“BELI 1 GRATIS 1 – KHUSUS HARI INI. Tukarkan SMS ini di gerai terdekat. Berlaku sampai dengan 31 Des 2018. S&K berlaku.”

Kalimat isi short message service atau SMS di atas mungkin sudah tidak asing lagi bagi anda. Hampir setiap hari, ketika anda berada di suatu tempat yang dekat dengan pusat perbelanjaan atau restoran, anda mendapatkan SMS promosi seperti di atas. 

Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana si restoran tahu bahwa anda memang sedang dekat dengan salah satu toko atau gerainya.

Anda pemilik smartphone belogo buah apel, pasti sudah tidak asing lagi dengan si asisten pribadinya bernama, siri. Yang bisa anda ajak berbincang, mencarikan sesuatu yang anda butuhkan, mencarikan info-info terupdate dan lain sebagainya. 

Anda tentunya bertanya, bagaimana dia bisa memberikan response seperti manusia lain pada umumnya. Memang tidak seratus persen mirip seperti manusia. Tapi itu sudah cukup membuat anda bertanya-tanya bukan bagaimana siri bisa diajak ngobrol layaknya manusia pada umumnya.

Contoh lainnya, di zaman yang serba online saat ini, anda pasti pernah berbelanja atau minimal mengunjungi situs belanja online. Semisal anda merencanakan untuk membeli sesuatu, lalu anda kunjungi tokonya. 

Keesokan hari kemudian anda membuka sebuah situs lainnya yang bukan situs belanja yang pernah anda kunjungi sebelumnya. Katakanlah sebuah situs berita. 

Tiba-tiba anda melihat barang yang anda cari muncul sebagai iklan di situs berita tersebut. Anda mungkin heran bagaimana situs berita ini bisa tahu bahwa anda pernah atau sedang mencari barang yang diiklankan tersebut.

Demikianlah kurang lebih tiga contoh hal yang kemungkinan besar pernah anda alami. Sampai saat ini masihkah anda terheran-heran atau bertanya-tanya tentang bagaimana hal itu bisa terjadi? 

Bagaimana provider telkomunikasi tahu keberadaan anda. Bagaimana sebuah aplikasi di ponsel pintar bisa anda ajak berbicara layaknya teman anda dan bagaimana situs-situs itu tahu apa yang sedang anda cari atau anda butuhkan. Jawabannya adalah big data.

Ketika anda berbicara atau mendengar kata data, yang muncul dibenak kita adalah sekumpulan baris data yang mengandung detail informasi tentang suatu hal. Katakanlah, data murid. 

Maka kita akan membayangkan barisan data yang mencakup informasi tentang murid di sekolah. Semisal Nomor Induk, Nama, Tempat dan tanggal lahir, alamat, nama orang tua dan detail informasi lainnya.

Lalu bagaimana jika kita berbicara tentang big data? Apa itu big data?

Seiring dengan kemajuan teknologi yang mencakup segala aspek, dunia informasi tentunya juga mengalami perkembangan. Dan tentunya sumber informasi itu sendiri yaitu data. 

Jika dulu kita mengenal data dalam berbentuk baris dan kolom saja, lalu diolah mulai dengan cara manual menggunakan buku besar, kemudian beralih ke komputersiasi seperti Lotus dan excel lalu ke dalam bentuk database yang terstruktur yang semuanya dalam format teks atau huruf.

Kini ada teknologi yang dikenal dengan teknologi big data. Suatu teknologi yang menampung, mengolah dan memvisualisasikan data dalam berbagai bentuk atau format. Data-data yang di simpan bisa berupa teks tentunya, gambar, suara berbagai format lainnya. 

Dengan big data kita bahkan tidak hanya bisa mengolah data menjadi sebuah laporan. Bagi para pelaku bisnis, big data bisa digunakan untuk melakukan analisa perilaku konsumen. Sehingga bisa memberikan rekomendasi kepada konsumen secara otomatis tentang produk yang sesuai dengan apa yang dicari oleh konsumen.

Jika kita mendengar kata big data tentunya yang terbayang adalah data dalam jumlah yang besar dan benar memang karena volume atau ukuran adalah salah satu dari 3 karakteristik big data yaitu Variety, Velocity dan Volume.  Akan kita bahas satu persatu karakteristik-karakteristik tersebut.

Variety, Salah satu karakter big data ini adalah bentuk format dari data yang disimpan bisa dalam berbagai format. Baik itu teks, gambar maupun suara. Berbeda dengan database konvensional yang menyimpan data dalam bentuk row data dan anda perlu mengolahnya terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi yang anda butuhkan.

Volume, Dikarenakan bermacam-macamnya format yang bisa disimpan, tentunya menyebabkan ukuran data yang tersimpan menjadi besar pula. Jika dibandingkan dengan database konvensionalperbandingannya adalah seperti ini, big data mampu menyimpan sebuah file semisal gambar dengan ukuran sekitar 1 sampai 2 Megabytes. 

