Industri kelapa sawit adalah industri  yang cukup menjanjikan di Indonesia. Kelapa  sawit yang menghasilkan minyak mentah untuk diolah menjadi minyak goreng, mentega, biodiesel, dan lain-lain sangat dibutuhkan banyak masyarakat. Meningkatnya kebutuhan masyrakat akan minyak sawit ini membuat industri kelapa sawit semakin berkembang. Banyak hutan-hutan hijau telah diubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. Hutan yang menjadi tempat tinggal berbagai satwa ini telah berubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit yang dapat memenuhi kebutuhan minyak sawit.

Jika hutan-hutan di Indonesia terus  dialih fungsikan untuk membangun perkebunan sawit dan pabrik sawit maka luas hutan hijau di Indonesia akan semakin berkurang. Selain itu industri sawit juga menghasilkan banyak limbah. Diketahui untuk 1 ton kelapa sawit akan mampu menghasilkan limbah berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang (Shell) sebanyak 6,5% atau 65 kg, wet decanter solid (lumpur sawit) 4 % atau 40 kg, serabut (Fiber) 13% atau 130 kg serta limbah cair sebanyak 50% (Mandiri: 2012).

 Dari ke empat limbah padat tersebut limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dapat dihasilkan jumlahnya cukup besar yaitu sekitar 126.317,54 ton/tahun (Mandiri: 2012), namun kebanyakan pabrik sawit hanya memanfaatkannya untuk bahan bakar atupun tempat perkembangbiakan jamur, padahal tandan kosong kelapa sawit ini berpotensi untuk diolah menjadi bioetanol yang sangat bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan masyarakat akan energi fosil.

Energi fosil merupakan energi yag tidak terbaharukan, disisi lain energi fosil juga menyebabkan pencemaran lingkungan yang cukup parah. Fotosintesis yang terjadi pada kelapa sawit membuat kelapa sawit dapat menghasilkan gula (C6H12O6 ). Tandan kelapa sawit pun mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Senyawa-senyawa itu membuat tandan kosong kelapa sawit berpotensi untuk diolah menjadi alkohol. Setelah itu diolah menjadi bahan bakar yang beragam salah satunya bioetanol.

Pembuatan bioetanol dari limbah tandan kosong kelapa sawit lebih efektif dibandingkan hanya menggunakannya sebagai pupuk dan media pertumbuhan jamur. Selain bisa mengurangi ketergantugan masyarakat akan ketergantungan energi fosil juga dapat meningkatkan perkonomian masyarakat karena bahan dasar pembuatan bioetanol didapatkan secara gratis, yaitu memanfaatkan hasil limbah industri sehingga tidak mencemari lingkungan.

Berkembangnya Industri kelapa sawit yang membuat hutan-hutan di Indonesia menjadi area perkebunan dan pabrik  sawit memang merugikan satwa-satwa yang tinggal di hutan karena mereka kehilangan tempat tinggalnya. Orang utan, harimau, dan satwa satwa lainnya kehilangan habitat dan makanannya akibat hutan yang terus dibakar untuk membuka lahan industri. 

Satwa-satwa yang sudah kehilangan habitat dan makanannya itu pergi ke pemukinan warga yang banyak sumber makanan dan minuman. Mereka tak tahu kemana mereka harus pergi, kemana mereka harus berlindung, bukankah manusia yang membuat mereka kehilangan habitat dan makanannya di hutan?. Dalam mengembangkan industri kelapa sawit harus memerhatikan dampak industri pada lingkungan sekitar. Pihak industri kelapa sawit harus memperhatikan dampak industri pada lingkungan, selain itu limbah kelapa sawit tak boleh dibiarkan begitu saja karena akan mencemari lingkungan.

 Pengolahan limbah kelapa sawit menjadi sesuatu yang bermanfaat harus diperhatikan oleh pihak industri. Selain itu industri kelapa sawit juga tak boleh sembarangan dalam membuka lahan industri di hutan, pembukaan area hutan untuk area industri sawit harus mendapatkan surat ijin dari pemerintah sehingga industri kelapa sawit bersifat legal. Selain itu ketika membuka lahan, penebangan pohon-pohon harus diperhatikan. Pohon-pohon yang sudah tua sajalah yang ditebang. 

Selain itu pihak industri harus melakukan penanaman kembali agar pohon-pohon baru dapat tumbuh dan menjadi habitat bagi satwa-satwa di hutan. Dengan itu kelangsungan hidup satwa-satwa di hutan tidak akan punah begitu saja karena kehilangan habitatnya. Selain itu satwa-satwa di hutan tidak akan masuk ke pemukiman warga untuk mencari makanan karena di habitat aslinya mereka kehilangan makanannya.

