Ali Syariati adalah tokoh revolusioner, filsuf, sosiolog Islam yang hebat, berpengaruh dalam studi sosiologi. Pemikiran Ali Syariati yang bersumber dari Al-Quran banyak mempengaruhi jagad intelektual Indonesia terutama menjelang runtuhnya rezim orde baru.

Salah satu konsep pemikiran Ali Syariati yang populer adalah tentang sosok pelaksana revolusi yang berkali-kali ia sebut di dalam bukunya, sosok revolusioner tersebut bernama Raushan Fikr. Seorang Raushan Fikr memiliki tujuan membangkitkan kesadaran diri, mengubah rakyat yang statis menjadi kekuatan yang dinamis dan kreatif.

Ali Syariati juga dikenal sebagai pemikir yang senantiasa menerapkan pola berpikir kritis dan inovatif, sebagai langkah awal membentuk perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik. Syariati menjadi figur pahlawan yang mendorong masyarakat untuk berani mengatakan tidak pada pemimpin yang zalim.

Ali Syariati merupakan anak pertama dari keluarga Muhammad Taqi dan Zahra. Beliau dilahirkan pada 23 November 1933 di sebuah desa kecil di Kahak atau Mazinan dekat kota Mashad di Iran. Beliau merupakan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya, bersama dengan tiga orang adik perempuannya yang bernama Tehereh, Teyebah dan Batul Afsanah.

Keluarga Ali Syariati adalah keluarga yang mencintai ilmu pengetahuan. Moyangnya ‘Allama Bahmanamadi mengajarkan ilmu kalam, filsafat dan fiqh kepada Akhun Hakim, kakek dari pihak ibu yang tekun, disiplin dan berani. Paman beliau juga tokoh agama, merupakan murid seorang ulama mahsyur Adip Nisyapuri.

Ayah Ali Syariati yaitu Aqa Muhammad Taqi Syariati adalah seorang guru besar, mujtahid dan pendiri “Pusat Da’wah Islam” di Mashad dan salah seorang pemuka gerakan intelektual Islam di Iran. Dalam pengakuannya, Ali Syariati berkata: “Ayahku lah yang membentuk dimensi-dimensi pertama bathinku. Ayah memberi kepadaku cita kemerdekaan, mobilitas, kesucian ketekunan, serta keikhlasan. Bagiku dia merupakan sari masa lampauku yang manis dan indah”.

Pendidikan dari rumah benar-benar membentuk jiwa dan kepribadian Ali Syariati sebagai seorang yang humanist mementingkan nilai kemasyarakatan. Pada musim semi tahun 1941, sebulan setelah sekutu menginvasi Iran, Ali Syariati memasuki tahun pertama di sekolah dasar swasta Ibnu Yamin. Di sekolah inilah ayahnya bekerja sebagai direktur studi.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar pada September 1947, Syariati memasuki sekolah menengah Firdausi di Masyhad. Pada periode ini sejak tahun pertamanya Ali Syariati mulai menyenangi filsafat dan mistisme. Tahun 1950, atas permintaan ayahnya ia mengikuti ujian di Institut Keguruan.

Ketika diterima di Institut Keguruan, semua pengeluaran termasuk asrama dan SPP dibayar oleh pemerintah. Mahasiswa juga mendapat uang saku sebanyak 80 real setiap bulan, dan Institut ini memberlakukan aturan serta regulasi yang ketat. Ali Syariati banyak terlibat dalam aktivis budaya yang diorganisir oleh mahasiswa.

Saat berumur 18 tahun ia memulai karirnya sebagai seorang guru sekaligus mahasiswa. Tahun 1958 Ali Syariatu meraih gelar BA dalam bahasa Arab dan Perancis, serta memenangkan beasiswa untuk belajar di Perancis. Pada tahun 1959 atau  1960 Ali Syariati mulai berkuliah di Universitas Sorbone Paris dengan mengambil bidang spesialisasi sosiologi dan berhasil meraih Doktor pada 1964.

Selama di Perancis, Ali Syariati terlibat langsung dalam dialog yang intensif dengan pemikir Barat terkemuka, seperti Prants Panon, Jean Paul Sartre, Gures Gurevich, Henry Bergson, Albert Camus, dan Louis Massignom. Meski demikian Ali Syariati tidak menelan mentah-mentah pemikiran dari mereka.

