2 bulan lalu · 286 view · 3 min baca menit baca · Olahraga 81883_92027.jpg

Biarkan Semesta Bekerja untuk Liverpool

Di luar sedang hujan deras. Tak lama terdengar kumandang panggilan salat asar. Kata guru mengaji saya, hujan deras dan waktu azan salat fardu adalah waktu-waktu di mana doa akan lebih diijabah. 

Di saat itu juga, saya langsung menundukkan kepala dan mulai memanjatkan doa di dalam hati. Dengan khusyuk saya berdoa kepada Tuhan untuk akhirnya berbaik hati memberikan Liverpool gelar juara di musim ini. Sesuatu yang tidak pernah lagi kami rasakan dalam beberapa tahun belakangan.

Bahkan jika bicara gelar liga, terakhir kali Liverpool meraih trofi terjadi pada 28 April 1990. Ya, kurang lebih sekitar dua puluh sembilan tahun yang lalu, di saat Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Soeharto. Pak Jokowi saat itu sepertinya masih menjadi tukang kayu. Hingga saat ini menjadi Presiden, Liverpool juga masih belum bisa meraih kembali gelar tersebut.

Menjadi seorang penyabar dan setia, saya rasa, adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seluruh fans Liverpool. Kami semua adalah penceramah terbaik saat bicara tentang kesabaran dan kesetiaan. 

Setiap tahunnya, kami selalu mengulangi tindakan bodoh, berharap dan berucap musim ini akan menjadi milik kita. Hingga menjelang akhir musim kami harus merenovasi kembali harapan tersebut dan melakukan hal yang sama lagi pada musim berikutnya.


Kami tetap akan meyakini penggalan lirik At the end of the storm there’s a golden sky akan terjadi meskipun tim kami dipimpin dan diisi oleh pelatih dan pemain kelas medioker. Hampir sedekade ini dukungan kami tidak pernah padam meskipun harus mendukung pelatih dan pemain sekelas Roy Hodgson, Brendan Rodgers, Ricky Lambert, Paul Konchesky, Andy Carroll, dan sederet pemain lawak lainnya. 

Musim ini berjalan agak berbeda, pada awalnya. Sampai akhirnya menjelang garis finis, sepertinya semuanya akan berakhir sama seperti musim-musim sebelumnya, Liverpool akan tetap tanpa gelar. 

Peluang menjuarai Champions League saya rasa sudah selesai ketika tendangan bebas spektakuler Lionel Messi menambah skor 3–0 untuk kemenangan Barcelona. Belum lagi Salah dan Firmino yang harus absen pada laga leg ke 2. Hanya orang tidak waras yang masih percaya Liverpool akan lolos ke final.

Begitupun dengan peluang merengkuh gelar liga, Liverpool masih harus mengalahkan tim pembunuh raksasa musim ini, Wolverhampton Wanderers, seraya berharap keajaiban terjadi, tim peringkat 17 Brighton Hove & Albion mampu mengalahkan atau setidaknya menahan imbang pemuncak klasemen, Manchester City.

Hanya ada 3 skenario tersisa untuk Liverpool. Skenario pertama, secara mengejutkan Liverpool akan meraih double winner Premier League dan Champions League (Aamiin). Kedua, Liverpool memenangkan gelar di antara Premier League atau Champions League. Skenario ketiga dan yang paling pahit, Liverpool tidak memenangkan apa pun.

Jika yang terjadi adalah yang ketiga, saya rasa Liverpool telah dikutuk, atau jangan-jangan kami telah menukar seluruh keberuntungan yang kami punya kepada iblis saat 14 tahun lalu secara ajaib membalikkan keadaan dan mengalahkan AC Milan pada final Champions League di Istanbul. 


Bayangkan saja, pada musim ini, Liverpool hanya kalah 1 kali di liga; dan jika berhasil menang di pertandingan terakhir, Liverpool akan jadi satu-satunya tim dalam sejarah Premier League yang berhasil mengumpulkan 97 poin tanpa memenangi gelar. Bahkan Arsenal era Invincible dan Manchester United era Ferguson pun tidak bisa mencapai perolehan poin tersebut.

Entah musim ini akan berakhir seperti apa, berharap dan percaya keajaiban akan terjadi adalah bagian lain yang tak terpisahkan sebagai fans Liverpool. 

Dini hari nanti, saya akan tetap menonton leg kedua Semifinal Champions League dengan penuh keyakinan Liverpool akan mencetak tiga gol atau lebih dan berhasil menyingkirkan Barcelona, dan kami akan segera merevisi lirik From Paris Down To Turkey menjadi From Paris Down To Madrid pada chants kebanggaan kami, allez allez allez. Biarlah saya menjadi salah satu orang yang tidak waras tersebut. 

Dan di tanggal 12 Mei nanti, saya akan menonton pertandingan terakhir Liverpool di Liga dengan penuh keyakinan Liverpool akan menang dan City akan terpeleset, dan kami semua akan menyeka air mata masing-masing melihat kapten kami, Jordan Henderson, mengangkat piala dan mengakhiri puasa gelar Liga selama puluhan tahun.

Saya percaya semesta pada akhirnya akan membantu dan mengabulkan keinginan jutaan fans Liverpool seluruh dunia dan mengakhiri segala penderitaan yang kami rasakan selama ini. Persis seperti kutipan buku favorit saya, The Alchemist: And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.


Dan jika skenario pertama atau kedua tidak terjadi, saya tetap akan mencintai Liverpool dengan sepenuh hati dan kembali mengucapkan mantra sakti kami: Next Year Will Be Our Year. Entah sampai kapan.

I love You 3000, Liverpool.

Artikel Terkait