Di kampung, kami termasuk orang susah. Ayah hanyalah pekerja serabutan. Itu pun lebih sering tidak dapat kerja daripada bekerja. Sedangkan Ibu, membuat keripik ubi (singkong) balado di rumah--aku mengantarkannya ke kedai-kedai dengan sepeda untuk dijual-titip. 

Walaupun termasuk orang susah, kami tetap bangga. Apalagi, kalau bukan Uda (kakak laki-laki) bisa kuliah. Di universitas negeri pula, fakultas ekonomi--di Padang.

Uda serperti mentari baru dalam keluarga. Lewatnya harapan terpancar. Terangkatnya status sosial keluarga kami jika ia lulus kelak. Ibu sering mengingatkanku, agar rajin belajar. Biar bisa masuk universitas negeri pula, sama seperti Uda.

Uda sendiri, biaya SPP dan kontrakan Mamak (kakak laki-laki Ibu) yang mengiriminya dari Jakarta. Memang janji Mamak, jika ada anak adiknya--ibuku--yang lulus di universitas negeri, ia biayai hingga lulus.

Waktu itu aku kelas II SMA. Tahun 2000. Sedangkan uda-ku, dua bulan lagi mau wisuda. 

Sepulang aku dari sekolah, makan, dan shalat aku belajar di kamar. Sekali-kali terdengar deru kendaraan yang melintas di jalan. Ibu sedang menggoreng keripik ubi (singkong) di dapur. Bunyinya, keripik di penggorengan, berdesir. Siang yang terik di luar. Angin sepoi masuk lewat jendela kamar yang terbuka.

Ayah sedang bekerja di rumah adiknya. Ada kerja sebagai tukang bersih rumput.

Ada ketokan di pintu. Membuat aku henti belajar. Namun, aku hanya bergeming. Ketokan lagi, dan lagi. Tentu Ibu tidak dengar dari dapur, karena bunyi keripik di penggorengan. Aku lalu melangkah keluar kamar. Jalan ke pintu. Begitu kubuka pintu, tersembullah wajah Pak Sinsa.

“Ada apa, Pak,” kataku setelah mempersilahkannya masuk.

“Ada ayah kau. Kalau tidak ada ayah kau, dengan ibumu pun jadi,” katanya. Lantas, duduk di kursi ruang tamu.

Aku panggil Ibu ke dapur. Ketika kukatakan ada Pak Sinsa mencarinya, Ibu lantas menyurutkan kayu-kayu di tungku, membuat apinya hampir padam. Ia segera ke ruang tamu, yang kuikuti dari belakang.

“Ada apa Sinsa,” kata ibuku setelah duduk di kursi. Hanya memanggil nama, karena Pak Sinsa seumuran dengan Ibu.

“Ada perlu benar ini,” kata Pak Sinsa sambil menepuk pahanya sendiri. “Anak aku kan di Palembang. Mau pulang. Sudah tidak sanggup dia hidup di sana. Rencana mau pulang tiga hari lagi. Benar-benar pulang, tidak mau lagi hidup di Palembang. Akan menetap di kampung.”

“Iya, si Rinto. Sudah beranak dia?” kata ibuku.

“Sudah. Dua anaknya, perempuan keduanya.”

Lalu, Ibu dan Pak Sinsa sama-sama diam. Sejenak hening.

“Itulah, makanya aku ke sini. Si Rinto itu tidak punya ongkos pulang. Tidak ongkos saja, uang kontrakan rumahnya belum dibayar pula di sana. Maksud aku ke sini, meminjam uang. Untuk ongkos Rinto dan bayar kontrakannya. Kebetulan Cidin ke Palembang malam nanti, aku titip ke Cidin saja. ”

Ibu nampak berpikir. Pak Sinsa seperti tidak melihat ke Ibu. Ia lalu mengeluarkan bungkus rokoknya. Ambil sebatang, sigap membakarnya.

Sampai di sini. Aku lalu kembali ke kamar. Melanjutkan belajar.

Namun, dari dalam kamar, terdengar juga percakapan mereka olehku.

