Peneliti
9 bulan lalu · 704 view · 5 menit baca · Politik 95709_87665.jpg
@mohmahfudmd

Bicaralah (Blak-Blakan), Mahfud MD

Mengikuti kisah Mahfud MD memang sangat menginspirasi. Ada saja hal yang menarik yang ia lontarkan ke publik. Lewat media-media sosial, daring ataupun luring, keseringan melalui twitter, atau muncul diwawancarai dan sebagai nara sumber acara-acara talkshow di layar kaca.

Tema yang ia angkat beragam, dari soal-soal hukum tata negara (sesuai bidang yang digelutinya) sampai soal-soal agama, sosial, politik, dan budaya pun tidak luput dari perhatiannya.

Mahfud MD, yang wong Madura dan mantan Menteri Pertahanan pada era pemerintahan Presiden Abdur Rahman Wahid (Gus Dur), juga dipercaya sebagai anggota dewan pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di era pemerintahan Presiden Jokowi ini. Selain itu, di profil akun twitternya tertulis, Mahfud MD adalah Guru Besar Fakultas Hukum UII Yogya, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2013, Ketua Presidium KAHMI, Ketua Dewan Kehormatan ISNU, Ketua PP IKA-UII, Ketua Dewan Pleno PressCode, memang dikenal ceplas-ceplos dan lugas dalam menyampaikan pendapatnya.

Bahkan dalam beberapa kesempatan tampil di televisi, terutama di acara talkshow yang dipandu Karni Ilyas, ILC, Mahfud MD selalu memesona dan sangat mengesankan bagi publik yang menyaksikan. Pendapat dan komentar-komentarnya sangat ditunggu. Jadilah Mahfud MD sengaja ditempatkan di ujung acara laiknya memberi kata epilog dan mengulas kesimpulan dari masalah yang menjadi viral dan aktual di linimasa.

Ibarat bintang, Mahfud MD adalah bintang kejora yang tengah bersinar terang yang sangat memukau setiap orang.

Nama Mahfud MD kembali mencuat jelang pendaftaran Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden perode 2018-2024 kali ini. Ia digadang-gadang sebagai cawapres yang akan mendampingi Jokowi, capres petahana.

Namun, takdir berbicara lain. Jokowi dan partai-partai koalisi sepakat mendeklarasikan KH. Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya. Otomatis, Mahfud MD batal.

Lantas, kenapa sampai batal, padahal detik-detik terakhir pendaftaran ke KPU sudah mengerucut ke satu nama yang berinisial "M" yaitu Mahfud MD sebagai cawapres berpasangan dengan Jokowi?


Mahfud MD akhirnya bercerita blak-blakan soal ini di acara ILC. Mahfud MD mengatakan bahwa dirinya diminta oleh Presiden Jokowi dan partai-partai koalisi untuk menjadi cawapres. Adalah Pratikno, Menteri Sekretaris Negara dan Teten Masduki, staf kepresidenan, menghubunginya lewat telepon untuk bersiap-siap pada hari "H" pendaftaran pasangan capres-cawapres ke KPU.

Bahkan ia sempat diminta ke istana untuk sesi fitting baju (konon seragam berwarna putih) yang akan dikenakan saat pendaftaran. Namun ia keberatan karena waktunya sudah mepet dan tidak mungkin ia datang ke istana. Akhirnya, disepakati bahwa ia diminta mengirim contoh ukuran bajunya saja. Bajunya pun saat ini belum dikembalikan kepadanya oleh pihak istana.

Sampai soal pemberangkatan ke kantor KPU pun diatur sedemikian rupa, Mahfud MD diminta untuk bareng Jokowi satu motor. Mahfud MD lagi-lagi menolak. Ia meminta menggunakan dua motor, nggak usah boncengan bareng Jokowi. Permintaan Mahfud MD pun ditolak, karena alasannya sekadar lebih ke faktor instagramable. Jelek kalau difoto wartawan.

Entah mengapa, saat tiba waktunya Presiden Jokowi dengan didampingi ketua-ketua umum dari 9 partai pendukung (PDI-P, Partai Golkar, PPP, PKB, Partai Nasdem, Partai Hanura, PKPI, PSI dan Partai Perindo) mendeklarasikan KH. Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya.

Mahfud MD hanya kaget tapi tidak merasa kecewa atas pembatalan dirinya. Ia menegaskan bahwa karena keperluan (kepentingan) negara lebih penting ketimbang sekadar nama Mahfud MD atau KH. Ma'ruf Amin.

