Penikmat Diskusi
2 tahun lalu · 664 view · 4 menit baca · Agama holy-quran.jpg

Bila Alquran Tak Pernah Dibukukan

Apakah pernah sekali saja Anda membayangkan bagaimana jadinya bila Al-Qur’an tidak pernah dibukukan (di-mushaf-kan) sebagaimana yang kita kenal dan baca hari ini?

Pernah jugakah membayangkan bila Khalifah Umar Ibn Khatab tidak mau berijtihad untuk mendorong dan meyakinkan Khalifah Ustman dan Abu Bakar untuk mengumpulkan dan menyusun semua ayat yang Allah firmankan melaui malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad?

Dan apakah Anda semua meyakini secara sederhana bahwa Al-Qur’an memang akan dan sudah pasti terbukukan meski Khalifah Umar tidak pernah berijtihad untuk membukukannya?

Pertanyaan di atas akan menjadi sangat mudah dijawab ataupun sebaliknya, bergantung pada bagaimana Anda berkeyakinan. Pernah ada kawan saya yang berpendapat bahwa sesuatu yang tidak bisa kita mengerti dengan akal, maka cukup imani saja.

Pernyataan tersebut tidak keliru karena memang akal kita memiliki batas terutama dalam mencapai pemahaman tentang hal-hal yang bersifat transendental yang hanya bisa diyakini dengan ketulusan hati yang tidak dipaksa. Namun batas itu sendiri tidak pernah benar-benar jelas kita pahami.

Umat Islam dunia terbagi ke dalam berbagai macam kelompok pemikiran yang berbeda dan tumbuh diberbagai belahan dunia disebabkan perbedaan mereka dalam memahami Al-Qur’an. Bahkan di Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbanyak di muka bumi, sangat kaya dengan perbedaan yang sebetulnya bukan masalah berarti sebelum akhirnya perbedaan itu dijadikan alat legitimasi untuk saling menindas dan menghakimi sesama manusia saat ini.

Bayangkan kalau mereka tidak pernah membaca dan mengkaji Al-Qur’an, barangkali mereka akan menjadi makhluk paling berbahaya dalam sejarah semesta, atau mungkin sebaliknya – menjadi manusia yang memahami fitrahnya sebagai manusia seutuhnya karena tidak terpengaruh dengan “pembacaan” mereka yang kurang tepat terhadap Al-Qur’an.

Seringkali orang menjadikan ayat atau firman Allah sebagai alasan untuk melakukan suatu tindakan. Tentu bukanlah suatu masalah bila tindakan itu baik untuk maslahat umat manusia, namun menjadi sangat bermasalah bila apa yang mereka lakukan dengan menjadikan ayat Allah sebagai alasan untuk bertindak melanggar kemanusiaan semisal membunuh atau mendiskriminasi dengan kekerasan fisik, maka ini menjadi kajian yang tak akan pernah berhenti.

Hal ini tidak lepas dari perbedaan kemampuan umat dalam menterjemahkan firman Allah yang umumnya bersifat Syubhat. Maka bayangkan bila Mushaf Al-Qur’an yang telah ditulis tidak ada, mungkin tidak perlu adu argumen yang bersifat benar-salah secara universal.

Tidak perlu ada ajakan untuk mempercayai bahwa musuh terbesar umat Islam adalah Yahudi dan Nasrani yang mungkin saja banyak di antara kedua kelompok itu sendiri tidak pernah berpikir bahwa Muslim sedang memusuhi mereka.

Bayangkan kalau Al-Qur’an tidak pernah dibukukan, mungkin kelompok Muawiyyah akan sadar tindakan mereka dengan membantai keluarga Sayyidina Ali adalah menentang kemanusiaan dibanding dengan pendapat mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah takdir yang telah dituliskan oleh Allah di Lauhul Mahfudz.

Muslim Indonesia tidak akan lebih bernafsu untuk membalas dendam berkali-kali lipat pada eks Partai Komunis Indonesia (PKI) dan orang-orang serta pihak yang dianggap berafiliasi yang dikampanyekan sebagai Atheis (tidak ber-Tuhan) dengan faham komunisnya sehingga menjadi legitimasi tambahan setelah apa yang PKI lakukan terhadap kemanusiaan dan Pancasila yang penuh dengan konspirasi perebutan kekuasaan yang cukup ampuh dengan menjual ayat Allah.

Atau bumi Palestina juga tidak perlu dijadikan ajang tumpah ruah darah para mujahid mempertahankan tanah Al-Quds yang bisa saja dimiliki oleh tiga agama sekaligus dengan dialog yang lebih mementingkan kemanusiaan dibanding keyakinan terjemahan parsial pada ayat Allah untuk Syahid fisik dan menelantarkan anak istri yang sangat membutuhkan masa depan kehidupan yang lebih manusiawi.

Bayangkan bila Al-Qur’an tidak dibukukan, mungkin tidak perlu ada kelompok muslim yang mengkafirkan kelompok muslim lainnya yang sedang melakukan ijtihad sebagaimana yang dilakukan Umar pada masanya  dalam berbagai forum pengajian dan diskusi.  

Saya sendiri sangat mensyukuri keberadaan “Al-Qur’an” secara nilai, namun terjemahan umat yang beragam tidak lagi menjadi rahmat melainkan lebih kepada kebiadaban yang di-syar’i-kan seperti yang dilakukan oleh ISIS sampai saat ini. Al-Qur’an akan ditemui nilai kebenarannya hanya jika manusia mampu menterjemahkannya dengan akal dan hati yang tulus serta tidak menentang kemanusiaan sebagai ajaran utamanya.

Manusia sendiri telah dilengkapi fitrah kemanusiaan sejak dilahirkan dan memiliki segala unsur yang ada di alam semesta jauh lebih lengkap dibanding Jin dan Malaikat. Lalu Al-Qur’an diwahyukan sebagai Manual Book untuk mengaktifasi (soft-file) fitrah yang telah diberikan namun belum ter-install.

Fitrah itu sendiri bisa supported atau malah corrupted bergantung pada bagaimana nilai-nilainya itu bisa di-install dan di-upgrade dengan baik oleh para pemiliknya sesuai dengan kebutuhan dalam pemecahan kompleksitas kehidupan yang tidak stagnan yang bisa kita sebut dengan ijtihad.

Karena bila segala jenis hal dalam kehidupan ini telah benar-benar ditakdirkan tanpa adanya free-will dari Allah untuk kita sebagai manusia ciptaan-Nya, maka Surga dan Neraka akan mendapatkan kontra-eksistensinya sebagai tempat “konsekuensi” perbuatan manusia pasca kehidupan dunia.

Saya yakin sifat Arrohman dan Arrohim Allah tetap melebihi segala perasangka hamba-hamba-Nya yang dihasilkan dari tafsiran mereka terhadap Al-Qur’an. Nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an adalah mutlak benar, perbedaan terjemahan yang membuat kita semua berbeda dan merasa paling dekat dengan kebenaran yang Allah maksudkan. Maka tetaplah menjadi manusia dengan fitrah dari-Nya andaipun Al-Qur’an tidak pernah dibukukan.

Artikel Terkait