Salah satu ciri menonjol dari konsep universalisme Islam adalah upaya untuk menggambarkan keragaman dalam pemahaman agama dan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan dalam bingkai kebhinekaan.

Memang, keragaman adalah sunnah kehidupan, bahkan kehendak Allah yang tidak dapat dicegah. Ia mutlak adanya. Bacalah misalnya firman Allah pada QS. Fatir/35: 27-28, di sana dijelaskan, bahwa Allah menurunkan hujan lalu dengan hujan itu Allah menumbuhkan aneka buah-buahan yang beragam warnanya, gunung-gunung pun berwarna-warni, manusia, binatang, dan ternak pun demikian.

Baca juga misalnya QS. Al-Maidah/5: 48, di sana dinyatakan dengan sangat jelas, bahwa seandainya Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja (tapi itu tidak dikehendaki-Nya), karena keragaman itu dimaksudkan untuk menjadi ujian atas anugerah-Nya, karena itu berlombalah dalam kebajikan.

Di sisi lain, pentingnya menjaga persatuan, hidup damai, dan harmonis adalah mutlak diupayakan, karena manusia adalah “makhluk sosial”. Tidak seorang pun dapat hidup memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan pihak lain.

Menghadapi kenyataan demikian dan menyadari betapa keragaman tidak dapat dihapus atau dihindari, maka cara yang paling bijaksana dalam menghadapi keragaman dan kewajiban hidup harmonis itu adalah dengan mengelola perbedaan, bukan dengan memaksakan kehendak atau menghilangkan serta menghapusnya dari kehidupan sosial.

Karena jika ada setiap upaya untuk menghapus keragaman dan memaksakan kehendak tidak akan melahirkan kecuali konflik, disharmoni, tuduhan kesesatan, bahkan pengkafiran dan pembunuhan. Padahal, keragaman yang diciptakan oleh Allah itu bertujuan agar manusia mencapai ketenangan dan kesempurnaan hidup.

Alquran dan sunnah Nabi yang shahih —yang berfungsi sebagai bayan al-tafsir dalam memahami Alquran— adalah dua hal yang disepakati menjadi rujukan dalam hal penyelesaiaan perbedaan. Untuk itu, Rasul dan para pewarisnya berkewajiban menemukan titik temu (kalimat sawa’) melalui pedoman kitab suci.

Hal ini pun secara tegas dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah/2: 213, bahwa umat manusia adalah satu umat (namun terjadi perbedaan antar mereka), maka Allah telah mengutus para nabi untuk memberi berita gembira dan peringatan serta menurunkan dengannya hak (kitab suci) untuk menyertai mereka guna menjadi putusan bagi manusia menyangkut perselihan mereka.

Namun harus disadari bahwa, terdapat sekian banyak dari ciri Alquran yang dapat mengantarkan kepada perbedaan penafsiran, yang tentu saja memerlukan pengelolaan bijaksana, agar perbedaan yang lahir secara murni dari Alquran dapat menjadi rahmat bagi umat manusia.

Adapun salah satu ciri Alquran yang dimaksud antara lain, bahwa ayat-ayat Alquran turun dengan apa yang diistilahkan oleh Nabi dengan “sab’at ahruf” serta dengan banyak “qiraat”, yakni redaksi dari ayat-ayatnya (dialek) yang turun beragam. Nah, keragaman itulah yang dapat menimbulkan aneka interpretasi dalam memahami ayat-ayat suci Alquran.

Pada dasarnya, memang tidak berlebihan jika dikatakan bahwa redaksi ayat-ayat Alquran merupakan salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat dikalangan ulama, apalagi dengan adanya kemungkinan yang dapat mengakibatkan satu lafadz atau redaksi mengalami perbedaan arti.

Seperti misalnya, apakah kata yang digunakan bermakna hakiki atau metafora? Apakah ia mansukh atau tidak? Ditambah lagi dengan adanya ayat-ayat mutasyabih, sehingga makna yang ditampilkan menjadi mengandung kemungkinan benar atau salah.

Meski demikian, ulama terdahulu dengan bijak sering menyatakan, bahwa “pendapat kami benar tapi mengandung kemungkinan salah dan pendapat orang lain salah tapi mengandung kemungkinan benar”. Mereka sangat bijak, dan tidak sampai sesat-menyesatkan atau pun kafir-mengkafirkan, bahkan boleh dikatakan bahwa mereka bersepakat dalam perbedaan.

Sehingga dengan sikap demikian, mereka bersedia bukan saja meninjau ulang pendapat mereka, tetapi juga menerima pendapat orang lain yang lebih benar.

Dewasa ini amatlah dibutuhkan keterbukaan dan kesediaan berdialog serta menghormati pendapat pihak lain, demikian juga pencetus pendapat itu, (selama pendapat tersebut memiliki pijakan walau lemah), karena menghormati pendapat tidaklah berarti mengakui kebenarannya.

Dalam konteks berinteraksi dengan non-muslim misalnya, sekalipun Alquran mengajarkan Nabi agar berucap kepada mereka, bahwa “Kami (orang-orang beriman) dan kalian (orang-orang musyrik) berada pada petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata”. 

“Kalian tidak akan ditanyai (mempertanggungjawabkan) tentang dosa-dosa kami, dan kami pun tidak akan ditanyai tentang apa yang kalian perbuat pada hari Kiamat nanti...” (Baca selengkapnya. QS. Saba’/34: 24-26).

Nah, perhatikanlah bagaimana posisi kita menyatakan tentang apa yang kita lakukan dengan kalimat “dosa-dosa kami” dan apa yang mereka lakukan tidak kita nyatakan kepada mereka sebagai dosa tetapi “apa yang kalian perbuat”.

Ini adalah sikap yang mengajarkan agar tidak mengklaim kebenaran dan tidak menyesatkan mitra bicara. Apa yang telah diajarkan Alquran bertujuan untuk menciptakan kedamaian dalam masyarakat, mengajarkan agar setiap anggota masyarakat betapa pun berbeda agama dan kepercayaan mereka, namun mereka harus saling menghormati dan menyerahkan semua persoalan yang diperselisihkan hanya kepada Allah swt.

Terakhir, sungguh kalau tiap-tiap umat beragama tidak mampu menciptakan keharmonisan hubungan antar mereka, maka jangan mempersalahkan siapa pun, kecuali diri sendiri. Jangan persalahkan siapa pun jika ada yang berkata, bahwa era agama telah berlalu atau agama tidaklah memiliki tempat dalam kehidupan modern. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut. Amiin.