Awal mula berkenalan dengan kertas

Masih lekat dalam ingatanku ketika hidungku mencium bau kertas koran pada waktu usiaku belum genap lima tahun. Dengan ekspresi lugu, aku memandang setiap orang dewasa yang sibuk berdiam diri dengan khusuk menghadap ke selembar kertas berukuran besar setengah meja makan. Belakangan aku baru tahu nama kertas besar itu adalah koran.

Setiap pagi bapak pengantar koran dengan sepeda ontelnya melempar gulungan koran kedalam pekarangan rumah kami dan segera diambil untuk dibuka selebar-lebarnya oleh ayahku. Sejak saat itu waktu seakan akan berhenti sejenak, karena ayahku akan sibuk berkhidmat dengan koran dihadapannya.

Aku hanya bisa duduk terdiam ditemani boneka dan bermain seorang diri sambil menunggu ayah selesai membaca koran. Seusai ayah membaca koran ia akan melanjutkan bermain denganku dan segera bergegas mengambil tas kerjanya untuk pergi ke kantor. Sementara ibu setelah selesai dengan pekerjaan rumah tangga akan mengambil koran yang tadi telah selesai dibaca ayah.

Seperti ayah tadi , ibu pun akan membuka serta membolak balik halaman koran dengan sikap berkhidmat pula. Sungguh suatu pemandangan yang aneh dalam pikiranku saat itu, tentang bagaimana beberapa lembar kertas ukuran besar mampu membuat orang dewasa diam membisu seperti terhipnotis dengan tatapan bola mata yang naik turun menyapu halaman kertas koran tersebut. Rasa penasaran itupun aku coba tanyakan pada ibu, dan ibu pun menjawab bahwa ia sedang membaca aneka berita di koran.

Bingkai Perjalanan pada  Kertas Pertama

Berkenalan dengan huruf adalah langkah awal untuk dapat menulis. Melihat benda, mengenal warna, menghafal nama benda adalah langkah selanjutnya untuk menggambar, mewarnai dan bercerita. Akhirnya pengalamanku dengan kertas dimulai. Ibu sering membelikan berlembar-lembar kertas polos, satu buku tulis dan satu buku gambar beserta peralatan tulis dan crayon. “Tulis dan gambarlah apa yang ingin kau gambar.” Begitu perintah ibu padaku. Maka sejak itu aku akrab dengan kertas.

Hari demi hari ibu dengan tekun mengajariku untuk menulis, membaca serta merangkai huruf demi huruf menjadi kata lalu menjadi kalimat di selembar kertas dan buku tulis. Ayah tidak ketinggalan sering mengajariku menggambar di selembar kertas serta mewarnai buku bergambar yang hampir setiap hari dibelinya di toko buku. Hasilnya aku sudah lancar membaca, menulis serta menggambar sebelum duduk dibangku taman kanak kanak.

Sampai suatu ketika, awal pertama penerimaan siswa baru, aku diajak ibu dan ayah mendaftar sekolah taman kanak kanak dekat rumah. Aku melihat ibu menenteng map merah berisi tumpukan berkas-berkas kertas asli serta fotocopiannya. Mulai dari kartu imunisasi, foto copi ktp ayah ibu sampai akta kelahiranku.

Aku menyaksikan bagaimana orangtua temanku tergesa-gesa kembali kerumah mereka untuk mengambil berkas data yang tertinggal saat pendaftaran sekolah dimulai. Dan berkas data itu adalah akta kelahiran anak mereka. Inilah pertama kali aku menyadari betapa berartinya informasi seorang anak manusia yang tercantum di selembar kertas bernama akta kelahiran.

Ketika tahun ajaran sudah mulai aku mulai terbiasa dengan menulis dan menggambar di selembar kertas, buku gambar, serta buku tulis, yang merupakan bagian pengajaran yang diberikan ibu guru taman kanak-kanak. Dan saat kenaikan kelas lagi-lagi aku berkenalan dengan namanya buku laporan perkembangan siswa atau raport.

Berlembar-lembar kertas dengan tulisan sebagai isi dari raport menginformasikan perkembangan dan kemajuan atas prestasi sebagai siswa selama menempuh pendidikan di taman kanak- kanak tersebut. Ternyata banyak hal bisa didapatkan dari sebuah buku raport.

Terbiasa dengan kertas dan seterusnya tetap dengan kertas

Aku menjalani tingkat pendidikan formal dengan lancar dan tak kurang satu apapun. Setelah lulus dari taman kanak-kanak melanjutkan ke sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga pendidikan tinggi dan kertas sudah menjadi bagian dari hidupku. Mulai dari mengerjakan latihan, tugas sekolah, ujian akhir, skripsi sampai evaluasi hasil akhir.

