Waktu masih anak-anak, aku menghabiskan waktu liburan dengan membaca majalah anak atau komik bekas yang mamaku belikan dari pasar. Biasanya aku menemukan suatu hal baru atau sekadar informasi menarik dari masa lampau.

Sesekali aku merengek karena terlalu banyak menghabiskan uang untuk beli buku, majalah, komik, atau apa pun yang berbentuk kertas dengan tulisan menarik. Hingga aku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama, koleksi majalah anak-anak di rumah ada ribuan, beberapa komik pendekar Cina yang sesekali adegannya mengajariku sedikit lebih dewasa, dan puluhan novel berbagai judul.

Benda-benda kertas itulah yang menemani masa kecilku. Ketika bermain dengan teman sebaya, kurasa hanya menimbulkan malapetaka. Aku sibuk membaca dalam kesunyian di kursi panjang buatan ayah di bawah pohon jengkol.

Beranjak remaja, aku mengumpulkan majalah-majalah anak tersebut, menggunting bagian-bagian yang kusuka dan kujadikan kliping bersama teman-teman yang juga menyukai kertas. Bahkan salah satu klipingku waktu itu mengantarkanku menjadi Juara 2 Lomba Kliping Daerah Provinsi Riau tahun 2006. Sebagiannya kuantar ke Perpustakaan sekolah, yang mungkin masih ada sampai sekarang.

Entah apa jadinya kalau kertas tidak pernah ditemukan. Mungkin pola pikir dan apa yang kuketahui akan berbeda dari apa yang kumiliki saat ini.

Kupikir batu akan memiliki nilai jual lebih tinggi, begitu pula kulit hewan. Akibatnya mengerikan. Hewan-hewan punah lebih awal, bumi digali untuk dicari bebatuannya agar dapat di-slice dan dijadikan media pahatan. Dunia digital digantikan dengan dunia analog dan segala hal tidak ada yang praktis.

Bayangkan saja, ilmu pengetahuan, agama, bahkan sejarah diantarkan oleh kertas. Semua kemajuan dunia saat ini dipercepat dan dikarenakan kertas menjadi media berbagai kepentingan yang mengubah peradaban. 

Einstein menulis ide-ide gilanya, teori-teori yang mulanya banyak ditertawakan di atas sebuah kertas. Alquran tidak lagi dipahat maupun dilukis di atas kulit hewan. Kertas mengantarkan agama dari pintu ke pintu hingga seluruh keluarga Muslim. Begitu pula injil dan sebagainya.

Jika kertas tidak pernah ditemukan, maka diperlukan lemari besar tempat kita menyimpan dokumen negara, dokumen kelahiran, tanda hak milik properti, hingga tanda pernikahan yang bisa jadi tidak disebut surat nikah.

Segala hal yang kamu lakukan sekarang akan digantikan oleh aktivitas menyita waktu lainnya cuma karena belum ditemukannya kertas. Akibatnya, umur manusia yang amat pendek akan dipenuhi kegiatan-kegiatan tidak penting dan melelahkan. 

Kamu akan mati tanpa tahu internet, tanpa tahu novel favoritmu, hingga kamu tidak memiliki banyak foto kenangan sebab di era kertas tidak pernah ditemukan orang-orang mengandalkan pelukis dinding, persis seperti pahatan pada pyramid atau situs peninggalan orang-orang zaman prasejarah.

Tapi, kertas telah ditemukan. Hewan-hewan tidak punah lebih cepat, bebatuan tidak digali dan dipahat, kehidupan tidak sesulit yang telah digambarkan di atas tadi. Hanya saja, kita lebih sering tidak bersyukur dan melakukan hal-hal boros dalam hal penggunaan segala hal, termasuk kertas.

Mungkin hidup memang lebih mudah dengan telah ditemukannya kertas sebagai keperluan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, sampai kita lupa bagaimana jadinya jika kertas tidak pernah atau belum ditemukan. Dunia jauh lebih baik dengan ditemukannya kertas, benda tak berdaya yang acap kali disalahkan atas kerusakan lingkungan.

Sebenarnya bukan kertas yang salah perihal kerusakan lingkungan atau apa pun itu, melainkan manusia itu sendiri, yang berperilaku boros dan menginginkan hal berlebihan. Kita bisa menghemat, mengefisienkan penggunaan kertas apa pun itu. Mulai saja dari hal-hal kecil seperti jangan buang-buang kertas bekasmu, kumpulkan dan antar ke pusat daur ulang kertas.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengoptimalkan penggunaan kertas pada kehidupan sehari-hari. Kamu juga bisa selamatkan generasi masa mendatang dengan mengajarkan kebiasaan baik seputar kertas terhadap anak kamu, adik, atau siapa pun yang memerlukan edukasi.

Puluhan abad berlalu sejak kertas ditemukan, kita belum terlambat melakukan hal yang bermanfaat dan mengubah keburukan di masa mendatang. Kita juga punya kesempatan melakukan hal-hal menghancurkan bahkan mengantar peradaban pada era seperti kertas tidak pernah ditemukan yang telah dipaparkan di atas tadi. 

Semua hasil akhirnya tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini, rencanakan untuk besok, dan terjadi kemudian waktu.