“Mereka yang menguasai informasi adalah penguasa.”

McKenzie Wark dalam bukunya berjudul The Hacker Manifesto (2004) mengatakan bahwa informasi sekarang telah menjadi sebuah komoditas. Berkembangnya komoditas menjadi sesuatu yang lebih abstrak dibandingkan sebelumnya memberikan tantangan baru terhadap teori-teori ekonomi yang ada. Informasi yang menjadi komoditas berkumpul dan mengendap sebagai big data yang siap diolah bagi mereka yang mengerti bahasa pemrograman.

Menurut Wark (2017), perkembangan informasi yang pesat memunculkan suatu komoditas dan kelas baru yang mendominasi. Kelas tersebut hadir dan disebut oleh Wark sebagai Kelas Vektoralis (vectoralist class). Televisi, telepon, telekomunikasi, dan telegraf merupakan beberapa contoh vektor. 

Vektor adalah sebuah alat yang mempunyai kapasitas untuk menyimpan, mengumpulkan, dan menyebarkan atau mengirimkan informasi (Wark, 2017). Informasi akhirnya muncul sebagai sebuah konsep yang diukur, dihargai, dan dimiliki karena para vektoralis memiliki alat-alat tersebut untuk mewujudkan “nilai” informasi. Hampir sama dengan konteks REDD+ yang menggunakan karbon sebagai komoditas baru dalam transaksi ekonomi (Astuti, 2013).

Mereka yang menghasilkan pengetahuan berupa data mentah disebut sebagai “kelas hacker”, sementara mereka yang menguasai alat untuk mengolah data disebut “kelas vektoralis” (Wark, 2004).

Apa yang luput dari perbincangan adalah, yang menurut Wark sebagai kelas baru—disebut sebagai vectoralis­—tak ayal sebagian dari mereka adalah borjuis. Meski saya pribadi kurang sependapat dengan Wark dan lebih sependapat dengan Antonio Negri dan Hardt dalam bukunya Multitude: War and Democracy in the Age of Empire (2004) bahwa kerja-kerja mereka dapat dikategorikan sebagai immaterial labor yang dikuasai oleh penguasa modal. Immaterial Labor yang dimaksud adalah mereka yang bekerja, tapi memproduksi informasi, kebudayaan, dan bukan produksi barang “konkret” (Hardt & Negri, 2004).

Meski demikian, penggunaan big data memang memperluas arti dari “kapital” itu sendiri. Artian “Kapital” konstan dalam Marxisme mengandaikan bahan-bahan baku, permesinan, dan bangunan produksi, sementara Kapital Variabel adalah kapital yang dibelanjakan untuk pembelian tenaga-kerja (Mulyanto, 2012). 

Ia pun didefinisikan sebagai nilai yang dapat memperbanyak dirinya sendiri dengan jalan pengerahan dan eksploitasi nilai tenaga kerja sekaligus merupakan konsekuensi dari proses penciptaan “nilai-lebih” (Mulyanto, 2012). Nilai uang, sarana produksi, barang, dan alat perkakas produksi menjadi kapital ketika di dalamnya terdapat konteks produksi dan penciptaan “nilai-lebih”.

Seperti yang sudah dijelaskan pada paragraf pertama, informasi menjadi komoditi ketika informasi dilekatkan dengan “nilai”. Bagi Marx, komoditi, selain memiliki sifat kegunaan (use value), ia juga mengandung sifat exchange value, yakni sifat untuk diperjualbelikan (Kristeva, 2015). 

Prinsip untuk menentukan dan menetapkan rasio tukar adalah berdasar kuantitas kerja buruh yang dimasukkan ke dalam mesin produksi. Oleh karenanya, informasi menjadi komoditi karena dilekatkan nilai guna dan nilai tukar di dalamnya.

Dalam pengolahan big data, terdapat relasi produksi yang terjadi. Dalam proses produksi tersebutlah “nilai-lebih” dilekatkan pada informasi. Oleh karenanya, Vectoralis untuk sebuah konsep “Kelas” yang universal, saya tidak sependapat. Namun, untuk sebuah perluasan makna atas “Kelas”, saya bisa sependapat. 

Kelas Vektoralis dan Kelas Hacker yang dibayangkan sebagai kelas Universal, sebenarnya, merupakan “yang-partikular itu sendiri”. Ia tidak serta-merta mengubah tatanan antagonisme antara Proletar dan Borjuis, namun hanya sebagai “perluasan” atas makna. Maka, bukan berarti mengubah tatanan dunia seperti pembayangan beberapa peneliti tentang “disrupsi” yang “mengganggu” struktur dunia.

Akhirnya, apa yang dilihat dari big data bukanlah mengenai “pengubahan tatanan kelas”—meskipun beberapa tokoh post-marxis seperti Ernesto Laclau dan istrinya yang saya gunakan untuk skripsi menggugat analisa Kelas ala Marx, namun mode relasi produksi yang terjadi. Mode relasi produksi yang terjadi masih sama dengan pembayangan Marxisme atas relasi produksi Kapitalisme.

