Damar masih asyik dengan kopi hitam di tangannya, sambil matanya menatap dalam-dalam layar ponsel pintarnya yang hari itu memberitakan tingkah Presiden Jokowi. Kita harus hidup berdamai dengan COVID-19 untuk beberapa waktu ke depan, kata sang presiden.

Damar sudah tak ambil pusing lagi, bahkan menjurus ketidakpeduli—meskipun ia sendiri di sepersekian detik pertama mempertanyakan ‘kurang berdamai seperti apa lagi’ dirinya di tengah kondisi pandemi seperti ini.

Sejak lama, atau sejak ia menjadi mahasiswa, Damar paham ada perbedaan yang signifikan dalam penggunaan bahasa oleh politisi. “Berdamai” dengan wabah yang sudah merenggut nyawa ratusan ribu manusia di dunia dan membangkrutkan usaha bisnis sepatunya, dan bisnis-bisnis lainnya, cuma salah satu perwujudan dari sekian banyak contoh permainan bahasa oleh politisi.

Lainnya, Damar masih ingat ketika ia tertawa-sampai-batuk ketika mendengar, lagi-lagi, Presiden Jokowi berujar ada perbedaan dalam “mudik” dan “pulang kampung”. Perkataan sang presiden kala itu seolah-olah hanya bertujuan menghindar dari pertanyaan tajam Mba Najwa Shihab. Padahal, poinnya adalah pergerakan. Mau mudik atau pulang kampung, ‘kan sama-sama bawa virus pulang, pikir Damar.

Atau contoh lainnya sekitar seminggu lalu, ketika Boris Johnson, Perdana Menteri Kerajaan Britania Raya, memutuskan menggunakan kata “stay alert” ketimbang “stay at home”—yang kemudian berujung pada ramainya kritik terhadap pemerintahannya. Johnson dituding menyesatkan publik negeri Ratu Elizabeth itu dengan penggunaan slogan “tetap hati-hati”-nya. Damar kemudian, lagi-lagi, hanya tertawa-sampai-batuk saat itu.

Kali ini, diletakkannya ponselnya di meja, berganti dengan sebatang Surya 12 di jemarinya. Damar memikirkan bahasa dan kuasa di alam pikirannya.

Bagi Damar, bahasa bisa menjelma alat politik yang magis. Seorang politisi, tanpa latar belakang linguistik, sastra, atau bahasa sekalipun, bisa menciptakan definisi sendiri terhadap sebuah kata—lihat contoh kasus Bapak Presiden Jokowi. Pendefinisiannya pun sejalan dengan kepentingan mereka, kepentingan kekuasaan.

Damar menyelam lebih dalam. Ia melihat praktik permainan bahasa seperti ini bukan hal baru di Indonesia. Masa Soekarno, misalnya, dipenuhi kata-kata seperti “revolusi”, “nekolim”, “ganyang”, “kontra-revolusi”, “sikat”, atau penggunaan akronim-akronim khas masa demokrasi terpimpin, seperti “MANIPOLUSDEK”. Kata kunci pada masa ini adalah “revolusi”, mengesankan bahwa masyarakat Indonesia harus revolusioner sejak dalam pikiran untuk melawan musuh-musuh bangsa.

Lain lagi pada masa presiden daripada Soeharto. Bahasa pada masa orde baru diawali dengan kata kunci “pembangunan”. Dari sana, muncullah kosakata baru seperti “anti-pembangunan”, bukan lagi “kontra-revolusi”, “akselerasi ekonomi”, dan yang paling dikenal dan dikenang: “subversif”.

Damar yang makin larut dengan alam pikirannya, memikirkan tentang bahasa yang begitu berperan dalam menggerakkan massa dan membentuk perilaku masyarakat dengan penanaman ideologi penguasa. Bahasa adalah medium untuk mendominasi dan menguasai, pikir Damar. Dan akhirnya, sejak masa orde lama sampai saat ini, praktik politik kebahasaan seperti ini sudah menjadi kelaziman—walaupun tak selamanya bisa dibenarkan.

Bahasa dalam ranah politik adalah bahasa yang penuh ketidakjujuran. Bentuknya menjelma pada gejala kebahasaan—atau mungkin gejala kekuasaan(?)—dengan penggunaan eufemisme. Damar terusik dengan istilah sulit ini, tapi, toh ia tetap memikirkannya.

Eufemisme adalah saat ketika Damar berusaha menceritakan tentang Surti, temannya yang seorang pekerja seks dengan kata “tuna susila”, ketimbang menyebutnya sebagai lonte sekalian. Eufemisme ini berguna bagi Damar untuk menggantikan ungkapan yang dirasakanmya kasar, tidak menyenangkan, atau merugikan, dengan ungkapan yang lebih menyenangkan hati.

Politik dan kekuasaan, renung Damar, tentu punya tafsir beragam tentang kata seperti apa yang kasar, kata seperti apa yang menyenangkan hati, atau kata seperti bagaimana yang merugikan.