Dari yang semula mengenal buku raport, semenjak di pendidikan tinggi aku mulai mengenal kertas dengan judul transkrip nilai. Disusul dengan ijasah, surat keteranga kelakuan baik, surat keterangan sehat dan beraneka rupa surat yang dilegalisasikan diselembar kertas berkaitan dengan informasi pada diriku. Semua informasi tersebut tertulis dengan nyata dan jelas diselembar kertas.

Aku sangat bangga ketika menjadi saksi atas keberhasilanku menyelesaikan pendidikan formal dan mendapat selembar kertas ijasah kelulusan. Akupun dapat menunjukkan pada orang lain mengenai bukti kelulusan yang disebut ijasah. Kertas-kertas yang sangat berharga seperti akta lahir, ijasah dan pasport adalah dokumen penting yang harus dijaga keberadaaannya, pesan kedua orangtuaku.

Karena untuk kertas berkategori penting tersebut tidak dapat diterbitkan dua kali jika hilang. Sebagai pengganti hanya akan mendapat copy sesuai asli. Maka akupun menjaga dengan sangat baik keberadaan dokumen kertas-kertas tersebut.

Lulus perguruan tinggi dengan berbekal selembar ijasah aku melamar dengan menulis curriculum vitae diselembar kertas. Dan ketika diterima bekerja lagi-lagi tetap berhubungan dengan aneka rupa jenis kertas. Sebagai tenaga pengajar aku disibukkan dengan pemberian tugas pada mahasiswa yang harus ditulis diselembar kertas.

Walaupun saat ini sudah masuk ke ranah digitalisasi tapi sebagai pengajar aku membiasakan mahasiswa untuk selalu bikin rangkuman atau note diselembar kertas sebagai bahan ujian. Hal ini kulakukan karena aku menyadari minat baca yang rendah pada mahasiswa saat ini. Maka jika materi kuberikan via email kelas, mereka harus membuat rangkuman untuk bahan open note melalui kertas saat ujian nanti.

Selesai dengan akhir dari semester dan setelah ujian akhir aku akan disibukkan dengan mengkoreksi hasil pekerjaan ujian mahasiswa guna mengevaluasi pemahaman mereka selama satu semester mengikuti mata kuliah yang kuampu.

Ketika mendapat rejeki untuk dapat mengangsur tempat tinggal sederhana maka lagi-lagi setumpukan kertas berupa dokumen-dokumen penunjang harus aku persiapkan dengan baik. Pun ketika aku kesulitan keuangan dan ingin meminjam hutang di suatu bank ternama, tak ketinggalan setumpuk kertas dokumen harus aku persiapkan untuk diserahkan pada tenaga analis bank tersebut.

Tak ketinggalan kiriman kertas tagihan kartu kredit dari bank tertentu  selalu rajin mampir ke tempat tinggalku setiap akhir bulan sebagai penginggat sisa hutangku.  Begitulah hari-hariku yang tiada hari terus berhubungan dengan aneka rupa kertas.

Bingkai perjalanan pada kertas terakhir

Segala sesuatu di dunia akan tiba masa akhirnya. Tidak ketinggalan dengan kertas yang selalu setia mendampingi aktifitas kehidupan manusia. Pada bagian ini bukan bermaksud ingin menghilangkan fungsi kertas. Karena sampai kapanpun fungsi kertas sebagai bukti hitam diatas putih yang bisa dipegang secara fisik dan sah secara legalitas, maka fungsi kertas tidak akan punah ditengah perkembangan ranah digital. Perjalanan terakhir dari kertas yang kumaksud disini adalah saat sang pemberi makna pada tulisan diatas kertas harus kembali ke tujuan semula.

Sekitar tahun 2008, ayahku meninggal dunia ditengah duka yang mendalam sebagai anak tertua aku mengambil alih semua urusan yang berkaitan dengan pemakaman. Tepat empat puluh hari setelah ayahku dimakamkan datanglah bapak ketua RT memberikan selembar kertas berjudul akta kematian yang telah selesai diuruskan beliau. Saat itu aku tersadar, bahwa inilah akhir perjalanan selembar kertas yang berisi informasi tentang selesainya perjalanan seseorang di dunia fana ini.

Kesimpulan dari bingkai perjalanan terakhir pada selembar kertas adalah ternyata kita semua manusia akan bernasib sama. Kita dapat memberi makna pada kertas sejak dilahirkan, menjalani proses kehidupan hingga saat kematian itu datang. Kita dapat melihat wujud dari kertas akta kelahiran, kertas ijasah sekolah sampai pendidikan tinggi, kertas piagam penghargaan, kertas kepemilikan asset, sampai kertas hutang.  Hanya satu kertas yang tidak dapat kita saksikan sendiri keberadaan wujudnya, yaitu kertas akta kematian diri kita sendiri.