"Bisa tidak bantu membuat skripsi, bu?" tanya seorang teman mahasiswa dari kampus lain ketika kami ngobrol lewat jaringan pribadi (japri) di WhatsApp (WA). Mahasiswa ini berasal dari jurusan ekonomi yang bukan bidang keilmuanku. 

Aku tidak langsung mengiyakan karena tahu, kami tidak "sealiran" dalam pemikiran alias jurusan yang berbeda. Dan dibantu ini dalam model yang bagaimana, ya? Aku teringat teman yang juga dosen, dia tidak mau membantu membuatkan skripsi, kecuali dikerjakan langsung bersama dengan mahasiswa.

Aku lalu bertanya, judulnya tentang apa? Dia menjawab masalah modal. Aku kemudian berkata, ayo. Karena, dia ternyata mau dibimbing dalam arah pembuatan penulisan bukan dalam maksud dibuatkan.

Langkah-langkahnya kataku, di bab pertama ada latar belakang, kemudian permasalahan atau rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Kataku lagi di chat, pada latar belakang, dikasih pengantar, mengapa ini penting diteliti? Selanjutnya, di bagian lain, ada bagian penjabaran yang bersifat pernyataan ataupun pertanyaan.

"Bagaimana cara mengangkat penelitian ini ke latar belakang?" tanyanya lagi.

Aku katakan, misalnya, awalnya, kita bisa membahas fenomena apa yang terjadi dengan masalah permodalan ini. Baik di Indonesia secara umum dan perusahaan secara khusus. Dan sebagainya... 

Btw, bukan cuma mahasiswa dari jurusan Ekonomi  dari kampus lain yang tadi memintaku untuk membantunya membuat skripsi, tapi juga mahasiswa dan mahasiswi dari jurusanku sendiri yang meminta perhatian lebihku demi skripsinya. Ah, lagi musim skripsi memang.

Beberapa hari kemudian, ketika ada seorang teman posting di status WA, flayer yang berisi iklan bimbingan belajar (bimbel) untuk tes CPNS dan PPPK-nya. Aku lalu bertanya, mengapa tidak membuat bimbel skripsi.

Katanya, setelah bimbel tes CPNS ini, akan dibuka kelasnya, bimbel skripsi.

No wonder! Ada bimbel untuk masuk perguruan tinggi negeri (favorit), kemudian ada bimbel tes CPNS. Dan terbaru bimbel skripsi, karena, skripsi pun sangat layak mendapat ruang khusus.

Biar "maha" siswa dan "maha" siswi itu bisa membuat sendiri skripsinya. Biar bisa memenuhi "syarat" kelulusan dengan "baik" dan "benar" dengan membuat skripsi sendiri. Tanpa meminta bantuan jasa pembuatan skripsi.

Bagaimana tidak, dari dulu sampai hari ini, fenomena "jual beli skripsi" sudah bukan rahasia pribadi lagi, dia milik umum dan sudah banyak penggunanya untuk memudahkan membuat skiripsi, tanpa repot-repot, karena instan langsung bisa didapatkan, dan gampang mencari orang yang mau membuatkan.

Cara menemukan orang yang bisa membuatkan pun sangat gampang, bida jadi, "orang-orang" di kampus itu sendiri. Ngomong-ngomong, sampai iklannya pun masuk di suatu "aksi".

Cerita Skripsi

Ketika aku sampai di Makassar, dan tiba di suatu kos, yang mana banyak diisi oleh mahasiswa tingkat akhir. Mereka pun, lagi sibuk membuat skripsi. Pantas saja, kos yang biasanya ramai dan ribut itu jadi sunyi dan senyap. 

Mereka pada sibuk ngamar dan membatasi komunikasi dengan teman sekos karena alasan sibuk mengetik. Padahal, biasanya, mereka menghabiskan waktu dengan santai, asyik masak dan makan bareng. 

