“People condermined to be free,” begitu ucap seorang filsuf eksistensialis Jean-Paul Sartre. “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa”. Kata-kata ini termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menjadi landasan dasar konstitusi di Indonesia.

Kata kebebasan dan kemerdekaan punya makna yang serupa. Bebas atau merdeka adalah kondisi di mana tidak ada satupun faktor dari luar yang mengintervensi keputusan selain diri sendiri. Kemerdekaan Negara artinya Negara tersebut bebas mengatur dirinya sendiri sesuai kemauannya. Begitu pula dengan kemerdekaan sebagai individu.

Agar tidak pusing dengan istilah yang tertukar. Selanjutnya saya hanya menggunakan istilah kebebasan. Toh, maknanya hampir sama, kan?

Kebebasan dan Humanisme

Manusia dianggap sebagai makhluk istimewa. Terpisah dari seluruh makhluk hidup lainnya: hewan & tumbuhan. Benar atau tidaknya itulah anggapan umum kebanyakan manusia saat ini. Kepercayaan semacam ini membuat kemanusiaan harus diagungkan dan dijunjung tinggi. Istilah kerennya: Humanisme.

Kaum humanis percaya bahwa keistimewaan manusia merupakan hal terpenting di dunia. Seluruh dunia dan isi makhluknya harus tunduk pada kepentingan manusia.

Kepercayaan humanisme mendapat sokongan dari doktrin agama yang menyatakan bahwa setiap manusia sama di mata Tuhan. Sehingga keistimewaan itu ada di seluruh individu manusia tanpa terkecuali. Dari sini, lahirlah hak asasi manusia yang sering diagung-agungkan penganut humanisme.

Karena setiap manusia memilki keistimewaan, maka kebebeasan individu bersifat saling keramat. Tidak ada yang berhak mengatur hidup manusia lain, sebab hanya diri sendiri lah yang paling memahami dirinya. Bila kita menemukan dilema etis, tanyalah pada diri sendiri. Mau memilih pemimpin? Diri sendirilah yang paling mengetahui siapa pemimpin terbaik untuk dirinya. One Man, One Vote.

Hampir seluruh nilai dan norma kehidupan kita saat ini berakar dari kepercayaan humanisme. Termasuk politik. Hampir semua Negara saat ini menganut demokrasi. Perintah utama humanisme dimaksudkan untuk melindungi kebebasan nurani dari intervensi pihak luar.

Batas Kebebasan

Jika kebebasan manusia merupakan hal yang paling keramat, bagaimana jika setiap manusia menggunakan kebebasan? Bukankah akan terjadi kekacauan seandainya seluruh manusia bebas berbuat semaunya? Mereka yang pesimis mungkin akan menjawab: Iya.

Lantas, dimana batas kebebasan? Apakah harus ada satu otoritas yang mengatur batas-bata kebebasan dan menetapkan hukum? Di tengah masyarakat bodoh yang tidak sadar, saya jawab: Iya.

Di tengah masyarakat yang berfikir dan sadar, tidak perlu satu otoritas tertentu yang mengatur batas kebebasan dan menetapkan hukum. Sebab, kebebasan seseorang pasti akan tebentur dengan kebebasan orang lain. Hanya perlu sedikit akal sehat dan kemauan berfikir untuk menyadarinya.

Seseorang boleh bebas melakukan apapun pada sesuatu yang dimilikinya. Singkatnya, batas kebebasan adalah hak kepemilikan. Seandainya kamu memiliki seluruh dunia, maka kamu bebas melakukan apapun pada dunia. Toh, itu sesuatu yang mustahil, bukan?

Asas humanisme dengan ayat sucianya yang bernama “Hak Asasi Manusia” melarang seseorang merenggut HAM sesorang. Artinya, tidak mungkin ada seorangpun yang bebas melakukan apa saja pada orang lain. Karena, HAM adalah ayat suci yang diimani oleh PBB selaku lembaga atas nama dunia.

Apakah kamu boleh memakai narkoba? Boleh. Masturbasi? Boleh. Membakar rumahmu? Boleh. Meraba payudara orang lain? Tidak boleh. Mengambil makanan orang? Tidak boleh. Sesuatu yang menjadi milikmu bebas kau apakah saja. Kalau punya orang lain? Eits.. butuh izin dari yang punya. Inilah asas kebebasan, perlu kedewasaan berfikir dan pertanggung jawaban untuk mengemban kebebasan.

