Di era Facebook, bermunculan puluhan bahkan ratusan grup dan halaman yang secara khusus mengunggah puisi. Setiap hari bisa ratusan bahkan ribuan puisi ditulis, kemudian muncul di kronologi atau diskusi grup dan halaman.

Sebuah era booming puisi di jagat maya. Benar-benar menggembirakan bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia literasi, khususnya karya sastra

Selain itu, banyak pula yang menulis status di kabar berita atau berandanya dalam bentuk puisi. Mereka mencurahkan segala yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya dalam status berupa puisi. Jumlahnya juga mencengangkan kalau mau kita hitung. Sungguh, sebuah dinamika dalam dunia literasi yang layak kita syukuri.

Penulis puisi itu pun sangat beragam, baik dari segi usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, maupun kemunculannya. Ada penulis anak-anak, ada penulis remaja, ada yang sudah dewasa, dan ada yang sudah tua, bahkan lebih tua dari saya, atau sangat tua juga ada. Ada penulis perempuan dan ada pula penulis laki-laki.

Selain itu, ada penulis yang bekerja di kantor sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN), ada yang karyawan atau buruh swasta, ada yang wiraswasta, ada pengusaha, ada dosen dan guru, ada dokter, ada ibu rumah tangga, ada yang pensiunan dan purnawirawan, ada pejabat, dan ada pula penganggur.

Di samping itu, ada yang berpendidikan sekolah dasar, sekolah menengah dan ada pula yang sekolah tinggi. Ada penulis pemula, ada penulis yang memiliki cukup jam terbang, dan ada pula penulis kawakan dan lumutan. Semuanya meramaikan dunia tulis-menulis, khususnya di blantika sastra genre puisi.

Bila dicermati, puisi-puisi tersebut ditulis dengan motif yang beraneka ragam. Ada yang sekadar ingin curhat, ada yang menyindir, ada yang mengkritik, ada yang narsis, ada yang merayu, ada yang mencemooh, ada yang menasihati, ada yang memberitahu, ada yang menyanjung, dan ada pula yang mengenang. 

Akan tetapi, ini semua bisa dipersempit lagi sebagai upaya untuk berekspresi, berterapi, berkomunikasi, bersosialisasi, berkreasi, bersilaturahmi, dan berdakwah. 

Tidak Ada Motif Ekonomi

Tidak ada motif ekonomi dalam kegiatan menulis puisi di Facebook. Sebab, mereka tak memperoleh honorarium dari grup tempat mengunggah puisi, di halaman yang dikelola, atau sekadar dari Facebook. Saya salut kepada mereka yang aktif dan produktif menulis puisi meskipun tak memperoleh penghargaan secara ekonomi.

Padahal, mereka memerlukan modal yang tak sedikit. Misalnya untuk membeli laptop atau handphone, membeli pulsa, memasang internet, dan membeli cemilan atau makanan dan minuman untuk menemaninya ketika tangannya keriting memencet tombol di seluler atau website, matanya pedas menatap layar monitor, dan keningnya berkeringat saat berpikir mencurahkan gagasan, pikiran, dan perasaannya.

Pengiriman sajak atau puisi ke berbagai grup layaknya harus menaati peraturan yang telah dibuat dan ditetapkan oleh pengurus grup meskipun isi dan bentuknya tak dibatasi. Secara umum, peraturan tersebut misalnya tidak melanggar norma sosial, susila, dan agama. 

Bisa juga tidak bertendensi pornografi. Bisa pula – meminjam istilah populer di era Orde Baru – tidak boleh melanggar Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Selebihnya adalah puisi tersebut bukan karya plagiasi.

Persyaratan dan ketentuan lebih spesifik yang berkaitan dengan unsur intrinsik puisi dibuat oleh beberapa grup puisi yang mengunggah puisi dengan model eksperimen, seperti Sajak Satu Kata (SA-SAKA), Hanya Satu Huruf (HSH), Puisi Tiga Kata (PUTIKA), Puisi Sakmasek, Puisi Padma, Puisi Patidusa, dan Puisi Haiku

Selain itu, ada pula grup puisi yang menerima kiriman khusus puisi pantun dan karmina. Tentu saja beberapa grup puisi tersebut mensyaratkan kiriman puisi yang harus sesuai dengan ketentuan konsep dan teori puisi yang dibuat oleh pengurusnya.

Dengan syarat demikian, para penulis puisi mencatatkan namanya di berbagai grup. Puisi-puisi mereka merebak hingga dalam satu hari ada penulis puisi yang dapat menulis dan mengirimkan lima hingga sepuluh buah puisi. Benar-benar mantap suratap dan jos gandos

Produktivitas menulis puisi dan frekuensi kemunculan nama penulisnya benar-benar telah terakomodasi oleh Facebook. Setiap detik kita dapat membaca status berupa puisi.

Facebook Bidan Puisi

Sebagai media sosial, Facebook telah melahirkan banyak penulis puisi. Terlepas dari puisi karya mereka bermutu rendah, sedang, atau tinggi, mereka telah menggunakan Facebook sebagai sarana untuk berlatih menulis puisi dan mencatatkan namanya di dunia sastra, khususnya pada  genre puisi. Benar-benar booming.

Hal ini tentu berbeda jika para penulis puisi hendak mengirimkan karyanya ke media massa cetak koran dan majalah. Jika mengirimkan puisi ke koran, penulis puisi harus memahami visi dan misi serta selera pengasuh atau redaksi sastra koran tersebut. 

Selain itu, kemungkinan dimuatnya juga kecil. Sebab, koran hanya memuat karya puisi seminggu sekali, yang bisa kita nikmati di koran edisi hari Sabtu atau Minggu.

Jumlah puisi yang bisa dimuat pun maksimal lima hingga sepuluh puisi, sehingga puisi yang layak muat pun harus antre berbulan-bulan menunggu pemuatan di rubrik puisi. 

Dengan demikian, kompetisi menulis puisi di koran juga ketat. Jika dimuat, tentu saja penulisnya akan memperoleh honorarium pemuatan karena koran tersebut diperjualbelikan sebagai komoditas media massa cetak.

Meskipun tidak melalui penilaian dan pertimbangan oleh pengurus grup puisi, puisi yang muncul di Facebook tidak seluruhnya di bawah standar literer karya puisi. Banyak puisi yang memang layak mendapat bintang. 

Akan tetapi, yang lebih utama tentunya adalah – seperti yang sudah saya katakan tadi – mereka bebas menyuarakan gagasan, pikiran, dan perasaannya, bebas bereksperimen, dan bebas berlatih terus-menerus tanpa ada hambatan.

Setiap hari lahir bayi-bayi puisi yang menggairahkan di jagad maya melalui tangan sang bidan. Bidan puisi di era media sosial ini bernama Facebook. Sangat menyenangkan!