Dalam berbagai karyanya, Ali Syariati banyak mengkritik serta mengemukakan kelemahan dan hal-hal yang bersinggungan dengan pemikiran Barat. Selama disana ia menjadi seorang pemikir yang radikal dalam isu-isu tentang dunia ketiga. Lebih jauh, Syariati banyak terlibat dan aktif dalam kehidupan dunia politik, dan bersama-sama dengan Mustafa Chamran dan Ebrahim Yazdi mendirikan gerakan kebebasan Iran diluar negeri.

Baca Juga: Ibnu Batutah

Pada 1964, ketika kembali ke Iran setelah studinya selesai, Syariati disambut di Bazargan, perbatasan Iran dan langsung dipenjarakan oleh rezim penguasa karena tuduhan bahwa selama di Perancis ia terlibat dalam kegiatan politik yang menentang dan membahayakan kedudukan Syah. Setelah enam bulan, ia dibebaskan dan bertugas sebagai pengajar di sekolah lanjutan dan di Akademi Pertanian.

Ali Syariati mengajar di almamaternya pada 1965 di Universitas Masyhad. Peluang ini secara intensif digunakan untuk menyebarkan ide-ide baru tentang Islam dan kemasyarakatan untuk kemajuan negeri, masyarakat dan agama, terutama membina kalangan generasi muda. Hal tersebut membuat Ali Syariati polpuler di kalangan mahasiswanya dan berbagai lapisan masyarakat.

Tahun 1970-an merupakan dekade penting penentangan yang dihadapi oleh Ali Syariati. Beliau ditentang keras oleh golongan ulama tradisional lantaran pendekatannya memaknai semula Islam yang dilihat ‘tersimpang’ dari ajaran tradisional.

Setelah Ali Syariati berhasil membentuk intelektual revolusioner, Syariati merubah wacananya dari membangkitkam kesadaran, ke mengajak melakukan aksi dan pemberontakan politik. Namun saat mimbar dan audien setianya semakin banyak, Syariati dipaksa bungkam dan menjauh dari arena sosial-politik.

Ketegangan hubungan antara kerajaan dengan gerakan-gerakan ini mengakibatkan beliau di penjara selama 18 bulan di Komiteh. Tahun 1975 organisasi internasional, kalangan intelektual Paris dan Al-Jazair membanjiri Teheran dengan petisi untuk membebaskan Ali Syariati, pihak pemerintah kemudian terpaksa membebaskan Syariati  tanpa pernah diadili.

Bulan 16 Mei 1977 ia berangkat meninggalkan Iran menuju Inggris dikarenakan tekanan yang tinggi dari semua lini. Empat  minggu setelah Syariati meninggalkan Iran pada 19 Juni 1977 beliau disahkan meninggal dunia karena penyakit jantung. Jasad Syariati ditemukan tergeletak di lantai sebuah rumah yang disewanya di Southampton. Pada 26 Juni 1977, jenazah Syariati dimakamkan di Damaskus Syiria.

Ali Syariati merupakan pemikir yang produktif, bukan hanya dalam segi orasi tetapi juga dalam menulis. Ide-idenya diwujudkan dalam tindakan nyata dan dalam beberapa buku diantaranya: A Waiting the Religion of Protest, Islamshenasi, A Glance at Tomorrow’s History, An Approach to Understanding of Islam, Hajj, Kavir, Man and Islam, On the Sosiology of Islam, Religion Versus Religion, What Is To be Done?, The Englinhtened Thinker and Islamic Renaisanse, dan Red Syi’ism and One Followe by Eternity of Zeroes. Selain itu ada karya Syariati yang berbentuk terjemahan dan manuskrip.

Dalam diri Syariati terbentuk kuat semangat keagamaan dan keilmuan, seingga Syariati mampu mengeksplanasikan bahwasanya agama bukan hanya spiritual, akan tetapi juga bersifat sosial, nilai kebenaran yang diperjuangkan untuk mencapai keadilan merupakan ijtihad. Sejatinya Islam tidak hanya memperhatikan dunia spiritual, tetapi dunia materi sekaligus.

Meskipun teori-teori Ali Syariati berorientasi kepada Islam, akan tetapi dasar epistemologis, filosofis dan sosiologisnya sangat kuat dan tumbuh dari dialektika pengalaman dan pemikiran terus-menerus.

Dapat dikatakan bahwa Ali Syariati adalah seorang muhajir Muslim yang bangkit dari lubuk terdalam spiritualisme Timur dan berhasil mencapai puncak sains tersebut, untuk kembali kepada masyarakatnya dan membawa mutiara keilmuan.

Baca Juga: Nietzsche