Sisi Lain Kebebasan

Kebebasan mengharuskan pertanggung jawaban. Semua perbuatan yang dilakukan harus ditanggung sendiri. Konsekuensi dari kebebasan adalah lahirna masyarakat yang dewasa. Sayangnya, di tengah masyarakat yang bodoh, kebebasan bisa disalahgunakan menjadi malapetaka.

Tetapi, jaman sedang bergerak untuk menganut humanisme. Artinya, kebaukan bagi seseorang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Apa hal yang membuat seseorang bahagia? Ya, tergantung individu itu sendiri. Yang jelas, setiap orang bebas dan berhak mengjar kebahagiaannya selama tidak mengusik kebebasan orang lain.

Banyak sekali cara yang ditempuk manusia untuk mencapai kebahagiaan. Ada yang menimbun uang agar dapat hidup mewah, ada yang mengabdikan diri pada agama dan hidup sederhana, ada yang memilih untuk berkelana keliling dunia dan masih banuak lagi.

Terdapat dua hal yang dijamin oleh asas kebebasan yang berbenturan dengan pemabaham moral orang kebanyakan. Pertama, narkoba. Kedua, prostitusi. Dua hal ini prakteknya dilarang keras di negeri yang katanya penuh kekayaan alam. Tapi dengan bodohnya membiarkan rakyatnya dalam kesengsaraan.

Kontroversi Kebebasan

Narkoba digunakan secara sukarela oleh penggunanya. Transaksinya dilakukan dalam asas mau sama mau. Artinya, tidak ada pelanggaran hak milik disni. Sama seperti perdagangan pada umumnya. Kalaupun narkoba berbahaya, penggunanya akan menanggung sendiri akibatnya.

Kemudian prostitusi. Logika kebebasan juga membolehkan praktek ini. Toh, pelaku dan pelanggan melakukan transaksi dalam asas mau sama mau. Tidak ada pelanggaran hak milik. Praktek ini berbahaya? Biarkan pelaku dalam bisnis ini menanggung sendiri akibatnya.

Mengapa Negara perlu ikut campur dalam urusan pribadi seseorang yang ingin menempuh cara berbeda dalam pencapaian kebahagiaan? Logika apa yang digunakan? For a greater good? Sepertinya kita terbiasa menjadi dictator yang merasa lebih baik dan lebih pintar dari orang lain sehingga berhak menghakimi seseorang yang menempuh cara berbeda.

Kalau Negara ingin melindungi warga negaranya, praktek di atas seharusnya diregylasi. Dalam kasus narkoba, dipilaj-pilah man ayang berbahaya mana yang tidak. Jangan semua disamaratakan. Apakah bahaya ganja sama dengan heroin? Tidak. Berikan saya satu literature ilmiah yang mengatakan ganja lebih berbahaya dari rook atau miras (yang dilegalkan Negara). Atur juga dosis yang terpat per individiu.

Ingin melindungi pelaku bisnis lendir? Lakukan pengecekan kesehatan secara rutin. Jamin juga hak-hak yang menawarkan jasa kepuasan itu (mereka tentang). Buat lokalisasi, kalau perlu setifikasi. Sebab, tidak sedikit juga orang yang mengejar kebahagiaan lewat seks. Bukankah seharusnya Negara menjamin kebahagiaan warga negaranya?

Dua praktek di atas buruk? Siapa kita sehingga berhak menghakimi seseorang? Kalaupun kita berhak, beranilah pesoalan ekonomi. Dua bisnis di atas lahir dari kesempitan ekonomi. Ada peluang yang baik untuk meraup keuntungan. Dimana permintaan tertinggi, supply,akan menemukanya. Hukum ekonomi.

Pertanyaan yang harus dipisahan adalah mengapa permintaan narkoba bisa sedemikian tinggi? Kalau Negara bisa menemukan jawabannya, mungkin pemberantasan narkoba bisa dilakukan sampai ke akar-akarnya. Bukan Cuma menangkap pemakai, kurir dan Bandar kecilnya saja. Ya, walaupun belakangan Bandar besar juga ditangkap. Tetapi, tetap saja itu bukan solusi yang mengatur.

Kemudian, mengapa permintaan jasa lendir tinggi? Ini mudah. Sebab, pria secara alami bukan makhluk monogami. Pria terlahir untuk membuahi banyak wanita. Dorongan seksualnya meledak-ledak. Tidak ada solusi yang lebih tepat daripada regulasi prostitusi.