Biografi dalam pengalaman literasi kita umumnya datang bersama nama-nama pesohor, karena itu cenderung menjadi kata yang berjarak dari cerita-cerita kecil. Setiap tempat dan benda, yang tentu saja menyimpan sebuah kisah, atau seseorang yang berarti tetapi bukan publik figur, seolah-olah tak layak dilekatkan dengan kata tersebut.

Begitu pula dengan kertas. Semenjak Michael H. Hart menerbitkan The 100, a Ranking of The Most Influential Person in History dan memasang Ts’ai Lun―sang penemu teknologi pembuatan kertas―pada urutan ke-7, cara dunia memandang biografi kertas hampir selalu tak terlepas dari narasi-narasi kolosal.

Kertas dipandang telah memberikan dampak yang signifikan pada perkembangan ilmu pengetahuan, ketegangan, dan pergeseran pusat hegemoni peradaban. Semulai Dinasti Kekaisaran di Cina, Daulah Abbasiyah di Timur Tengah, hingga Abad Pencerahan di Eropa; sejak Bible dicetak Johann Guttenber untuk pertama kali, peta dan catatan Columbus, sampai surat-surat Kartini.

Namun saya kira, cerita eksistensi kertas tak selamanya harus dikaitkan dengan hal-hal besar. Karena dalam perjalanan biografisnya: kertas tidak hanya hadir di meja-meja para intelektual, dalam laci-laci pejabat, sebagai lembar-lembar notula atau dokumen penting sejarah kekuasaan.

Kita tahu, kertas telah jadi bagian yang nyaris tak pernah absen dalam segala urusan sipil. Mulai yang personal sampai yang kolektif, sebagai bungkus gorengan di lapak pedagang sampai material artistik di studio seniman, dalam kejadian kecil yang memberi jeda bagi rutinitas sehari-hari hingga peristiwa langka yang bikin wajah merangkai pose-pose melankolia.

Memang sudah sejak lama, sebenarnya, kertas menjadi semacam podium populis yang memperkaya narasi-narasi alternatif kita. Bahkan telah dipakai sebagai instrumen self healing. Dalam kisah Sadako, misalnya. Gadis malang yang setelah sekian tahun perang dunia berakhir baru terdiagnosa mengidap leukimia sebab terpapar radiasi ledakan bom atom.

Di atas ranjang rumah sakit, pada hari-hari terakhirnya, gadis kecil itu bergiat melipat lembar-lembar origami. Melalui kesibukan tersebut―pula mitologi seribu bangau―dia menemukan kesanggupan untuk berlagak tenang terhadap jemputan ajal yang kian dekat. Kertas seolah memberinya cara berdoa yang menyenangkan dan asupan kekuatan batin untuk terus menggenggam harapan.

Tentu masih kita ingat juga, selembar resep kebahagiaan Einstein yang dia berikan sebagai pengganti tip pada seorang pelayan hotel yang seabad kemudian terjual seharga 17 miliar rupiah atau, yang tak sempat viral: selembar “contekan Lehmann”―berisi kecenderungan arah tendangan pinalti sejumlah pemain Argentina―yang dianggap turut berperan meloloskan Jerman ke semifinal.

Sepanjang penyelenggaraan World Cup, Argentina memang tim yang dikenang masyarakat Jerman dengan kepahitan tersendiri. Pasalnya, sudah dua kali Jerman gagal membawa pulang trofi juara setelah dikandaskan Argentina di partai final.

Anda tentu tahu, itulah mengapa, usai laga yang mendebarkan tersebut, masyarakat Jerman sampai tumpah ruah ke jalan untuk merayakan sebuah kemenangan semifinal. Kertas "contekan Lehmann" pun jadi fenomenal, bahkan sempat dilelang.

Namun rasanya tetap sukar buat percaya, kecuali dengan penerimaan yang komikal, bahwa kertas contekan tersebut kini dikoleksi oleh Haus Der Geschichte di kota Bonn. Sebuah museum tentang sejarah kontemporer Republik Jerman yang dikunjungi hampir satu juta orang setiap tahunnya.