“Bagaimana, Nur,” kata Pak Sinsa.

Kembali hening.

“Aku ada uang. Tapi untuk biaya wisuda anakku, si Riko. Tapi kalau Sinsa memang perlu, pakailah dulu. Wisuda anakku masih dua bulan lagi,” kata Ibu.

Biasa Mamak mengirim uang untuk SPP dan kontrakan Uda Riko lewat wesel ke kampung. Setelah sampai uang di kampung, barulah Ibu kirim ke Padang. Dua minggu lalu, sewaktu Uda Riko pulang, bilang perlu uang untuk biaya wisuda. Langsung Ibu kirim surat ke Mamak. Berselang dua minggu, datang wesel dari Jakarta, untuk biaya wisuda Uda Riko.

“Masih lama itu,” kata Pak Sinsa. “Tidak sampai seminggu, aku bayar nanti.”

***

 Ayah pulang selepas Magrib. Memang biasa ia pulang selepas Magrib jika kerja di rumah adiknya. Dia mandi dan makan di rumah adiknya; dan salat Magrib di masjid sebelum ke rumah. 

Setelah Ayah masuk rumah dan duduk di kursi ruang tamu, aku datangi Ayah. Duduk pula di kursi ruang tamu.

Lalu, Ibu yang baru selesai salat pun keluar dari kamar.

"Siang tadi Sinsa ke sini. Dia meminjam uang," kata Ibu setelah duduk di kursi.

“Uang wisuda Riko yang kau pinjamkan?” Ayah memandang Ibu yang duduk di kursi seberang.

“Katanya tidak sampai seminggu. Iba kita, anaknya jatuh miskin di Palembang. Mau pulang.”

***

Sudah seminggu, tidak ada datang Pak Sinsa ke rumah mengembalikan uang. Ketika dua minggu semenjak peminjaman, Ayah datang ke rumah Pak Sinsa--rumah Pak Sinsa dengan rumahku berjarak sekitar 150 m. Kembali ke rumah tidak mendapatkan uang itu.

“Kalau dengan aku, tidak akan aku pinjamkan uang itu,” kata Ayah sesampainya di rumah dan duduk di kursi ruang tamu.

“Bagaimana, Da. Apa katanya. Dia janjikan tidak,” wajah Ibu nampak cemas.

“Seminggu lagi katanya. Lagi pula, Rinto anaknya itu sebentar saja di rumah. Sudah berangkat pula ke Pekanbaru.”

Seminggu lagi yang dijanjikan itu tetap uang tidak kembali. Malah, ketika sudah sebulan semenjak peminjaman Ayah dan Ibu datang bersama-sama ke rumah Pak Sinsa, bertengkar. Pak Sinsa dan istrinya memaki-maki Ayah dan Ibu.

“Sabar saja diperbanyak, Da,” kata Ibu sesampai di rumah.

Tidak ada uang simpanan lain bagi kami. Tiap uang hasil berjualan keripik ubi (singkong) balado hanya pas-pasan saja untuk biaya bulanan Uda di Padang. Sedangkan Ayah, sering uang hasil jerih payahnya tidak mencukupi dapur kami. Hampir sebulan ini, penjualan keripik ubi (singkong) balado kami menurun. Di kedai-kedai sering tak habis. Padahal waktu seharusnya habis. Ibu akhirnya kirim bulanan Uda Riko dengan uang seadanya.  

Dua hari menjelang Uda wisuda. Kuperhatikan Ibu bermenung di kursi ruang tamu. Pintu terbuka. Ada nampak sinar matahari sore menerpa lantai rumah. Udara sore yang pelan lembut pun masuk. Sekali-kali ia menghela napas. Sekali-kali pula ia pandang foto Mamak yang ada di dinding. Seperti ingin menceritakan kesulitannya, kesusahannya. Dari wajahnya nampak ia sedang berusaha cari jalan keluar persoalannya. Nampak benar hatinya rusuh.

Aku tak berani ajak Ibu ngobrol. Aku tahu, pastilah soal uang wisuda Uda yang tak ada.