Dan, di tangan kekuasaan yang tanpa batas, eufemisme menjadi mimpi buruk. Penggunaannya bisa ditelusuri sejak masa orde baru, misalnya lewat penggunaan kata “penyesuaian harga” untuk menggantikan “kenaikan harga”, “kelaparan” diganti dengan “kurang makan”, atau “buruh” yang identik dengan perlawanan dan kaum kiri diganti dengan “karyawan”.

Di masa ini, pemerintah kita masih menggunakannya. Lihatlah kata “penggusuran” yang bisa diubah oleh mereka menjadi “relokasi” atau “keluarga miskin” menjadi “keluarga prasejahtera”. Sedangkan di Amerika, Presiden Reagan pernah mengganti kata “invasi” dari para jurnalis dengan “misi penyelamatan” di tahun 1983 ketika militer Amerika bergerak ke Grenada. Mengingatnya, Damar tertawa-sampai-batuk, lagi.

Damar sebetulnya tak suka dengan eufemisme—apalagi yang digunakan politisi. Tak ada kejujuran di dalamnya. Dan sebagaimana kata George Orwell, penggunaan kata-bahasa yang jelas dan bermakna memang tergantikan dalam eufemisme-di-ranah-politik dengan kata-bahasa yang mengaburkan, menyesatkan, atau tak bahkan bermakna sama sekali.

Damar mulai berpikir—setelah sebelumnya juga sedang berpikir—tentang betapa bahayanya distorsi bahasa ini pada masa krisis, seperti pada masa pandemi misalnya. Mudik-pulang kampung yang seenak-enaknya sendiri itu, misalnya, entah sudah berapa masyarakat yang dibingungkan karenanya.

Dan dampak kebimbangan di kondisi yang sulit tidaklah main-main. Wabah corona kemudian menyebar dengan enteng ke kantong-kantong pedesaan, tanpa hambatan. Lha, jadi presiden bertanggung jawab atas naiknya kasus positif covid di daerah-daerah, begitu maksudmu?—bunyi suara di kepalanya, di pikirannya sendiri.

Hidup berdamai dengan COVID-19 untuk menggantikan “new normal” yang malu-malu diucapkan presiden tanpa adanya sosialisasi mengenai apa itu new normal pun, bagi Damar, berdampak sangat serius. Sepertinya, masyarakat hanya berfokus pada “normal”-nya saja, dan mengasosiasikan kata tersebut dengan sudah pulihnya keadaan negeri. Sedangkan, kondisi bahkan belum pulih—bahkan memburuk, virus masih di luar sana, bebas-sebebasnya seperti mimpi para libertarian.

Batang Surya 12 yang kedua mulai diisapnya, kopi hitamnya sisa sedikit. Cukup untuk merenungi bahasa lebih lanjut, kata Damar. Lebih jauh di alam pikirannya, Damar membayangkan permainan politik bahasa yang lain; metafora. Penggunaan metafora mengawang pada sebuah virus berbahaya yang nyata dan saintifik, membuat banyak orang lengah—terlebih yang mengucapkan adalah seorang pejabat publik.

Kali ini, lagi-lagi, ia tertawa-sampai-batuk, mengingat seorang menteri yang sempat berkomedi soal sulitnya virus corona masuk ke Indonesia karena masyarakatnya menjadikan nasi kucing sebagai makanan. Atau komedi pejabat yang lain tentang betapa sulitnya virus corona masuk ke Indonesia masuk ke Indonesia karena “perizinan di Indonesia berbelit-belit.”

Tak terpikirkan oleh Damar sendiri, wabah yang saat itu menutup seluruh Kota Wuhan ditandingkan dengan sebuah makanan dari negeri Timur yang jauh. Dan, tak terpikirkan pula, wabah yang kemudian menyebar ke seluruh Bumi ini disamakan dengan izin membangun usaha, atau izin untuk membuat BUMN, atau izin untuk bisa menurunkan UKT di Undip—yang perizinannya berbelit.

Ia ingat kata-kata Susan Sontag dalam Illness as Metaphor (1978), tentang metafora yang dikaitkan dengan sebuah penyakit justru membuat orang-orang mudah abai pada bahaya yang sebenarnya—bahaya virusnya. Penggunaan metafora pada penyakit—apalagi sekelas pandemi—memberikan kekaburan pemahaman dan menghambat pemahaman yang rasional dan ilmiah soal virus tersebut, kata Sontag.

Dan ketika kembali mengingat menteri bapak-bapak yang diyakini Damar sangat aktif berbagi jokes di grup WA masing-masing itu, Damar tak mampu menahan tawa-batuk yang kesekian kalinya. Ia mengingat presiden. Ia mengingat pandemi. Ia mengingat sepatu-sepatu jualannya yang sudah membusuk di gudang. Ia mengingat bahasa. Ia mengingat kekuasaan.

Kemudian, ia mengingat seorang penyanyi yang namanya sama dengan Indonesia masa kolonial, saat mengandaikan ‘bagaimana jika ternyata virusnya adalah kita’.  Lagi-lagi,  ia tertawa, kali ini tak sampai batuk.