Garuda Indonesia, maskapai plat merah milik negara dikabarkan akan bangkrut jika tidak segera ditangani dengan serius. Isu pailit-nya Garuda Indonesia sudah santer jadi berita nasional sejak beberapa pekan ini. Hal ini pun dimanfaatkan oleh politisi yang meng-oposisi-kan diri, untuk menyerang pemerintah dengan beragam narasi. Fadli Zon misalnya, politisi Partai Gerindra tersebut memanfaatkan momen ini dengan mempertegas ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola negara, dengan narasi “jaga simbol sejarah bangsa”, katanya.

Masalah Garuda memang sangat pelik saat ini. Selain utang yang menggunung (kabarnya hingga 70 Tiriliun Rupiah), kondisinya semakin berdarah-darah dikala pandemi Covid-19 terus menghantui. Jumlah penumpang turun terjun bebas, sejalan dengan jumlah penerbangan pun terbatas. PHK sudah dilakukan, bahkan beberapa pesawat sudah dikembalikan kepada lessor.

Pelik betul, dan saat ini Garuda sedang berada diujung tanduk. Tapi, perlukah Garuda Indonesia diselamatkan? Demi apa? Apakah hanya demi menjaga simbol sejarah dan kehormatan, APBN pun dikorbankan?

Bagaimana kalau dibiarkan saja, bangkrut !

Saya iseng buka aplikasi perjalanan, dan cek harga tiket. Dari Jakarta, saya pilih tujuan ke Jayapura, tepatnya Bandara Sentani. Berapa harga tiket yang ditawarkan oleh Garuda Indonesia? Sekitar 5, 2 juta Rupiah.

Lalu, saya iseng lagi memilih tujuan luar negeri, tepatnya kota Manchester, di Inggris sana. Berapa harga tiket yang ditawarkan oleh Etihad Airways yang terkenal itu? Hanya sebesar 4,2 juta Rupiah saja. Bukankah saya lebih baik memilih penerbangan ke Manchester, singgah di Abu Dhabi, menikmati hidangan lezat di dalam pesawat yang masuk 20 besar maskapai terbaik di dunia versi AirlineRatings.com itu. Sampai di Manchester, bisa menyaksikan klub kebanggaan, Manchester United ngebantai atau dibantai klub lawan, bukan?

Harga tiket yang mahal itu membuat masyarakat menjadikan Garuda Indonesia opsi kesekian sebagai armada untuk terbang ke suatu tempat. Kalau pun ada, paling hanya coba-coba, “biar sudah pernah”, kata mereka. Benefitnya dibanding maskapai nasional lainnya, paling hanya gratis makanan saja.

Lalu, siapa yang selama ini menjadi penumpang tetap Garuda Indonesia? Manajemen Garuda Indonesia sepertinya mendapat hembusan angin segar  kala Arab Saudi kembali menerima layanan Umroh. Mereka yang melakukan Umroh ini lah yang dahulunya menjadi penumpang sejati Garuda Indonesia tujuan luar negeri. Karenanya, sejak pandemi melanda, umroh ditiadakan, Garuda ikut meradang karena kehilangan sumber uang. Untuk dalam negeri?

Biasanya adalah para Pejabat dan ASN, yang ongkosnya dibiayai oleh negara. Disinilah letak persoalan utamanya. Uang negara masuk ke BUMN bernama Garuda Indonesia, untuk membayar gaji jajaran direksi yang jumlahnya besar itu. Masih jelas dalam ingatan kasus direksi Garuda yang dibongkar oleh akun anonim di media sosial Twitter beberapa waktu lalu.

Dengan harga tiket yang jauh lebih mahal dibanding maskapai swasta, tentu saja berpengaruh terhadap jumlah penumpang dari kalangan masyarakat umum. Kalau hanya mengandalkan perjalanan dinas para pejabat dan ASN, bagaimana kalkulasinya Garuda Indonesia bisa untung, sementara harus membayar gaji para jajaran direksi dengan jumlah yang sangat fantastis itu.

Berdasarkan laporan keuangan Garuda Indonesia yang diaudit oleh akuntan publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan, pengeluaran Garuda untuk gaji direksi saja mengalami peningkatan ditahun 2020, US$ 2.156.205. Kalikan saja kurs rupiah saat ini, lalu bagikan dengan 8 Direktur Garuda Indonesia. Meski, menurut penjelasan jajaran Direksi, gaji mereka sudah dipotong sebanyak 50%, imbas dari memburuknya keuangan Garuda akibat pandemi yang melanda.

Dari beberapa penjelasan di atas, apakah kita masih punya alasan untuk mempertahankan Garuda Indonesia, selain menjaga simbol sejarah saja? Apakah kita, sebagai rakyat pemegang kedaulatan tertinggi, rela uang dari APBN senilai 70 Triliun dipergunakan untuk menalangi utang dari Garuda Indonesia itu, sementara masih banyak sekolah yang ambruk termakan usia di banyak daerah di Indonesia? Hanya demi menjaga simbol sejarah bangsa? Dan menyaksikan bagaimana glamournya kehidupan para petinggi Garuda Indonesia sana?

Berhentilah berfantasi bahwa dengan menjaga simbol sejarah seperti Garuda Indonesia, akan membuat posisi kita lebih terhormat. Bahwa menjaga simbol sejarah seperti Garuda Indonesia, masyarakat kita akan sejahtera. Lepaskan saja Garuda Indonesia, biarkan dia pailit atau bangkrut. Toh, banyak negara di dunia ini yang tidak mau lagi memiliki maskapai yang dikelola oleh negara, kan?

Padahal, kalaulah manajemen Garuda Indonesia mau belajar bagaimana Singapore Airlines yang saham mayoritasnya juga dimiliki oleh negara lewat Tamasek Holding, bukan tidak mungkin Garuda bisa berkembang pesat. Tapi nyatanya? Garuda seolah menjadi beban bagi negara, dengan beragam persoalan yang ada.

Pemerintah jangan takut kehilangan simbol sejarah, jika ia hanya menjadi beban menuju kemajuan yang sedang dikejar. Kalau Garuda Indonesia tidak mampu keluar dari keterpurukannya, biarkan saja. Biarkan maskapai penerbangan di negara kita diurus oleh pihak swasta, daripada kerjanya hanya membebani APBN saja.

Para jajaran direksi itu dibayar ratusan juta perbulan, untuk memberikan kinerja terbaik, dan bermanfaat bagi perusahaan dan negara. Sejatinya bisnis, adalah menghasilkan untung bagi perusahaan, bukan malah sebagai lahan basah untuk mencari keuntungan pribadi.

Jadi, biar saja Garuda Indonesia berusaha sendiri untuk keluar dari kondisi terpuruknya. Jadikan ini jadi ujian kompetensi bagi para jajaran direksinya. Kalau mereka mampu, pertahankan. Kalau tidak, biarkan saja Garuda bangkrut. Toh, yang menikmati Garuda Indonesia didominasi oleh para pejabat dan ASN saja, kan?