Sehari sebelum wisuda, di tengah hujan lebat--pakai payung--Ayah ke rumah Pak Sinsa lagi. Di sana terjadi pertengkaran lagi.

Kata Ayah yang pundak bajunya sedikit basah karena hujan berangin, sesampai di rumah, menirukan Pak Sinsa, ”Bentuk tidak akan dibayar saja uang kau itu.”

Ibu hanya bisa menangis dengar kata Pak Sinsa yang ditirukan Ayah itu.

Ingin meminjam uang, kepada siapa. Ibu tidak punya sanak di kampung. Pernah meminjam uang kepada orang lain, tapi tak pernah dapat. Sedangkan Ayah, sanaknya miskin semua, hampir sama dengannya. Hidup di kampung, di luar saja nampak rukun-tenteram, tapi kalau masalah uang tetap saja: pelik.

Belum masuk telepon ke kampung kami waktu itu, apalagi hp. Kalau tidak salah, Ibu kirim sepucuk surat lewat sopir bus kepada Uda di Padang. Tentu isinya, tentang uang wisuda yang belum ada. Ibu pesan ke sopir bus, suruh Riko pulang kalau tidak ada keperluan lagi di Padang. Biasa kami melakukan itu kepada sopir bus--kebetulan masih saudara dengan Ayah--dalam mengirim uang SPP, uang kontrakan, dan biaya bulanan Uda di Padang.

***

Lewat dua bulan. Keinginan kembalinya uang yang Ibu pinjamkan ke Pak Sinsa mulai mengendap. Penjualan keripik ubi (singkong) balado kami tambah menurun. Di kedai bahkan ada yang laku hanya dua bungkus saja. Dari 25 bungkus yang aku titip. Uang bulanan untuk Uda pun lagi-lagi tak cukup. 

Seharusnya, jika ada uang wisuda itu, Ibu tak perlu lagi memikirkan bulanan Uda. Karena Uda sudah wisuda. Tentu ia akan balik ke kampung. Di kampung dulu sebelum pergi cari kerja ke kota. Kata Uda, jurusannya cocoknya kerja di kota.

Benar-benar tidak lagi uang wisuda itu yang dipikirkan Ibu. Melainkan Uda yang tidak pulang juga ke kampung, ke rumah. Seharusnya ia pulang. Karena bulanan belum juga Ibu kirim.

Sering kami ketika senja hari, sebelum azan Magrib, duduk di kursi teras membicarakan Uda. Kebiasaan-kebiasaannya. Sambil melihat awan-awan yang berarak yang kadang menyerupai binatang, hatiku jadi teriba. Mengingat biaya wisuda yang seperti terbang tak kembali.  

Sampailah pada suatu malam. Tengah malam. Jam dua belas malam. Terdengar suara bus berhenti di tepi jalan depan rumah kami ketika aku terbangun. Begitu juga Ayah dan Ibu. Kusingkap sedikit korden jendela kamarku. Kutengok, nampak turun seseorang dari bus. Kondektur. Membuka pintu pagar bambu rumah kami. Tak lama, terdengar pintu diketuk.

Ibu pun menyalakan lampu. Segera Ibu membukakan pintu. Segera pula angin malam menyerbu masuk.

Si kondektur menitipkan sebuah surat untuk Ibu.

“Dari siapa ini?” kata Ibu.

“Dari Riko,” kata kondektur, lalu buru-buru pergi, kembali ke bus.

Ketika gas bus pelan-pelan diinjak dan bus nampak melaju kembali, Ibu membuka surat itu dan membacanya.

“Apa isinya, Nur?” kata Ayah.

“Riko tidak bisa pulang. Katanya ia bekerja di toko. Untuk mengganti uang kawannya yang dipakai untuk biaya wisuda. Pesan Riko, untuk sekarang ia belum bisa pulang. Mungkin empat bulan lagi.”

Wajah Ayah dan Ibu sama-sama tampak haru. Membayangkan anaknya sudah sarjana.

"Kalau ada uang wisuda itu, tentu Riko tidak perlu bekerja di toko," kata Ibu seperti bergumam.