Seperti biasa, angin malam yang mulai kelam pasti menusuk tulang. Yang tidak biasa adalah insomniaku kambuh.

"Jangan tidur dulu, kita harus berbincang!" Perintahku dalam sisi diri yang lain.

Ini bukan membelah diri seperti Amoeba. Ini hanyalah sedikit keadaan dari peliknya konflik batin.

"Tentang apa?"

"Apa saja yang perlu diperbincangkan. Terutama penyebab insomniamu kambuh."

"Ah, sial! Ternyata dia tahu juga." Batinku dalam ruang diri sebenarnya.

Aku dan sisi diriku yang lain memang suka saling berbincang. Kusebut dia dengan Cahaya. Cahaya selalu indah, bersih, dan kemilau. Selaras dengan kata-kata bijaknya. Si Cahaya juga selalu tahu apa pun tentang isi hati dan pikiranku, tak pernah luput meskipun hanya butiran debu.

Dia tidak suka berbelit-belit. Kata-kata sarkas Cahaya sering membuatku terpojokkan. Aku merasa tersudut karena dia mengungkap bottom of the deck. Realita lebih banyak menyakitkannya, maka dari itu tak mengenakkan hati.

Cahaya, dia sisi diriku yang sangat kucintai. Dapat kurasakan bahwa dia selalu menggenggam tanganku erat, selalu menarik paksa ketika aku memilih diam dalam jatuh, dan memaki atas kebodohan pikiranku.

Aku sering melampaui halusinasi. Pikiranku kejam dan sering bodoh. Sudah tahu salah, tapi masih terus dicari kebenarannya. Sudah tahu benar, tapi masih dicari kesalahannya.

"Aku tahu, kamu sedang memikirkan perihal takdir." Ucapnya tanpa menoleh ke arahku.

Aku pun tak menoleh. Kami masing-masing menatap ke depan. Bukan, ini bukan tatapan kosong. Pikiran kami ramai dengan kata-kata yang berlomba ingin disuarakan.

"Iya. Takdir itu sederhana. Seperti aku dilahirkan ke dunia ini. Lalu ada kau!" Akhirnya kujawab dengan pilihan yang paling mudah diucapkan. Persetan dengan segala kerumitan.

"Tidak! Aku tahu bukan itu maksudmu."

Sekilas tertangkap senyum sinisnya dari ekor mataku. Oh, senyuman itu! Persis senyumanku tiap kali muak dengan seseorang. Pasti Cahaya pun demikian denganku.

Kemudian dia melanjutkan ucapannya,

"Takdir yang kamu maksud adalah segala sesuatu yang belum terjadi. Iya, bukan?"

Aku termenung.

"Kenapa? Apa yang salah dengan sesuatu yang belum terjadi?" Kata-katanya begitu datar dan tenang, tapi mulai menusuk.

"Tidak ada. Tapi, ..."

Dia memangkas penjelasanku. Seolah tidak disediakan sedikit pun ruang bagiku mengeluh.

Cahaya angkuh. Tapi, aku lebih angkuh. Terkadang tidak ada kesadaran untuk mengakui kebodohan pikiranku sendiri. Atau mungkin dia terlalu bosan melihat tingkahku.

"Kamu kebanyakan TAPI!" Nadanya mulai menanjak.

Aku kaget. Jarang aku melihat diriku sendiri mulai bicara dengan suara tinggi. Seperti bukan aku!

"Kamu menyakiti dirimu sendiri dengan segala ilusi. Semua kamu buat-buat sehingga sakit kepalamu itu!" Cahaya mulai menatap ke arahku. Wajahnya menyeramkan, aku takut.

"Kamu tahu, seekor kodok berhasil sampai di gedung tertinggi dan mengalahkan kodok-kodok lain karena dia tidak pernah mendengarkan ejekan siapa pun. Dia tuli. Dia menang karena dia tuli! Kodok lain berjatuhan karena mendengarkan ejekan itu! Apakah itu takdir?" Agaknya Cahaya mulai sebal. Dia menatap ke arah depan, memalingkan wajahnya.

"Apa maksudnya? Aku bukan kodok." Balasku.

Dia tersenyum kecut.

"Kamu hanya pura-pura tidak tahu maksudku. Jika berbicara takdir dari kacamata kita, kodok yang tuli tidak akan mungkin sampai ke atas gedung. Tapi, justru itu yang membuatnya menang. Jadi, kamu jangan sok tahu masalah takdir!"

Kemudian dia menyambung lagi,

"Kamu tentu tahu, yang bernyawa pasti akan mati. Tapi, tidak ada yang tahu persis detiknya. Sekalipun ada orang yang bilang 'besok kamu mati', kalau Yang Menciptakan belum mematikanmu, ya kamu masih hidup. Janganlah terlalu resah, sehingga kamu lupa bahwa hidup ini indah!"

Hilang. Cahaya lenyap. Sebagian diriku sudah kembali. Kami menyatu dalam jiwa dan terkurung di raga yang sama.

Tentang segala sesuatu yang mengganggu pikiran dan belum terjadi, kulangitkan kepada-Nya. Yang baik, kusemogakan. Yang buruk, semoga diganti baik.

Allah tempat meminta segala sesuatu. (QS. Al-Ikhlas ayat 2)

Tuhan, sejelas apa pun keburukan yang belum terjadi, Engkau Maha segala. Tidak ada kejadian buruk yang menyiksa kami kecuali itu terbaik bagi diri kami.

Manusia tempatnya goyah. Bak pohon jika tak kokoh, ada angin sedikit, goyang dan retak tanah di sekitar akarnya. Begitulah, manusia punya kadar masing-masing dalam menyikapi segala perihal yang terjadi. Kuharap aku bisa seperti pohon yang tidak mudah retak sisi tanahnya.

Manusia memiliki bagian diri yang lebih kuat dari bagian lainnya, sebagaimana aku punya Cahaya. Dia adalah diriku, sahabat terbaikku. Sosok yang ditakdirkan untuk menghibur, menguatkan, dan menjagaku.

Bagiku, segala yang sudah terjadi itulah takdir. Kelahiran adalah contoh takdir paling nyata, karena siapa pun tak pernah ada yang bisa meminta keadaan seperti apa ketika dia muncul ke bumi ini. Selebihnya, semoga bisa kita negosiasikan lagi pada Sang Pencipta.