Pemilihan Sam Allardyce untuk menukangi Tim Nasional Inggris menerawang kepekaan penikmat bola pada portofolio beliau bersama tim-tim cukupan (mediocre) Liga Primer Inggris. Terbaru tentu saja catatan Big Sam bareng “The Black Cats” Sunderland. 

Big Sam dipercaya manajemen Sunderland pada 9 Oktober 2015 setelah rangkaian hasil buruk yang didapat Dick Advocaat dalam 8 pertandingan perdana. Tuan Dick gagal memberi kemenangan dalam 8 kesempatan itu dengan hanya 3 seri dan 5 kalah.

Tiga kekalahan diantaranya terjadi berurutan: 0-1 vs Tottenham; 0-2 vs Bournemouth; 0-3 vs Manchester United. Akhir cerita, Big Sam diwarisi Sunderland-nya Tuan Dick yang menghuni posisi 19 dari 20 peserta. Posisi Sunderland yang sangat rentan mengirim mereka turun kasta itu memaksa manajemen berharap banyak pada tuah Big Sam saat jadi juru taktik Blackburn Rovers musim 2008/09.

Ketika Big Sam datang, Blackburn (juga) sedang kacau balau di posisi 19. Mereka hanya 1 poin lebih baik dari juru kunci, West Bromwich Albion. Debut Big Sam di Ewood Park berjalan sangat meyakinkan: Unggul 3-0 atas Stoke City hanya dalam waktu 27 menit! Selanjutnya Big Sam hanya perlu 5 pertandingan (3 menang 2 seri) untuk mengeluarkan Blackburn dari posisi 3 terbawah.​ 

Perjuangan tim-tim di zona degradasi jelaslah berbeda dengan perjuangan di zona papan tengah untuk kualifikasi kejuaraan Eropa. Jangan lagi dibandingkan dengan perjuangan mencapai mahkota juara. Meski sama-sama perjuangan, namun perang di zona degradasi sesungguhnya lebih berdebu.

Pendefinisian “berdebu” sesungguhnya bersandar mutlak pada bursa taruhan yang dibuka saban musim baru bergulir. Kriteria umum yang dipakai untuk bertaruh biasanya mencakup peluang juara, menyelesaikan musim di 4 besar, dan degradasi.

Mengapa kisah juara Leicester City musim 2015/16 menjadi sangat heroik? Jawabannya: koefisien 5.000 banding 1 untuk peluang juara Leicester City pada bursa taruhan awal musim. Bahkan kabarnya sebuah rumah taruhan kehilangan Rp 184 miliar untuk membayar para pertaruh yang berinvestasi bagi Leicester City. Dengan koefisien juara sebesar itu Leicester City sebenarnya lebih difavoritkan berada di zona degradasi. 

Logika rumah taruhan sesederhana: peluang juara The Foxes adalah debu yang gampang disucikan. Sampai disini “berdebu” tentu menemukan definsi yang cukup jelas: Berebut peluang. Oleh karena itu, perjuangan tim yang berperang di zona degradasi dianggap lebih berdebu karena kadar kemudahan untuk disucikannya jauh lebih besar daripada perang berdebu lainnya. Semakin gampang untuk disucikan, semakin inferior pula proses penyuciannya.

Kerja Sam Allardyce bersama Sunderland sungguh menyulitkan kita untuk membacanya sebagai inferioritas. Mereka jelas sudah menempuh cara penyuciannya sendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh tiga tim dalam tiga musim berbeda berikut ini:

  • Mike Walker (Everton, Mei 1994)

Dalam sejarah partisipasinya di Liga Inggris, Everton tidak pernah mengalami degradasi dari kasta tertinggi liga. Semua catatan baik itu tampak menemui ujungnya saat Everton, bersama Southampton, Sheffield United, dan Ipswich Town, harus bertarung di zona degradasi pada pekan final kompetisi Liga Primer Inggris musim 1993/94. Bagi Everton kekalahan di pekan final, 7 Mei 1994, berarti tiket degradasi menyusul Swindon Town dan Oldham Athletic.

Musim 1993/94 secara keseluruhan memang tidak berjalan baik bagi Everton. Juru taktik, yang juga legenda hidup mereka, Howard Kendall harus menyudahi kerja sama lebih cepat di kesempatan keduanya menangani tim. Persisnya di Desember, ketika Tuan Howard dan tim melewati 7 pertandingan tanpa kemenangan. Manajemen The Toffees kemudian menunjuk Mike Walker sebagai penerus Tuan Howard.