Big Data dan Prediksi Pemilu

Penggunaan big data sudah menjadi keributan, bahkan sebelum Cambridge Analytica yang terjadi pada pemilihan presiden Trump. Hal tersebut karena penggunaan big data dapat “memprediksi” “gelembung informasi”—kelakuan—pemilih lewat media sosial (Nickerson & Rogers, 2014). 

Media sosial menyediakan filter bubble yang menyeleksi fitur berdasarkan apa yang sering disukai ataupun dibagi (Supriatma, 2017). Ia akan mengendap dan semakin mengeras.

Nickerson dan Rogers (2014) kemudian mencontohkan penggunaan big data dalam kampanye Obama di Amerika Serikat pada 2012 lalu. Pembuatan Narwhal, sebuah program yang menggabungkan data yang dikumpulkan dari sumber digital, lapangan, dan keuangan ini ke dalam satu basis data. 

Akibatnya, kampanye pemilihan kembali Obama dimulai dengan sepuluh terabyte database yang tumbuh hingga lebih dari 50 terabyte pada akhir pemilihan (Nickerson & Rogers, 2014). Data-data tersebut digali melalui salah satunya filter bubble. Tidak hanya data mengenai kelakuan pemilih, melainkan juga gelembung-gelembung yang ada di pemilih.

Nickerson dan Rogers (2004) juga mengatakan: The geographic location of citizens’ residences can also provide valuable information, because campaigns can merge relevant Census and precinct data with the information on citizens in the voter database. Census data—such as average household income, average level of education, average number of children per household, and ethnic distribution—is useful for the development of a host of predictive scores.

Penggunaan big data dapat memprediksi kelakuan pemilih dan bagaimana pemilih merespons kampanye. Model pertama tidak dapat membuat klaim sebab-akibat tentang mengapa orang-orang memilih atau menyumbang dan mendukung kandidat. Model pertama hanya memprediksi focal trait (Nickerson & Rogers, 2014). Tujuan model ini adalah menghindari over-fitting data. Sementara, model kedua untuk mengeksplorasi respons kampanye dan membuat kebijakan strategis untuk kampanye.

Kedua model tersebut digunakan oleh berbagai lembaga penelitian maupun lembaga think tank masing-masing calon pasangan untuk membaca iklim politik. Lembaga-lembaga yang melakukannya dipekerjakan untuk mengolah data. Ia kemudian memiliki nilai guna dan nilai tukar, serta nilai lebih. Mode relasi produksi dapat terlihat dengan jelas dan akhirnya konsep immaterial labor dari Hardt dan Negri (2014) bekerja.

Kaitan dengan Tata Kelola Pemilu?

Sepertinya saya terlalu bersemangat untuk menjelaskan mengapa informasi menjadi komoditi dan lupa kaitannya dengan tata kelola pemilu dan membahas pemilu hanya dalam segi kampanye. 

Namun, seperti dalam tulisan Nickerson dan Rogers (2014), saya mengamini bahwa penggunaan big data untuk pemilu baik kampanye ataupun pengawasan menjadi hal yang menarik untuk dilakukan. Ia bisa memprediksi laku pemilih. Namun, ia bisa saja menjadi seperti Cambridge Analytica.

Di dalam ranah pengawasan, mempekerjakan immaterial labor untuk melakukan penggalian data yang memungkinkan calon melalukan fraud merupakan langkah yang setidaknya bisa dilakukan. Penggunaan big data juga bisa memantau kejahatan siber yang terjadi di ranah-ranah media. Meski agak “Orwellian” melalui konsep pengawasan tertentu. 

Selain itu, juga menjadi pekerjaan rumah bagi penyelenggara pemilu untuk mendeteksi kejadian-kejadian seperti Cambridge Analytica. Pengawasan terhadap komoditi, begitu singkatnya.

Daftar Pustaka

  • Astuti, R., 2013. Ekologi Politik REDD+: Kontestasi Politik, Modal, dan Pengetahuan. Wacana: Jurnal Transformasi Sosial, Volume 30, pp. 3-13.
  • Hardt, M. & Negri, A., 2004. Multitude: War and Democracy in The Age of Empire. New York: The Penguin Press.
  • Kristeva, N. S. S., 2015. Negara Marxis dan Revolusi Proletariat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Mulyanto, D., 2012. Genealogi Kapitalisme. Yogyakarta: ResistBook.
  • Nickerson, D. W. & Rogers, T., 2014. Political Campaigns and Big Data. Journal of Economic Perspectives, 28(2), p. 51–74.
  • Supriatma, M., 2017. HOAX, KAPITALISME DIGITAL, DAN HILANGNYA NALAR KRITIS (BAGIAN II - SELESAI). [Daring]
    Diakses di: http://www.remotivi.or.id/amatan/368/Hoax,-Kapitalisme-Digital,-dan-Hilangnya-Nalar-Kritis-(Bagian-II---Selesai
  • Wark, M., 2004. A Hacker Manifesto. United State of America: Harvard University Press.
  • Wark, M., 2017. What if this is not Capitalism Any More, but Something Worse?. New Political Science, 39(1), pp. 58-66.