Public Relations
1 bulan lalu · 67 view · 3 menit baca · Wisata 51213_21542.jpg
Spot Riyadi (Dok. Pribadi)

Bibit Rindu Yogya di Spot Riyadi

Pengen menikmati kopi sambil memandang Yogya dari ketinggian? Tidak tinggi-tinggi amat sih. 

Tak jauh dari Kawasan Candi Ratu Boko. Begitu naik ke kawasan ini, pandangan pertama pasti akan jumpa dengan Abhyagiri. Ini tempat ngopi cantik. 

Pemandangannya juga asyik. Sepadan dengan harganya. Bolehlah kalau ajak pacar atau istri tersayang. Tetapi saya tidak ingin mengajak Anda ke sini. Selain karena harus reservasi, tidak asyik kalau tempatnya terlalu gampang dicari.

Pastikan begitu mendekati kawasan Boko ini, GPS dinyalakan dengan pencarian "Spot Riyadi". Ya, cukup tulis begitu saja, maka GPS akan mengarahkan tempatnya. 

Naik mobil, oke; naik motor, apalagi. Tetapi naik sepeda bagi yang suka tantangan dengan tanjakan, silakan. 

Banyak kok pesepeda yang ke sini. Biasanya pagi atau sore hari. Malam lebih menantang karena ada beberapa jalur yang tidak terlalu terang. Ini selalu menjadi perjalanan yang menyenangkan buat saya setiap ke Yogya.

Begitu sudah sampai Spot Riyadi, pesanlah kopi, pisang goreng, atau apa pun yang ada di sana. Pilihan makanan tidak banyak. Tetapi itu tidak terlalu penting. 

Jauhkan gawai dan ngobrollah dengan teman-teman seperjalananmu. Handphone hanya diperlukan untuk foto-foto, memotret Yogya dari tempat yang sepi. Kalau bawa anak-anak, ada beberapa tempat foto yang sengaja disediakan. Cukup bayar Rp5000 untuk satu spot.

Pernah kami ke sini, pesan teh, kopi, dan beberapa piring gorengan dengan uang Rp100.000 masih kembali. Ini tidak sebanding dengan Abhyagiri. Di sana kita bisa menghabiskan Rp200.000 - Rp300.000 per orang. 

Lapar di Spot Riyadi? Tak masalah. Pergilah ke dapur dan tengoklah apa yang dimasak di sana: menu kampung.

Tempat ini mulai terkenal sekitar 2015. Awalnya hanya pekarangan rumah Pak Riyadi di Dusun Dawangsari, Desa Sambirejo Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Satu dua fotografer datang untuk mengintip matahari terbit atau tenggelam. 

Pemandangan ke bawah menarik lagi kalau ada kereta lewat, terutama di malam hari. Meski jauh sebelum itu, beberapa orang sudah sering datang ke tempat ini ketika masih halaman rumah Pak Riyadi belum dibenahi seperti saat ini.

Sensasi pagi dan malam berbeda. Taburan lampu dari rumah-rumah penduduk jadi lukisan tersendiri. Fotografer juga biker yang datang kerap menanyakan kopi dan makanan, lama-lama tempat ini dirapikan sedikit demi sedikit.

Pengen kemping tipis-tipis di Spot Riyadi? Tinggal sewa tenda dan peralatannya. Bisa nampung beberapa tenda. Anak-anak pasti suka. Kemping ala-ala ini selalu ramai di setiap liburan panjang, entah lebaran, tahun baru, atau libur sekolah.

Meski hanya memesan segelas kopi, kita boleh berlama-lama di sini. Kalau sedang tak sibuk melayani tamu, Pak Riyadi juga asyik diajak ngobrol. Tapi jangan ganggu dia kalau sedang mondar-mandir melayani tamu.

Spot Riyadi paling asyik dinikmati usai kita keliling ke beberapa candi yang ada di seputar Boko. Kalau tak kuat naik sepeda dengan kontur tanah yang naik-turun, pakailah mobil. 

Tidak ada alasan untuk tak keliling di daerah ini. Ada Tebing Breksi yang menarik untuk foto-foto, Candi Sojiwan, Candi Plaosan, Candi Sambisari, juga Kalasan. 

Di malam hari, bisa juga menikmati Sendratari Ramayana di Kawasan Prambanan. Tidak perlu khawatir dengan langendriyan dengan bahasa Jawa halus. Kita cukup menikmati gerakan tarinya yang menghibur. Pastikan cek jadwal pertunjukannya. Kalau di malam purnama, latar belakang candi menjadi luar biasa terekam di foto kita.

Nah, di Spot Riyadi, biasanya saya menikmati hening yang ada. Kalau beruntung dan cuaca cerah, kita bisa melihat Gunung Merapi di kejauhan sana. 

Mengubah sudut pandang kita, akan kelihatan candi-candi di kawasan Prambanan. Tinggal pilih waktu untuk mengabadikan dengan kamera, pas cuaca cerah, saat pagi merekah atau jingga senja. Semuanya sama asyiknya. Kemegahan Prambanan bisa dinikmati dari sini. Pemburu matahari terbit dan tenggelam pasti akan menyukai.

Secangkir kopi dan sepotong pisang goreng jadi teman yang menyenangkan di sini. Saat akhir pekan datang, jumlah pengunjung akan lebih banyak lagi. Rasanya, dari pertama kali datang, jumlah kursi di Spot Riyadi makin banyak saja. Pertanda makin banyak orang datang ke tempat ini.

Biasanya pengunjung mendapatkan informasi dari media sosial. Postingan foto-foto di tempat ini memang jadi ajakan tersendiri untuk didatangi. 

Bisa dipastikan memang Pak Riyadi tidak pernah pasang iklan. Mereka tahu dari mulut ke mulut dan media sosial yang banyak beredar. Masing-masing orang punya cerita di sini. Ke Spot Riyadi itu semacam menanam benih kenangan untuk selalu punya alasan kembali ke Yogya.

Bingung jalan ke sana? Klik ini saja: Spot Riyadi. Ikuti saja petunjuk ini. Saat hilang sinyal, tak perlu khawatir. Siapa pun yang ditemui di perjalanan, dengan suka cita akan berbagi informasi.

Sudahkah kamu menanam bibit rindu di sini?