Mike Walker, mantan kiper Tim Nasional Wales U-23 yang juga ayah dari kiper nyentrik Tottenham (1989 – 2001), Ian Walker, meneruskan kerja Tuan Howard bermodal kiprah terhormatnya bersama Norwich City. Perjalanan Mike Walker bersama Everton berjalan menegangkan karena sampai di pekan final Liga Primer Inggris belum ada jaminan selamat dari degradasi.

Situasi memburuk saat Everton tertinggal 0-2 dari Wimbledon di rumah sendiri, Goodison Park. Jika tetap gagal menang dari Wimbledon, Everton dipastikan turun kasta karena di waktu yang bersamaan Ipswich Town dan Sheffield United menjalani hasil yang lebih positif.

Perlahan tapi pasti Everton bangkit. Setelah menutup babak pertama dengan 1-2, Barry Horne menghidupkan lagi asa pendukung The Toffees, membuat keadaan seri 2-2 di menit 67. Selanjutnya saat pertandingan menyisakan 10 menit, Wimbledon-nya Joe Kinnear dihukum penalti oleh wasit Robert Hart. Eksekusi Graham Stuart berbuah gol ketiga Everton sekaligus menutup perang berdebu 1994 dengan Everton sebagai pemenangnya.

  • Bryan Robson (West Bromwich Albion, Mei 2005)

Ini adalah perang degradasi paling sengit dalam sejarah Liga Primer Inggris. Sampai pekan final belum ada tim yang dipastikan degradasi. Setidaknya 4 tim harus berjuang keras demi 1 tempat aman, posisi 17. Perang tersebut melibatkan: Norwich (33 poin), Southampton (32), Crystal Palace (32), dan West Bromwich Albion (31). Matchday terakhir ini dipublikasikan Sky Sports sebagai “Survival Sunday”.

Juru taktik Bryan Robson adalah orang yang diberi tanggung jawab besar sejak awal November 2004 untuk memperbaiki pencapaian The Baggies. Puncaknya, “Survival Sunday” berakhir manis bagi Robson. Mereka unggul 2-0 di kandang sendiri atas Portsmouth, sementara Norwich digilas 0-6 oleh tuan rumah Fulham, Southampton kalah 1-2 di Old Trafford, dan Crystal Palace hanya seri dengan Charlton Athletic.

Keberhasilan The Baggies juga menjadi sejarah Liga Primer Inggris karena mereka menjadi tim pertama yang selamat dari degradasi meskipun telah menjadi juru kunci sejak Natal. Hal menarik lain dari perang berdebu 2005 adalah keterlibatan pendukung Portsmouth dalam euforia keberhasilan The Baggies. Secara tidak langsung kekalahan Portsmouth tersebut berarti tiket degradasi untuk rival bebuyutan mereka, Southampton.

  • Roberto Martinez (Wigan Athletic, Mei 2011)

Birmingham City, Wolverhampton Wanderers, Blackburn Rovers, Blackpool, dan Wigan Athletic. Kelima tim ini mencatat sejarah Liga Primer Inggris sebagai petarung terbanyak zona degradasi di pekan final kompetisi. Kala itu Wigan ada di posisi 19 atau 1 tingkat lebih baik di atas juru kunci West Ham united yang sudah dipastikan degradasi.

Selisih gol yang jelek membuat Wigan dijagokan turun kasta. Namun 4 tim lain juga tidak bisa rileks melakoni perang degradasi. Wolverhampton dan Blackburn terlibat duel langsung, sementara Birmingham dan Blackpool harus melayani perlawanan tim penghuni 5 besar: Tottenham Hotspur dan Manchester United.

Sang manajer, Roberto Martinez, ketika itu sedang menjalani musim keduanya sebagai juru taktik The Latics. Setelah finish di posisi 16 dan baru memastikan selamat dari perang berdebu pada pekan ke – 37, kiprah Roberto Martinez di musim keduanya memang diprediksi berjalan lebih sulit.

Prediksi ini sama sekali tidak meleset jika menyimak kembali catatan negatif The Latics musim 2010/11: kalah 0-4 dari Blackpool dan Manchester United, serta kalah 0-6 dari Chelsea, yang semuanya terjadi di kandang!

Wigan menatap laga final perang berdebu dengan optimisme yang lebih baik dari para saingannya. Martinez, yang waktu itu belum genap 40 tahun, sadar betul bahwa yang dibutuhkan oleh anak asuhannya hanyalah kemenangan, bukan selisih gol.

Terlebih Wigan juga mencatat perbaikan performa dalam 3 pertandingan sebelumnya lewat 1 kemenangan dan 2 hasil seri. Sebagai informasi, satu-satunya kemenangan itu didapat dari duel sengit yang berakhir dengan skor 3-2 versus . . . West Ham United!