Mahasiswa
2 minggu lalu · 68 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 62145_81934.jpg

Bidadari Cahaya

Dahulu, aku adalah seorang pemuda yang terjebak di dalam belantara hutan yang lebat, yang setiap malam selalu diselumti oleh kegelapan malam dalam sunyi dan dingin yang berkepanjangan.

Setiap saat aku menjerit, lalu berusaha keras untuk mencari cahaya dengan memukulkan batu-batu demi menyalakan api. Namun hujan malah mengusirku, petir juga meneriaki, aku pun terpaksa hidup dalam penderitaan yang panjang.

Pada saat itu, aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan.

Di suatu malam yang kelam, saat hujan lebat bertempur hebat melawan petir, aku menggigil kecut dalam lembah hutan yang berlumpur, lalu berusaha bangkit dan berlindung di balik ranting-ranting pohon yang masih berdaun. Hampir saja jasadku ini kehilangan ruhnya yang sudah berada di ujung pelupuk mata.

Saat itulah aku melihat sebuah pancaran cahaya yang terang, yang turun dari langit, lalu memberiku kehangatan dan kekuatan, cahaya itu di bawa oleh seorang bidadari cantik yang berkerudung panjang, senyumannya membuat peperangan hujan dan petir menjadi reda seketika.

Bidadari itu tak melihatku, hanya aku saja yang terlalu ingin melihatnya. Ia berjalan pelan sembari melipatkan sayapnya dipunggung, lalu menghirup aroma bunga-bunga rumput yang mekar, sedangkan aku hanya membuntutinya dari belakang. Terkesima.

Kulihat parasnya sungguh anggun, kulitnya  mengkilau indah seakan terbuat dari kilauan mutiara. Wajahnya lembut dan anggun, hingga membuat pirasat ku ini langsung menebak, bahwa wanita itu adalah wanita yang paling terbaik di muka bumi ini.


Lalu aku memberanikan diri untuk menemuinya, dan kemudian berbincang-bincang dengan bahasa ku yang kadang membuatnya kebingungan. Namun bingungnya itu sungguh menawan, ia tersenyum manis dengan bola mata yang teduh dan bercahaya. Kini aku menyebutnya Dewi cahaya.

Saat itulah kami mulai berbincang panjang, dan diapun berkenan mendengarkan semua cerita-ceritaku yang penuh duka. Kadang ia menghadiahkan ku seuntai senyum yang manis sehingga membuatku semakin bersemangat untuk terus melanjutkan cerita.

Di akhir perbincangan itu, aku memohon agar ia bersedia membawaku pergi dan terbang menuju tempat yang jauh agar aku bisa terbebas dari tempat yang gelap itu selamanya. Singkat cerita, bidadari cahaya yang anggun itupun menyetujuinya dengan sebuah anggukan yang lembut.

Saat itulah kami pun mulai terbang bersama. Ia membawaku ke tempat yang tinggi, menembus lapisan awan dan langit, lalu singgah pula di puncak gunung-gunung yang tinggi, saat itulah dia mengajariku tentang sebuah arti dan tujuan kehidupan yang sebenarnya.

Petualangan menembus langit dan gunung terasa begitu menyenangkan, namun yang paling membuatku terkesan ialah senyumannya. Setiap kali menuturkan kata-kata ia selalu menatapku dengan sepenuh hati, entah mengapa pada saat itu niatku mulai berubah. Aku mulai jatuh cinta kepadanya.

Sesaat sebelum ia mendaratkan ku di sebuah puncak gedung yang tinggi di tengah-tengah kota,  aku memberanikan diri untuk mengungkapkan semua perasaanku itu. Bahwa aku benar-benar telah jatuh cinta kepadanya, dan aku tidak ingin berpisah darinya selamanya.

Namun, bidadari cahaya yang anggun itu memilih untuk tidak bersuara, dan kulihat raut teduh wajahnya itu pun juga sudah mulai berubah kemerahan. Sepertinya ia sedih dan ingin segera menangis.

Setelah mendaratkan ku di puncak gedung itu, sembari mengepakkan kedua sayapnya, ia menatapku dengan wajah sembab dan basah dan bersiap-siap pergi untuk meninggalkanku.

Saat itulah aku menangis, memanggil-manggil namanya dan memohon agar ia tetap hidup bersamaku selamanya. Namun, semua itu hanyalah sia-sia belaka.

Bidadari cahaya itu menangis sedu mendengar suara tangisku, suaranya hampir saja membuat hatiku ini semakin sesak dan mati.

Katanya, "Wahai pemuda, aku ini hanyalah sekedar cahaya yang di utus oleh Tuhan untuk menyelamatkanmu dari tempat yang gelap dan kemudian membawamu menuju tempat yang terang.


Kini, semua hajat dan doamu telah dikabulkan oleh Tuhan, maka habislah pula masaku berdiri di sampingmu. Aku akan kembali pada takdir hidupku dalam cahaya, dan kau pun juga harus kembali pada takdirmu sendiri di alam dunia ini. Jika memang Tuhan merestui kita, semoga saja di lain waktu kelak kita akan kembali dikumpulkan dalam satu genggaman tangan yang sama."

Airmatanya mengalir membelah pipinya bagai sungai, lalu ia pun terbang menembus langit, cahayanya semakin redup dan lenyap ditelang oleh jarak yang semakin jauh.

Kini yang tersisa hanyalah kenangan dan aroma tubuhnya yang harum. Tidak ada lagi tutur kata yang lembut dan juga senyuman manis yang menawan hati.

Pada saat itulah aku baru sadar, bahwa bidadari cahaya itu hanyalah perantara yang di utus oleh Tuhan untuk menjawab doa-doaku. 

Meski sesak dadaku ini menangisi kepergiannya, namun ia tetap jua tidak akan pernah datang kembali dalam wujud manusia. 

Namun aku sangat bersyukur telah mengenalnya, karena bidadari cahaya itulah yang telah menyelamatkanku dari tempat yang gelap, dan juga mengajarkanku tentang arti dari sebuah kehidupan yang sesungguhnya.

Kini, tinggallah aku sendiri yang menjejaki hidup dalam takdirku di alam dunia ini. Semoga kelak bidadari cahaya itu akan datang kembali mengunjungiku dalam wujud seorang wanita yang solehah.

Begitulah harapanku.

Artikel Terkait