Narasi-narasi alternatif semacam di atas, dalam era serbavirtual sekarang ini, masih eksis mewarnai perjalanan biografis sebuah kertas. Di Indonesia, pada Juni 2017, pengelola bandara Soekarno-Hatta sempat dibuat gemas lantaran masyarakat sekitar landasan menerbangkan layang-layang sebagai bentuk protes.

Inisiasi mengganggu penerbangan tersebut, mungkin, akan mengingatkan sebagian kita pada fungsi layang-layang pada permulaannya. Namun peristiwa langka itu, saya kira, hanya momentum perjumpaan antara keseharian dan klimaks sebuah permasalahan.

Pasalnya, penduduk RW 15 Desa Rawa Rengas yang melancarkan aksi tidak tahu-menahu bahwa layang-layang pada era Tiongkok kuno merupakan instrumen perang yang ditakuti. Yang mereka tahu: ganti rugi penggusuran lahan dan bangunan sebagai imbas pelaksanaan proyek runway 3 tak kunjung cair.

Sukar memercayai bahwa memori kolektif sebagian besar masyarakat kita menyimpan citra ratusan layang-layang―dilengkapi senar atau batang bambu kecil penghasil siulan angin, serbuk racun, pula aksesori horor berupa rumbai-rumbai dan petasan―yang dalam sebuah peperangan ditafsirkan oleh pihak musuh sebagai senjata ajaib milik dewa-dewa.

Dari insiden tersebut (kertas yang jadi medium ekspresi kolektif), ada hal memukau, dan rasa-rasanya dapat kita pahami: supremasi imaji―yang tak hanya bisa diakses oleh sosok seperti Garcνa Mαrquez, sang karib Fidel Castro yang masyur dengan One Hundred Years of Solitude-nya itu. Namun juga oleh orang biasa, melalui lembar murah meriah yang dalam penyebutan nusantara bernama daluwang.

Seperti yang dilakukan oleh seorang guru Australia di perairan Pulau Komodo. Dilansir The Telegraph 15/06/2012, ia melempar message in a bottle berisi sebuah pertanyaan yang saya kira tak mendesak atau menggugah penemu untuk menjawab. “Kami duduk di balkon sembari merenung. Apakah lebih baik mencintai atau dicintai?” tulis perempuan bernama Anne O’Sullivan tersebut.

Lebih setahun kemudian, seseorang meneleponnya dari KwaZulu Natal, Afrika Selatan. Sekitar 5.600 mil dari lokasi pelemparan. “Saya menemukan botol Anda. Lebih baik dicintai,” jawab sang penemu pesan, Fiona Marlton. “Tapi untuk dicintai, Anda harus mencintai.”

Surat Anne memang bukan hal yang sisi ajaibnya perlu dipercaya dengan tegang. Siapa pun punya peluang untuk menjadi Anne atau Fiona, yang menginginkan suatu peristiwa tanpa menaruh beban ke dalam harapan-harapannya.

Namun, persabatan antarbenua yang kemudian terjalin Anne dan Fiona juga bukan kenyataan yang dengan gampang bisa dianggap biasa. Apalagi untuk sebuah kisah yang memula hanya dari selembar kertas. Ada yang tetap kecil, namun terasa kian berharga.

Begitulah hebatnya “adegan biografis” yang terjangkau kehendak sehari-hari. Dekat dan menguatkan, ringan namun memulihkan, sekaligus memberikan penjelasan tentang mengapa kita mesti setuju bahwa cara terindah mencintai keluh kesah adalah dengan merenungkannya.

Melalui perjalanan selembar kertas, kita mengerti, bahwa biografi tak selalu memuat narasi-narasi super dengan sekian informasi heroik yang tak jarang membuat para pembaca terkecoh kemudian tergiur untuk menggelembungkan diri. Sebuah biografi kadang hanya memuat semacam resep ketahudirian, untuk berterima kasih atau bersikap wajar, kepada hidup yang tak selamanya sanggup kita pahami.