Sewaktu saya masih duduk di kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah, saya biasa menginap di rumah simbah saya pada akhir pekan. Saya biasa menginap di sana bersama dengan kakak saya, Mbak Ulin.

Kami biasa berangkat ke rumah simbah dengan mengendarai sepeda angin. Jarak rumah kami di Desa Kedungbunder dengan rumah simbah yang berada di Desa Jegu, sekitar 4.7 Kilometer, jika ditelusuri dari Google Maps. Dengan jarak yang lumayan jauh itu, bagi saya dan Mbak Ulin adalah jarak yang ideal untuk bersepeda ria menuju ke sana.

Selayaknya orang tua yang memperhatikan keselamatan anaknya, bapak dan ibu kami selalu berpesan untuk berhati-hati di jalan dan tidak memilih jalur utama, pada saat kami hendak berangkat ke rumah simbah. Meski kepadatan kendaraan waktu itu tidak seramai sekarang, namun setidaknya itu adalah upaya mereka untuk mengajari kami tentang pentingnya kehati-hatian.

Kami menuruti permintaan beliau. Bagi kami, dengan melalui jalan manapun itu tidak menjadi masalah sebab yang ada dalam benak kami saat itu adalah bayangan keasyikan saat bersepeda ria dan suasana bermain saat tiba di rumah simbah.

Kami mengayuh sepeda dengan santai dan sesekali beristirahat sejenak untuk mengatur hela nafas. Perjalanan ke rumah simbah itu kami tempuh sekitar setengah jam dengan sepeda angin  kami.

Sesampai di sana, simbah putri, yang biasa kami panggil dengan sebutan Mbok menyambut kami dengan sangat senang. Kami dapat melihat air muka wajahnya yang seakan mengguratkan kebahagiaan yang tiada terperi. Mungkin saja, baginya kedatangan kami ini adalah sumber kebahagiaan baginya yang akan mengobati segala macam kerinduan.

Di sampingnya, tampak bulek kami yang biasa kami panggil dengan Mbak Mudah--karena usianya yang masih muda, dan anaknya, Rizki juga menyambut kami dengan penuh kegirangan.

Sungguh penyambutan yang teramat berkesan bagi kami. Meski tidak ada wartawan, liputan, foto-foto, dan konferensi pers. Kami  tidak perlu itu semua, sebab penyambutan yang begitu tulus dari mereka, itu sudah lebih dari cukup bagi kami.

Saya menengok simbah kakung yang sedang sibuk di pekarangan di samping rumah. Beliau tampak sibuk membersihkan dan menata segala hal yang ada di sana. Beliau telah asyik dengan dunianya, yakni dunia merawat alam dan tanaman.

Beberapa saat kemudian, saya mengajak Rizki bermain orang-orangan dan mobil-mobilan di pasir-pasir di sebelah mushalla depan rumah. Kami memainkannya dengan penuh penghayatan bak seorang dalang yang mementaskan wayang.

Usai puas bermain, saya dan Rizki menghampiri simbah kakung yang masih ada di pekarangan. Beliau menceritakan pada kami bahwa beliau akan menanam ketela pohon di tempat itu.

Namun sayangnya, bibit ketela pohon itu masih belum tersedia di sana. Beliau mengatakan bahwa bibit itu masih ada di sawah dan sebentar lagi akan beliau ambil.

Waktu itu, beliau rupanya hendak mengajak saya ke sawah untuk mengambil bibit ketela pohon. Beliau menyiapkan sepeda angin Phoenix-nya yang berada di teras depan rumah.

Rupanya, ban sepedanya itu masih kurang angin, sehingga beliau mengisinya terlebih dahulu dengan memompanya.

Setelah persiapan dirasa cukup, beliau meminta saya untuk duduk di kursi belakang sepedanya. Sementara Rizki menunggu di rumah untuk beberapa saat.

Sesampai di sawah, simbah kakung  segera memotong batang-batang pohon ketela dengan ukuran sekitar sehasta. Beliau meminta saya untuk mengumpulkannya dan membawanya ke sebelah sepeda.

Usai pekerjaan di sawah, kami pun langsung pulang. Sesampai di rumah, simbah meletakkan beberapa batang ketela pohon yang telah beliau bawa dari sawah itu ke pekarangan. Beliau mengatakan pada saya bahwa beliau akan melanjutkan pekerjaannya itu pada esok hari.

***

Keesokan harinya, pada pagi hari yang cerah, simbah kakung benar-benar melaksanakan ucapannya. Beliau menanam batang-batang ketela pohon itu di pekarangan rumah.

Saya menjadi penasaran dengan teknik menanam simbah yang sedang dipergakannya. Saya mendekatinya dan memperhatikannya dengan seksama.

Beliau menceritakan pada saya tentang teknik menanam ketela pohon. Yakni mulai menyiapkan potongan bibit batang yang ideal, proses penanaman, hingga perawatannya.

Usai menanam beberapa pohon, secara tiba-tiba, simbah memberi saya sepuluh batang benih ketela pohon. Beliau meminta saya untuk menanamnya di rumah. Saya senang bukan kepalang, sebab akan dapat segera mempraktikkan teknik menanam dari simbah itu di rumah saya sendiri.

Imajinasi saya sebagai anak tingkat Sekolah Dasar kian liar. Saya sudah terbayang akan keberhasilan tanaman saya. Saya memanennya dan memasaknya bersama dengan kawan-kawan saya lainnya.

Tidak berselang lama kemudian, bapak datang dengan mengendarai  sepeda Astrea Supranya. Nampaknya, beliau hendak menengok dan menjemput saya. Namun, karena saya dan Mbak Ulin sebelumnya telah datang ke rumah simbah ini dengan naik sepeda angin, maka sudah pasti, pada saat pulang pun kami tetap akan menaikinya.

Akan tetapi, saya sangat bersyukur. Sebab dengan kehadiran bapak di sana, maka akan meringankan beban saya untuk membawa sepuluh batang benih ketela pohon, pemberian dari simbah kakung.

Sehabis zuhur, kami mohon pamit pada simbah dan kerabat kami yang ada di sana. Dalam batin saya muncul perasaan tidak sabar untuk segera mempraktikkan apa yang telah simbah kakung ajarkan pada saya di pekarangan itu.