Jika yang disimpan adalah sekitar 1000 gambar, maka diperlukan media penyimpanan kurang lebih sebesar 2 gigabytes. Untuk database konvensional, untuk ukuran tersebut anda bisa menyimpan ratusan ribu atau bahkan mungkin jutaan row data.

Velocity atau kecepatan. Data merupakan bahan untuk mengambil keputusan. Jika data yang dibutuhkan dapat diakses dengan cepat, maka akan cepat pula informasi yang didapat untuk mengambil keputusan tersebut. Salah satu karakteristik big data yang juga merupakan keunggulannya adalah kecepatan untuk mendapatkan data atau informasi termasuk visualisasinya. 

Anda bisa mencoba dengan menggunakan aplikasi siri pada iPhone atau iPad anda. Anda bisa hitung berapa lama siri merespon pertanyaan anda. Atau, jika anda pergi ke suatu tempat dan mendapatkan sms promosi, anda bisa hitung berapa lama sms tersebut masuk ke ponsel anda sejak anda berada di tempat tersebut.

Penerapan Big Data - Machine Learning

Sehebat apapun karakteristik yang dimiliki, big data tetaplah perlu pengaplikasian agar bisa menjadi informasi yang dapat digunakan. Big data tetap hanya sumber data yang perlu pengolahan lebih lanjut lagi untuk bisa menjadikannya sebagai sumber informasi.

Big data dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk sistem atau aplikasi. Dapat juga langsung diolah sendiri. Namun, untuk big data perlu orang yang punya kemampuan spesifik untuk mengolahnya. 

Karena treatment untuk big data memang sangat berbeda jika dibandingkan dengan database konvensional. Perlu keahlian spesifik untuk mengolahnya. 

Jika dibandingkan dengan database pada umumnya yang menggunakan query untuk mengolahnya, big data memiliki prinsip NoSQL(Not Only SQL). Yang artinya pengolahan datanya tidak hanya menggunakan SQL atau query seperti database pada umumnya.

Contoh penerapan big data yang sudah umum dan banyak digunakan adalah machine learning. Apa itu machine learning? Sejatinya machine learning adalah salah satu aplikasi yang merupakan cabang dari ilmu Artificial Intelegence(Kecerdasan Buatan). 

Anda tentunya pernah menggunakan google untuk mencari sesuatu yang anda perlukan bukan? ketika anda mengetikkan pada search bar yang ada pada google beberapa huruf, google seolah mencoba untuk menganalisa apa yang ingin anda cari.     

Google melalui teknologi-teknologi yang dimilikinya, seperti google maps, google translate, google earth dan lain sebagainya, adalah berbagai contoh machine learning. Aplikasi-aplikasi yang dimiliki google tersebut tentunya memiliki sumber data yang tidak kecil. 

Sebagai contoh google maps. Sebuah aplikasi yang bisa anda gunakan sebagai penunjuk arah ketika anda ingin berpergian dari satu tempat ke tempat lainnya. 

Dulu ketika anda tidak tahu anda harus lewat mana untuk pergi ke tujuan anda, kini anda tinggal membuka aplikasi google maps untuk menunjukkan jalan mana yang bisa anda tempuh.

Kita tentunya bertanya bukan, data apa yang disimpan oleh google untuk aplikasi mapsnya ini dan sebesar apa data yang di simpan? Tidak mungkin data berupa teks yang disimpan untuk aplikasi ini. Karena hasil yang kita lihat adalah berupa gambar dan Google akan menampilkan peta sesuai yang anda inginkan dalam waktu yang relatif cepat. 

Ponsel anda memiliki fitur GPS langsung dibaca oleh google maps untuk menunjukkan posisi anda pada saat itu. Kemudian anda memasukkan tujuan anda. Ketika anda menekan tombol “Go”, maka google akan me-retrieve datanya lalu melakukan rendering. Sehingga akan terliat di layar ponsel anda arah yang bisa anda lewati untuk mencapai tujuan anda. 

Di sertai pula informasi-informasi mengenai kondisi lalu lintas macet atau lancar dengan warna merah kuning biru sebagai indikator nya. Demikianlah cara google memanfaatkan big data nya pada aplikasi google maps.

Google berhasil memanfaatkan kekayaan datanya dan mengolahnya menjadi informasi yang orang-orang butuhkan. Google mempelajari perilaku-perilaku manusia untuk mendesain aplikasi-aplikasi yang dibuatnya. Seperti google maps yang di design berdasarkan kebutuhan orang-orang akan informasi mengenai petunjuk arah atau peta. 

Lalu ditambahkan pula informasi mengenai kondisi lalu lintas. Apakah lalu lintas itu sedang dalam keadaan macet total, macetnya biasa-biasa saja atau lancar. 

Bahkan untuk di Indonesia khususnya Jakarta, google juga menerapkan fitur untuk ganjil genap nomor polisi kendaraan. Sehingga jika mobil anda bernomor genap dan anda bepergian di tanggal ganjil, maka google maps bisa menunjukkan jalan mana yang sebaiknya anda lewati.

Masih banyak lagi aplikasi-aplikasi google yang mengaplikasikan big data. Google translate, youtube, dan pastinya search engine nya itu sendiri yang hampir pasti dibuka oleh hampir semua orang di dunia setiap harinya.

