiang kertas dan menjadi negara teladan dalam pengelolaan sampah plastik di Asia.