Lecturer
2 minggu lalu · 77 view · 4 min baca menit baca · Cerpen 70784_38140.jpg
Foto: humairoh.com

Biasanya Laila

Laila hanyut dalam tawa, bukan tawanya sendiri. Semakin lepas teman-temannya tertawa, semakin Laila merasakan apa itu bahagia. 

Bahagia? Iya, seperti yang diyakini banyak orang bahwa kebahagiaan punya hubungan dekat dengan keceriaan. Tapi Laila lupa di mana kebahagiaannya setiap hari. Mereka hanya saling menceritakan masa lalunya sewaktu masih duduk di bangku SMA.

“Dulu kamu jahat Din, masak udah tau cowok itu suka sama kamu malah kamu kerjain.” Laila mengungkap kegilaan temannya.

“Tapi cowoknya ya begok juga. Udah di PHP-in sama Dini, masih saja mau disuruh belikan nasi goreng tengah malam. Pakek dianterin lagi ke rumah.”

“Waktu itu kan yang lapar bukan aku, tapi Risa itu.”

“Rusli kan baik Din, masa kamu tega membiarkan temanmu kelaparan sementara kamu punya fans sebaik dia.”

Mereka kembali membuang-buang tawa. Laila yang waktu itu ikut berkumpul di rumah Dini merasakan betul bagaimana kebaikan Rusli, tapi tetap saja Laila juga tidak mau menerima cinta darinya jika saja Rusli memilih mencintai Laila. Kebaikan Rusli tak sebaik tampang rupanya.

Laila kembali tertawa.

Laila juga hanyut dalam kesehariannya. Setiap pagi ia selalu menjual makanan ringan di kantin sekolah untuk mencukupi kebutuhan kuliahnya. Mulai jam 7 pagi hingga jam 9 ia habiskan dengan cowok-cowok ABG yang berbeda dengan teman-teman seangkatannya ketika masih SMA dulu.

Ia tidak punya banyak cerita di kantin itu, Laila hanya mendengarkan obrolan para remaja yang kebanyakan berputar pada persoalan wanita dan gadget.

Sesekali Laila menanggapi, menjulurkan pertanyaan, sekedar untuk melupakan sejenak jajanan yang belum habis dibeli pelanggan.

Sesekali ia tertawa, bukan demi kebahagiaan, hanya sebatas kepedulian sesaat. Padahal beberapa menit lagi ia akan menjadi mahasiswa.

“Kalau menurut saya ya jelas dilarang. Di zaman sekarang ini tidak ada yang bisa menjadi alasan kuat sehingga nikah mut’ah bisa dibolehkan. Akadnya gimana kalau harus ada jangka waktunya itu. Kan gak bener. Itu kan cuma jalan pemuas nafsu saja biar terkesan legal dan halal.”

Laila menjawab pertanyaan temannya dengan bahasa seadanya. Ia memang kurang mampu mengatur kata-katanya seperti seorang cendekiawan, sekalipun idenya hampir berdekatan.

“Tapi kan nyatanya ada yang seperti itu, dan yang menikahkan itu kan jelas orang yang paham agama.”

“Kalau menurut saya sih, coba kita keluar dari ranah hukum dulu. Sebenarnya bagaimana legalitas hukum agama di negara ini? itu menurut saya penting untuk diperjelas dulu.” Salah seorang aktivis mencoba menggugat.

Laila tidak punya jawaban yang lebih sederhana lagi, ia hanya diam mencerna pertanyaan, selebihnya teman sekelompoknya yang menjelaskan. Meski Laila bukan perempuan cerdas di kelasnya, ia selalu bisa mencairkan tawa bersama temannya.

Laila tidak pernah kehabisan cerita yang dianggapnya sesuai dengan tema perkuliahan, padahal sebagian dari ceritanya hanya menjadi gurauan aneh bagi teman-temannya. Laila tak pernah minder dan berkecil hati dengan semua itu, toh Laila sendiri tidak tau pasti isi hatinya sendiri.

Sejatinya Laila tidak pernah mengingat dirinya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar hadir untuk menegaskan kediriannya, yang ada hanya Laila yang tertawa, Laila yang tersenyum, Laila yang murung dan patah hati, atau berhasrat ingin jalan-jalan ke tempat yang tinggi. Ke gunung?

Bukan, hanya di ketinggian angan-angannya tentang perkuliahan dan masa depannya. Ia berharap bisa menjalani aktifitasnya sebagai mahasiswa sebagaimana teman-teman kampusnya, belajar, diskusi, berorganisasi dan ikut aksi.

Kadang juga ia berharap orang tuanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Malahan, tidak jarang juga Laila ingin melepaskan pendidikan sarjananya, demi kelancaran usahanya membantu keluarga. Ia hanya ingin menjadi seperti orang lain, dan tidak pernah ingin menjadi seperti dirinya sendiri.

“Berapa mbak? Gorangannya tiga sama rokok satu.”

“Tiga ribu saja.”

“Saya es teh belum diubatin tadi mbak.” Sahut pelanggan lain di bangku paling pojok.

Laila tidak sejenius kalkulator, sekalipun ia pandai berhitung. Juga bukan koki meski sebagian harinya dituangkan dalam gelas-gelas es teh dan kopi. Sementara yang ia sadari hanyalah Laila sebagai mahasiswa yang tidak se-intelek para aktivis. Intelek?

Itu hanyalah sisa-sisa emosi semata. Padahal setiap sore selepas kuliah ia juga mengajar Al-Qur’an di lembaga kecil di kotanya. Bagaimana mungkin orang yang tidak intelek mampu menjadi pendidik?

Bismillahirrohmanirrohim.”

Bismillahirrohmanirrohim.” Santri-santri selalu mengikuti apa yang dikatakan Laila.

Alam nasyroh. Pekek syin ya, bukan sin! Syin, seperti ngusir ayam.” Lantas para santri mengikuti caranya mengucap lafadz.

Begitu cerdasnya ia menyederhanakan ilmu kepada anak didiknya, dengan contoh-contoh lucu yang memahamkan. Begitu pandainya Laila menggoyang-goyangkan bibirnya sesuai dengan cara baca huruf-huruf hija’iyah. Tapi Laila tak pandai mengingat dirinya sendiri. Ia hanya tau setiap pagi ia harus ke kantin sekolah sebelum berangkat kuliah. Setiap sore ia harus mampir ke kelas Al-Qur’an sebelum pulang di waktu senja.

Ia juga ingat setiap malamnya tak pernah sepanjang malam-malam remaja. Laila selalu tertidur sebelum jam tepat menunjuk angka sembilan, dan bangun sebelum panggilan subuh menyadarkan mimpi banyak orang. 

Ia selalu ingat selepas subuh adonan sudah harus dicumbu, dan ketika ubun-ubun mentari mulai terlihat adalah waktu untuk menata hidangan menjadi gurauan anak remaja dalam tas anyaman bambu, lantas berbegas menjemput mereka, bersiap menjadi mahasiswa, menata suara untuk santri-santrinya.

Laila benar-benar tak pernah mengingat dirinya sendiri. Tawanya adalah tawa temannya, jajanannya menjadi hidangan anak SMA, kepolosan ceritanya hanya keanehan mahasiswa, kepandaiannya tak lebih dari pelajaran para santrinya, dan waktunya tidak pernah untuk dirinya.

Artikel Terkait