Big Data Untuk Bisnis

Pada akhirnya tujuan penerapan big data adalah bisnis. Tidak hanya Google, raksasa teknologi lainnya seperti Yahoo!,Facebook,Apple dan IBM juga mengaplikaskan big data untuk menjalankan bisnisnya.

Banyak perusahaan-perusahaan yang menggunakan big data untuk menentukan strategi bisnis mereka. Seperti memberikan promosi kepada customer berdasarkan perilaku customernya. 

Ada yang menggunakannya untuk strategi anti-fraud. Bahkan ada “menjual” data itu sendiri. Apa maksudnya? Ada beberapa perusahaan yang mengolah data yang mereka punya, kemudian melakukan analisa lalu dijual datanya kepada perusahaan lainnya.

Contohnya, Perusahaan X adalah sebuah perusahaan pinjaman online. Perusahaan ini memiliki profil nasabah terkait kualitas kreditnya, bagaimana historical pembayarannya, apakah ada tunggakan atau tidak, dan lain-lain.  Profil nasabah tersebut kemudian diolah dalam bentuk credit scoring yang memiliki rentang nilai tertentu. 

Ketika data tersebut sudah “matang”, perusahaan X akan menjual informasi tentang profil nasabah yang dimilikinya kepada perusahaan atau lembaga keuangan lainnya. Informasi dalam bentuk scoring tersebut bisa dijadikan acuan oleh perusahaan atau lembaga yang membeli informasi dari perusahaan X untuk bisa memutuskan apakah seorang nasabah layak atau tidak diberikan pinjaman.

Dari contoh di atas, kita bisa lakukan perhitungan berapa yang penghasilan yang di dapat oleh sebuah perusahaan dari transaksi jual beli data tersebut. Jika 1 data dihargai sebesar Rp.10.000,-. 

Sebuah perusahaan membeli sekitar rata-rata 1000 data perhari dari perusahaan X tersebut. Maka penghasilan perusahaan X per hari dari satu perusahaan adalah sebesar Rp.10.000.000 dan Rp.300.000.000,- sebulan. Penghasilan yang menakjubkan bukan? 

Jika Perusahaan X memiliki 10 customer dengan rata-rata pemakaian yang sama, maka perusahaan tersebut bisa menghasilkan Rp.3.000.000.000,- perbulannya.

Sekarang ini kita banyak melihat perusahaan-perusahaan baru(startup) menjamur. Mulai dari, transportasi online, pembelian tiket online bahkan pinjaman dan kartu kredit online. 

Anda mungkin juga heran perusahaan-perusahaan baru tersebut mudah sekali “membakar uang” dengan promo-promo yang menggiurkan. Dari mana uang yang mereka dapatkan untuk membiayai promo tersebut? Mengapa banyak perusahaan-perusahaan besar mau berinvestasi di perusahaan startup? Yang resiko gagalnya justru lebih besar.

Dari contoh perusahaan X tadi, mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Bisnis dengan big data memang betul-betul memiliki masa depan yang menjanjikan. Dengan bisnis itulah, bagaimana perusahaan raksasa seperti Google atau Facebook “hidup”.

Masa Depan Dunia dengan Big Data

Semua data dan informasi begitu terbuka dan transparan. Siapapun bisa mengetahui tentang data orang lain dengan mudahnya. Bisa jadi anda memesan makanan melalui online atau via telepon si penjual makanan sudah tahu mengenai riwayat kesehatan anda. Sehingga bisa merekomendasikan makanan yang sebaiknya anda konsumsi. 

Atau anda dating ke suatu tempat seperti bank atau gedung perkantoran si customer service atau receptionist sudah mengetahui tentang data diri anda tanpa anda harus mengenalkan diri atau menunjukan kartu identitas anda. Karena ada face detector yang dipasang di tempat tersebut. Luar biasa bukan?

Di Indonesia sendiri beberapa hal terkait big data sendiri masih menjadi perdebatan. Hal ini terkait legalitas dan regulasi yang ada di negara ini. Apalagi data-data yang bersifat sangat pribadi dan sensitif, seperti data-data di bank atau lembaga keuangan lainnya. 

Anda mungkin pernah mendengar kasus Facebook yang diduga menjual data kepada pihak lain dalam hal ini ke Cambridge Analytica yang pada waktu itu digunakan untuk kepentingan-kepentingan politik salah satunya untuk pilpres Amerika yang memenangkan Donald Trump dan referendum Inggris dari Uni Eropa atau yang dikenal dengan Brexit pada 2016 lalu.

Terlepas dari segala pro dan kontra terkait penerapannya, karena big data bisa jadi menyangkut hal-hal yang kecil dan privacy, kita bisa membayangkan dunia seperti yang semakin tanpa batas dengan adanya big data. 

Semua data informasi begitu mudahnya diaccess bahkan sampai ke hal-hal kecil yang tampaknya tidak telalu penting. Apapun yang kita lakukan, dimanapun kita berada, apapun yang kita inginkan siapa saja bisa mengetahuinya.