Pagi itu, dari ruang belakang, Mandra sibuk mempersiapkan kepergiannya ke Belanda bersama Si Doel (Rano Karno). Sahut-menyahut celetukan dan ledekan dengan Atun (Suti Karno) segera memecah suasana. Sementara, Zaenab (Maudy Koesnaedi) membantu Doel berkemas di kamar. Nyak (Aminah Cendrakasih) berpesan agar Doel tidak mencari-cari Sarah (Cornelia Agatha) di negeri Belanda. Segmen awal film ini sukses membangkitkan nostalgia 20an tahun lalu.

Si Doel diminta Hans (Adam Jagwani), sahabat lamanya ke Amsterdam. Alasannya, untuk mengantar pernak-pernik Betawi yang akan dijual pada festival kebudayaan di Belanda. Setelah 14 tahun ditinggal istrinya, Sarah, kini Doel berumah tangga dengan Zaenab.

Ternyata kepergian Doel alias Kasdullah direncanakan oleh Sarah. Putra Kasdullah, yaitu Dul alias Abdullah (Rey Bong), ternyata merindukan sosok ayah. Zaenab yang akhirnya mengetahui bahwa Hans adalah sepupu Sarah menjadi rindu, resah dan cemas di Jakarta.

Di seberang sana, Doel, Sarah dan Dul, berhadapan dengan kecamuk perasaan rindu, galau marah dan ikhlas sekaligus. Sementara, Mandra antusias sekali pergi ke luar negeri. Sekalipun ia tak bisa beradaptasi sepenuhnya dengan dunia Barat. Benturan tingkah laku Mandra menghadapi modernitas dunia Barat menghasilkan tawa segar. 

Naskah cerita Si Doel The Movie dirancang sederhana. Walaupun sebenarnya menyimpan potensi untuk dibuat lebih rumit. Skenario film ini masih menjalin kisah cinta segitiga yang dibumbui interaksi komedik khas keluarga tradisional Betawi. Tidak ada teknik-teknik pengambilan gambar dan suara yang membuat decak kagum.

Latar tempat dan properti seperti rumah khas Betawi, warung dan oplet berhasil menghadirkan suasana nostalgia bagi penonton lama Si Doel. Sekaligus memperkenalkan tradisi Betawi bagi penonton baru yang lahir di era millennium.

Sebenarnya, kesederhanaan naskah cerita tidak harus jadi masalah. Karakter Si Doel sejak dulu memang bersahaja.  Namun film ini memang mengalami defisit kualitas akting Rano Karno sebagai si Doel   

Tampaknya, film ini mengajak penonton berusaha menyelami perasaan Si Doel lewat ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Bila melihat karakter Si Doel dalam sinetron puluhan tahun lalu, pilihan untuk “mendiamkan” Doel memang masih wajar.

Doel bukanlah sosok yang banyak bicara. Namun air muka dan akting tanpa katanya pun di film ini tidak cukup menarik penonton ikut marasakan keresahan suami dan ayah yang lama tak bertemu keluarganya.

Setidaknya ada dua momen di mana naskah cerita gagal mengaduk-aduk emosi penonton. Pertama, kala Sarah pertama kali bertemu Doel. Bertahun-tahun ditinggalkan istri dalam keadaan hamil, tidak ada percakapan penuh emosi di antara keduanya. Praktis hanya seperti teman lama yang bertemu tapi punya ganjalan masalah.

Kedua, saat Doel besar bertemu Doel kecil di meja makan. Ada tiga karakter penuh emosi di sana. Kasdullah, Sarah dan Abdullah (putra si Doel). Namun rasa rindu campur benci dan bingung tidak diledakkan hingga klimaks.

Interaksi Mandra dan Atun yang menyelamatkan semuanya. Bagi penonton pertama, percakapan spontan Mandra dan Atun mampu memperkenalkan mereka pada interaksi tradisional orang Betawi dengan wajar. Bagi penonton lama, interaksi keduanya berhasil membangkitkan memori seru Si Doel versi sinetron puluhan tahun lalu.

Menonjolnya aksi Mandra, berikut dengan interaksinya dengan Atun, mampu menambal kehilangan aktor-aktor ikonik Si Doel seperti Benyamin Sueb (Babe Sabeni), Haji Tile (Engkong) dan Basuki (Mas Karyo). Almarhum aktor-aktor tersebut adalah bagian dari motor utama yang membuat penonton sinetron Si Doel tertawa terbahak-bahak puluhan tahun lalu.

Malah, bisa disebut, aksi komedik Mandra yang ikonik, mampu menyingkirkan Doel sebagai figur utama. Bahkan akting menonjol Mandra membuat aspek komedi dalam film ini lebih menghibur dibanding aspek dramanya. Sekalipun film ini dirancang sebagai film drama.

Dengan segala reaksi spontan, keluguan dan sifat nyablak Mandra, rasa komedi Si Doel The Movie mampu membuat penonton tertawa lepas. Bahkan, Si Doel jauh lebih menghibur dibanding film komedi box office Warkop Reborn: Jangkrik Boss Part 2.

Di tengah keterbatasan fisiknya, Aminah Cendrakasih mengesankan penonton sebagai Nyak. Terasa sekali hasrat besarnya sebagai pemain. Dengan lancar ia mampu menyajikan dialog-dialog yang mengingatkan penonton pada karakter Nyak puluhan tahun silam.

Lama bermain teater, ternyata berhasil menambah bobot kualitas akting Cornelia Agatha sebagai Sarah. Emosi Sarah sebagai orang tua tunggal yang bertemu suami setelah belasan tahun, cukup aman disajikan Cornelia Agatha. Perasaan harap-harap cemas pun cukup alami ditampilkan Maudy Kusnaedy sebagai Zaenab.   

Secara umum, Si Doel The Movie bukan film yang memuaskan. Kualitas akting Rano Karno sama sekali tidak terlihat di sini. Cukup mengecewakan bila melihat jam terbangnya sebagai aktor. Perannya boleh dibilang tenggelam oleh bintang Mandra.

Untungnya, kekuatan akting Mandra lengkap dengan segala celetukan dan tingkah “kampungan”nya mampu mengurangi kekecewaan penonton.Sekalipun mencapai satu juta penonton dalam seminggu pertama penayangan, Si Doel The Movie bukan film yang kualitasnya mengesankan.

Official Trailer Si Doel The Movie (2018)