Kesadaran industri kelapa sawit untuk mengembangkan industri yang ramah lingkungan sangatlah penting, tanpa adanya kesadaran para pekerja industri sawit, industri kelapa sawit akan mencemari lingkungan. Penelitian dan riset dalam perusahaan untuk membuat industri sawit ramah lingkungan harus terus dikembangkan agar muncul berbagai solusi untuk mencegah dan mengatasi dampak industri sawit pada lingkungan sekitar.

Sinergi para perusahaan kelapa sawit untuk mengolah limbah kelapa sawit akan mebuat perekonomian Indonesia lebih baik, meningkatkan produktivitas masyarakat, menciptakan industri yang berbasis lingkungan, dan yang utama adalah mengurangi ketergantungan masyarakat dalam menggunakan bahan bakar fosil yang menyebabkan pencemaran lingkungan.

Untuk mewujudkan pengoptimalan limbah tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan utama pembuatan bioetanol di Indonesia, maka dibutuhkan peraturan yang mengatur pengolahan limbah kelapa sawit, jika perusahaan belum mampu mengolah limbah kelapa sawit secara mandiri maka negara harus menyediakan industri khusus yang mengolah berbagai jenis limbah kelapa sawit untuk diolah menjadi bioetanol, sehingga persediaan bioetanol semakin meningkat karena bioetanol yang diolah dari limbah kelapa sawit dapat diproduksi dalam skala besar.

Perlu diadakannya sosialisasi pembuatan bioetanol di Indonesia sangat diperlukan agar masyarakat paham dalam pengolahan dan penggunaan bioetanol dengan tepat sehingga ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap bahan bakar primer, yaitu BBM dapat dikurangi dengan adanya bahan bakar nabati dari limbah kelapa sawit. Namun tidak boleh berhenti sampai situ saja. Perusahaan-perusahaan kelapa sawit di Indonesia juga harus melakukan riset dan mengembangkan produksi olahan limbah kelapa sawit  di Indonesia agar dapat diproduksi dalam skala besar dan dapat menjadi produk digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Jika bioetanol limbah kelapa sawit terus dikembangkan, maka urbanisasi masyarakat desa ke kota akan berkurang. Karena, di desa mereka masing-masing sudah memiliki pasokan bahan pokok pembuatan bahan bakar nabati. Mereka tak perlu lagi ke kota hanya untuk mendapatkan bahan bakar sebagai stok bahan bakar transportasi di desanya. Dengan membudidayakan bioetanol di Indonesia ini maka masyarakat Indonesia dapat berpartisipasi aktif untuk meminimalisir penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu pihak perusahaan kelapa sawit juga bias mempekerjakan orang-orang yang  berada di sekitar area industri yang bermanfaat untuk meningkatkan perekonomian dan mengurangi pengangguran di Indonesia.

Industri kelapa sawit yang peduli lingkungan harus menjaga komitmen  3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara konsisten yang sudah dilakukan di internal perusahaan, program yang menuntut setiap individu di lingkungan perusahaan melakukan pengelolaan dan pemilahan sampah dan meminimalkan limbah. Selain itu industri kelapa sawit juga harus mempunyai sistem pengolahan limbah cair, dimana limbah cair diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sehingga outlet sesuai dengan standar baku mutu sesuai peraturan sehingga aman bagi lingkungan. ( indaco.id ). Industri sawit berkembang, kelangsungan ekosistem hutan terjaga!.


Daftar Pustaka:

Mandiri.  Manual  Pelatihan  Teknologi  Energi Terbarukan. Jakarta.

Kamal, Netty. Karakterisasi Dan  Potensi Pemanfaatan  Limbah Sawit pengajar Teknik Kimia. Bandung: ITENAS. Diakses pada 5 Mei 2017 pukul 9.10 a.m

http://www.astra-agro.co.id/index.php/id/perkebunan-kelapa-sawit-yang-ramah-lingkungan

http://manfaat.co.id/manfaat-limbah-kelapa-sawit 8.33 7

http://www.hukumpedia.com/pistasimamora/salahkah-jika-hewan-bermain-di-perkampungan-warga

https://indaco.id/news-detail.php?id=12

https://www.itb.ac.id/news/read/4382/home/dosen-teknik-kimia-itb-hasilkan-bioetanol-dan-xilitol-dari-limbah-kelapa-sawit

https://indaco.id/news-detail.php?id=12