Walau ada juga bisik-bisik sesama mereka, kalau banyak juga teman mereka yang memanfaatkan jasa "tukang skripsi" karena alasan kemudahan dan kecepatan.

Alhamdulillah, mereka hanya sibuk di kamar tidak ikut ber-Aksi yang lagi musim wajib itu. Namun, ada yang bukan bisik-bisik lagi, tapi terang-terangan bilang, kalau mereka wajib "berdemo". Entah bercanda atau serius.

"Harus ka ikut demo, supaya bisa ka ikut ujian meja." (Waduh!).

Ini disuruh dosen atau gimana, ya? Bagus kalau demo mereka itu di jalur benar. Bukan sekadar disuruh oleh bapak dan ibu, dosen. "Hanya karena" mau ujian meja atau pendadaran "wajib" ikut demo. Aneh!

Yang Aneh Saat Skripsi

Aku jadi ingat waktu kuliah strata satu dulu, di mana aku dan gengku sibuk berlomba-lomba menyelesaikan skripsi. Banyak yang aneh-aneh yang terjadi waktu menulis skripsi.

Waktu itu, aku punya teman yang bernama Ika yang punya fasilitas komputer. Kami berganti-gantian mengetik di tempat Ika. Kamar kosnya jadi kamar kos kami berlima. Ketika janjian dengan dosen pun, kami berlima. Akhirnya, kami jadi lima sekawan waktu itu. Walau, akhirnya, cuma kami bertiga yang lulus di waktu ontime.

Ada banyak kejadian aneh, lucu, dan menghibur yang kami alami. Mulai dari ketika seorang teman terburu-buru ketemu dosen untuk bimbingan sampai lupa pakai sepatu, karena masih memakai alas kaki sendal dari kamar kos.

Ada yang tiba-tiba jadi pelupa karena fokus sama skripsi, ketika ditanya, jadi tulalit gitu. Ada yang jadi tidak mau makan dan tidak bisa tidur karena skripsi buat gak enak makan dan gak enak tidur (seperti jatuh cinta saja).

Ada yang suka berdandan, sampai lupa sama ritual make-up. Sampai aku yang keliling berbus-ria ke perpustakaan untuk mencari bahan literatur skripsiku.

Btw, lain aku dan gengku, lain pula Dina (bukan nama sebenarnya). Dina, si anak kos ini pernah ditegur temannya, gara-gara WA-nya cuma diread doang, gak dibalas saking berkonsentrasi penuhnya dia pada skripsinya.

Bagaimana Membuat Skripsi Jadi Asyik?

So, jadi bagaimana membuat skripsi jadi asyik? Tanpa perlu jasa-jasa itu? 

Pertama, niat. Niat untuk membuat skripsi ada sejak awal. Niat membuat melangkah jadi lebih percaya pada kemampuan diri sendiri, bahwa kita bisa menulis. 

Kedua, cari kelompok teman yang benar-benar serius membuat skripsi, jadinya saling dukung-mendukung bisa juga jadi tunggang-menunggangi yang artinya simbiosis mutualisme, saling menguntungkan karena bisa saling berbagi. 

Ketiga, dekati dosen yang terbuka untuk kita bertanya. Dosen pasti sudah punya pengalaman menulis sebelumnya, setidaknya dia bisa membagi ilmunya. Apalagi, kalau dosennya welcome.

Keempat, kalau belum punya fasilitas pribadi seperti laptop atau alat print, gunakan fasilitas umum. 

Kelima, rajin ke perpustakaan, dan banyak membaca sehingga punya literatur. Keenam, semangat 45, setelah selesai beberapa bagian, hadiahi diri dengan jalan-jalan, makan enak, atau belanja biar tidak stres karena skripsi. Ketujuh, tambahkan sendiri versi kamu... 

Kalau menurut Dina sih, dia terbantu dengan YouTube untuk belajar analisis stastika, SPSS.

Selamat berskripsi, buat skripsinya jadi asyik sehingga tidak terbebani menyelesaikan bagian dari ritual strata satu itu.