Sebelumnya, di detik-detik terakhir yang krusial dan menentukan itu, menurut Mahfud MD, ia menerima kabar bahwa KH. Said Aqil Siraj (Ketua Umum PB NU) bersama Muhaimin Iskandar (Ketum PKB) dan KH. Ma'ruf Amin (Ketum MUI Pusat) menghadap Presiden Jokowi. Saat itulah, menurut cerita Mahfud MD, konon bahwa KH. Said Aqil Siraj menyebut bahwa dirinya (Mahfud MD) bukan kader NU. 

Said Aqil Siraj meminta cawapres itu harus dari kader NU. Bahkan, Ketum PB NU ini mengancam menarik dukungan NU dari pemerintahan Jokowi jika cawapres bukan merupakan kader NU.

Soal dirinya diklaim bukan kader NU, Mahfud MD tentu saja menampik, karena ia sejak kecil secara kultural berada pada lingkungan NU, bahkan jelas-jelas sampai sekarang pun ia masih menjabat dewan kehormatan di ISNU.

Jauh sebelumnya lagi, berkaitan klaim bahwa ia bukan kader NU, Mahfud MD sempat sowan ke tokoh dan sesepuh NU yang kharismatik, KH. Maimun Zubair. Hasilnya, KH. Maimun Zubair sampai harus menegaskan bahwa Mahfud MD adalah kader NU. Tidak benar yang mengatakan bahwa ia bukan kader NU.

Termasuk bahwa sebenarnya KH. Said Aqil Siraj pun pernah menyebut Mahfud MD sebagai kader NU ketika dimintai tolong membantu menangani suatu kasus saat ia menjabat Ketua MK.

Mahfud MD bercerita secara blak-blakan seperti ini, bukan berarti ia merasa kecewa, sakit hati atau dipermalukan. Tidak. Tapi ia menyadari bahwa inilah realitas politik. Dalam politik, apa saja bisa terjadi. Politik itu dinamis. Bahkan Mahfud MD menegaskan bahwa ia legowo dan ikhlas atas peristiwa politik yang ia alami. Ia hanya kaget.

Ketika ditanya, apakah ia bersedia jika nanti ditunjuk sebagai tim sukses dan siap mendukung Jokowi? Ia hanya menjawab bahwa ada dua fungsi yang melekat pada Jokowi saat ini: Jokowi sebagai Presiden dan Jokowi sebagai calon presiden periode 2018-2024. 

Dan Mahfud MD sampai saat ini tercatat sebagai anggota dewan pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dalam pemerintahan Jokowi. Secara etika, ia harus mengundurkan diri dari anggota dewan pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) apabila ia nanti menjadi tim sukses Jokowi. Ini artinya, ia cenderung untuk tidak menjadi tim sukses Jokowi.


Alih-alih sakit hati, Mahfud MD malah memuji personal Jokowi. Menurutnya, ada 4 keteladanan Jokowi sebagai pemimpin. Jokowi itu bersih (tidak korupsi), bahkan anak-anaknya tidak terlibat proyek-proyek pemerintah, berani mengambil keputusan, cepat merespons dan menyelesaikan masalah.

Merespons cerita blak-blakan Mahfud MD ini, Rocky Gerung yang hadir pada ILC saat itu, menyatakan bahwa kita menyaksikan dengan jelas penghianatan demi penghianatan yang immoral (tidak bermoral). 

Menurutnya, hal tersebut merupakan kejadian tidak bermoral (immoral) yang ditunjukkan dalam pesta demokrasi.

"Ini soal immoral, itu adalah delik moral mempermalukan seorang warga negara di ujung pesta, apa kurang tidak bermoralnya itu," kata Rocky. 

Ia sempat menyebut Jokowi sebagai pemimpin yang tidak berintegritas, tidak tegas, dan mudah dipengaruhi sehingga keputusannya cepat berubah-ubah.

Namanya juga Rocky Gerung. Sudah biasa nyeleneh, bikin sensasi dan suka genit. Bukankah Rocky Gerung memang suka begitu? Jadi nggak aneh. Anggap saja apa yang disampaikan Rocky Gerung adalah fiksi, bukan fakta. Hanya khayalan!

Karena faktanya, Mahfud MD sudah bicara blak-blakan di hadapan publik bahwa ia tidak kecewa, tidak sakit hati, dan tidak merasa terhina. Bahkan, jelas-jelas, ia tampak legowo, lkhlas, dan berjiwa besar.

Artikel Terkait