Di era modern ini tentu kita tidak asing dengan yang namanya media sosial. Suatu fitur teknologi yang terus berkembang dan menciptakan inovasi-inovasi baru yang tujuannya untuk mempermudah hidup manusia.

Pada mulanya media sosial ada sebagai sarana untuk mempermudah komunikasi antara satu orang dengan yang lain, tetapi lebih dari itu media sosial kini seakan menjadi dunia kedua yang mampu dihidupi oleh masyarakat luas.

Bagaimana tidak, bagi sebagian orang waktu yang dihabiskan di dunia maya hampir sama dengan waktu yang dihabiskan di dunia nyata terlebih jika memiliki kecenderungan untuk terus terikat dengan dunia maya.

Mulai dari pagi kita mengawali hari hingga malam ketika hendak tidur, tidak terhitung berapa banyak orang yang masih asyik dengan dunia maya hingga teralihkan dari dunia nyata. Penggunaan secara berlebihan terhadap media sosial tentu akan membawa pada dampak buruk seperti misalnya lupa waktu, atau menghindarkan seseorang dari sosialisasi dengan lingkungannya.

Di dalam media sosial kita bisa berbagi tawa, bermain, berbelanja, atau hanya sekadar membagikan informasi yang sedang ramai diperbincangkan tanpa perlu bertatap muka secara langsung dengan yang lain. Berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan di media sosial terjadi hanya dalam beberapa ketukan jari.

Kita mungkin tidak sadar bagaimana hidup masyarakat modern saat ini mulai dipengaruhi oleh apa yang terjadi dalam media sosial. Ketika media sosial mulai meramaikan suatu hal tertentu, banyak orang cenderung akan memperhatikan hal tersebut secara seksama sehingga terbawa oleh wacana yang ada di dalamnya.

Kalau kita teliti lebih dalam lagi, sebenarnya tidak seluruh wacana yang disampaikan melalui media sosial adalah benar. Ada saja beberapa oknum yang memanfaatkan keterikatan masyarakat terhadap media sosial untuk menyebarkan wacana palsu hanya untuk menggiring opini pengguna yang lain sesuai dengan yang diharapkan oknum tersebut.

Maka dari itu kita harus bisa kritis dalam menanggapi suatu wacana yang disampaikan dalam media sosial sehingga kita tidak merasa dibodohi oleh hal tersebut. Oleh karena itu penting jika kita mau menyelidiki wacana tersebut lebih lanjut sebelum percaya begitu saja.

Bijak dalam bermedia sosial berarti bahwa kita secara sadar dan memahami tindakan yang kita lakukan dan baik adanya. Ketika kita mau mengirimkan suatu postingan ke akun media sosial kita, kita harus terlebih dahulu memahami apakah tindakan tersebut benar atau tidak dan apakah dampak yang sekiranya bisa ditimbulkan.

Karena media sosial mampu menghubungkan koneksi pengguna yang satu dengan yang lain di seluruh dunia maka kita harus berhati-hati pula jika kita ingin melakukan sesuatu karena kita tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana tindakan kita bisa memberikan dampak kepada masyarakat luas.

Kemudahan media sosial tidak hanya dirasakan oleh kalangan usia tertentu, hampir semua orang mulai dari anak-anak sampai orang tua memiliki akun media sosialnya masing-masing. Tetapi masih sering kita jumpai bahwa dalam media sosial terdapat postingan dari seseorang yang disebarkan kepada publik yang sekiranya tidak pantas untuk dilihat oleh anak dibawah umur.

Menaati peraturan age restriction atau batasan umur juga merupakan bagian dari bijak bermedia sosial. Keterlibatan orang tua dalam mengedukasi anak-anak juga sangat dibutuhkan agar nantinya anak bisa mengerti bagaimana cara bertindak di media sosial.

Seturut dengan etika keutamaan, yang mana merupakan suatu ciri keluhuran watak yang harus dilatih untuk berbuat baik, hal seperti bijak bermedia sosial harus bisa biasakan agar tertanam dalam diri kita masing-masing dengan tujuan menjadi orang yang berkeutamaan itu sendiri.

Di dalam etika keutamaan kita diajarkan untuk menjadi orang yang berkeutamaan. Cara untuk menjadi orang yang berkeutamaan belumlah cukup jika kita melakukan sesuatu semata-mata karena berdasarkan kewajiban tetapi etika keutamaan menuntut lebih daripada sekadar menjalankan kewajiban.

Jika kita melihat pada keutamaan yang diajarkan oleh Aristoteles bahwa manusia bersama yang lain ada untuk saling mengusahakan bagaimana kesejahteraan hidup dan kebahagiaan dapat tercapai.

Tujuan yang diharapkan oleh Aristoteles adalah kondisi di mana seseorang bisa hidup bahagia dan cara yang harus ditempuh adalah dengan hidup baik.

Aristoteles juga memberikan perbedaan antara keutamaan intelektual dan keutamaan moral. Keutamaan intelektual berkaitan dengan hasil dari suatu pengajaran, sedangkan keutamaan moral merupakan hasil dari suatu kebiasaan.

Dari perbedaan antara keutamaan intelektual dan keutamaan moral, ada perbedaan yang paling mendasar yakni keutamaan intelektual lebih sebagai keunggulan akal budi teoretis dan keutamaan moral lebih kepada keunggulan praktis.

Seseorang yang memiliki keutamaan intelektual belum tentu nantinya menjadi orang yang baik, akan tetapi seorang yang memiliki keutamaan moral akan lebih bisa mengendalikan dirinya dan terus mengupayakan tujuan kebahagiaan.

Maka menurut Aristoteles, dalam berkeutamaan moral kita harus senantiasa berada di tengah di antara dua ekstrem yakni antara berlebihan dan berkekurangan. Maksudnya adalah ketika kita dihadapkan pada pilihan hidup tentang apa yang akan kita lakukan selanjutnya, kita harus bisa memilih jalan tengah yakni jalan terbaik yang bisa diambil.

Kalau kita terapkan etika keutamaan ini ke dalam tindakan kita saat bermedia sosial, tentu kita akan tahu “jalan tengah” yang harus dipilih saat kita berhadapan dengan banyak hal di media sosial.

Dengan kita membiasakan untuk hidup baik, seharusnya kita juga bisa mengerti bagaimana cara kita bijak dalam menggunakan media sosial. Bukan hanya sekadar paham secara intelektual saja tetapi mampu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk keutamaan moral.

Kemudian dengan terus mengupayakan hidup baik, cara kita berhadapan dengan media sosial tentu akan menjadi lebih baik. Dengan demikian tidak akan ada lagi wacana palsu atau pertikaian yang terjadi melalui media sosial yang dapat kita temui.