3 bulan lalu · 148 view · 3 min baca · Politik 66453_89228.jpg
img.jakpost.net

Bijak ala Prabowo

Ada beberapa momen selama pelaksanaan debat capres yang menunjukkan sisi bijak ala Prabowo. Kala moderator meminta Prabowo menanggapi jawaban Jokowi, dengan sigap Prabowo menjawab, “Saya kira cukup, kalau kita beda jangan kita diadu terus.”

Momen lain yang juga menunjukkan sikap bijak ala Prabowo. Kala Jokowi mempertanyakan infrastruktur apa yang akan disiapkan Pak Prabowo untuk unicorn, tanpa canggung dan begitu rileks Prabowo meminta kejelasan dan penegasan unicorn dari Jokowi.

Para pendukung Prabowo harusnya menyadari bahwa sejak awal kandidat capres dukungannya senantiasa menunjukkan sinyal-sinyal kesejukan. Pernyataan kalau kita beda jangan kita diadu terus, mengindikasikan bahwa Prabowo menghargai sikap dan cara pandang Jokowi. Walau berbeda jangan menjadi alasan untuk saling menyudutkan.

Sering kali para pendukung Prabowo berujar dan membuat suasana menjadi gaduh. Banyak isu-isu hoaks diedarkan untuk menjatuhkan dan memojokkan calon tertentu. Tetapi, Prabowo senantiasa memberikan pelajaran penting di atas ring debat. Dengan meminta kejelasan dari Jokowi soal pertanyaan yang diajukan pada dirinya, bila Prabowo merasa belum jelas.

Tampaknya dalam diri Prabowo ada sisi bijak, kalau meminjam istilah Karen Armstrong soal kaidah emas untuk hidup saling berbelas kasih. Prabowo menunjukkan sikap menghargai musuh politiknya.

Bisa disaksikan selama penyelenggaraan debat, Prabowo menghormati apa yang dilakukan Jokowi bersama pemerintahannya. Prabowo bahkan melontarkan kesalahan mengelola pemerintahan tidak sepenuhnya kesalahan Jokowi, tetapi kesalahan pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Baca Juga: Menolak Prabowo

Artinya, Prabowo menghormati Jokowi, adapun kesalahan yang terjadi di Indonesia juga tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan dari pemimpin sebelumnya. Dengan demikian, Prabowo mengakui kesalahan itu, tidak murni kesalahan pemerintahan Jokowi. Mungkin ini sikap bijak menghormati musuh yang dimiliki oleh Prabowo.

Prabowo juga, dalam berbagai kesempatan, baik di arena debat maupun di luar arena debat, senantiasa menghibur dengan menampilkan goyangan khasnya. Seolah Prabowo ingin berpesan kepada semua kalangan bahwa pilpres ini jangan membuat suasana menjadi tegang.

Bijak ala Prabowo rupanya tidak dipahami dan disimak dengan penuh perhatian oleh kalangan pendukungnya. Ada beberapa bukti yang dapat ditunjukkan betapa para pendukung Prabowo gagal paham terhadap maksud Prabowo.

Pada perayaan Hari Natal, Prabowo mengucapkan selamat Natal untuk menunjukkan betapa care-nya ia akan toleransi kepada umat beragama di Indonesia. Tapi, apa yang terjadi, malah ada pihak-pihak pendukung Prabowo ramai-ramai menyebar video hasil editan saat KH Ma’ruf Amin mengucapkan selamat Hari Natal.

Seolah para pendukung Prabowo tidak memahami apa yang telah dicontohkan kandidat pilihan mereka. Sehingga dengan video editan KH Ma’ruf Amin ditebar dan digunakan untuk menjatuhkan marwahnya. Padahal, Prabowo juga turut mengucapkan.

Dalam salah satu pidato Megawati Seokarnoputri pada perayaan hari ulang tahun PDI Perjuangan, menyampaikan sesuatu yang menarik. Menurut penuturannya, “Pak Prabowo kangen lho, Bu, dengan nasi gorengnya Ibu.” Penuturan orang dekatnya Pak Prabowo yang diceritakan ulang oleh Megawati saat berpidato.

Pada dasarnya yang disampaikan Megawati terkait kangennya Prabowo terhadap nasi goreng buatan Ketua Umum PDI Perjuangan menjadi sebuah isyarat suasana hati Prabowo yang senantiasa menunjukkan persahabatan terhadap lawan politiknya.

Mengapa Prabowo disalahpahami oleh para pendukungnya? Bila seorang Prabowo dapat dengan begitu lugas menyampaikan pesan kangen kepada lawan-lawan politiknya dan menghormati rivalnya Jokowi. Lalu, kenapa muncul isu-isu miring yang sering datang dari kerumunan pendukung Prabowo?

Pendukung Prabowo pada dasarnya datang dari kelompok-kelompok yang kecewa berat bahkan sudah akut tingkat dewa terhadap Presiden Jokowi. Bermula pada kebijakan-kebijakan Jokowi yang tidak menguntungkan ormas beraliran radikal, fundamental, dan transnasional seperti HTI.

Perpu ormas yang dikeluarkan Jokowi mengakibatkan keterguncangan pada ormas-ormas yang tidak Pancasilais atau memiliki keinginan mengganti Pancasila. HTI ormas yang secara terang-terangan ingin mengganti Pancasila dengan sistem Khilafah akhirnya dibubarkan.

Efek pembubaran HTI pada satu sisi menjadi bola liar dan menambah berangnya beberapa ormas yang seirama dengan HTI. Puncak dari ketegangan itu menemukan momentum di Pilkada DKI Jakarta dengan isu penistaan agama.

Prabowo sebagai satu-satunya kandidat penantang Jokowi menyebabkan orang-orang telah kecewa terhadap Jokowi, akhirnya melabuhkan dukungannya kepada Prabowo. Sehingga pernyataan-pernyataan yang menyudutkan pemerintah diproduksi sedemikian rupa dan dibumbuhi dengan hoaks-hoaks yang jauh dari kenyataan.


Visi Prabowo untuk Indonesia yang dibangun dengan narasi-narasi kekayaan Indonesia banyak mengalir ke luar negeri. Akhirnya penjelasan yang sifatnya substantif mesti terpotong dengan narasi-narasi yang sektarian. Sehingga visi dari Prabowo menjadi layu sebelum mekar, publik akhirnya tidak memiliki kesempatan yang mendalam untuk mendengarkan penjabaran apik Prabowo.

Tentu Prabowo paham mengenai kondisi pendukungnya. Langkah bijak Prabowo yang perlu diapresiasi, yakni tidak mengambil ulama versi pendukungnya sebagai cawapres-nya. Kalau itu yang dilakukan Prabowo, ada kemungkinan tindakan-tindakan yang tidak kita inginkan ditempuh oleh massa pendukungnya.

Walau Prabowo berada dalam kerumunan pendukung yang berasal dari orang-orang kecewa terhadap penguasa, kadang kala Prabowo juga sesekali berbalik dengan mengapresiasi Jokowi, merindukan nasi goreng Megawati Soekarnoputri, dan kadang setuju terhadap jawaban-jawaban Jokowi saat debat.

Gaya Prabowo yang demikian menunjukkan sikap bijaknya. Satu-satunya perbedaan dirinya dengan Jokowi, yakni keinginan Prabowo untuk jadi presiden. Tapi, beberapa sikap bijak ala Prabowo selama pilpres 2019 telah dia tunjukkan walau pendukungnya tidak secara nyata menangkap pesan itu.

Artikel Terkait