Mahasiswa
4 minggu lalu · 61 view · 4 menit baca · Politik 41235_90561.jpg
https://www.konsultasisyariah.info

Biarkan Para Elit Saja Yang Bertegur Sapa

Rasa kekeluargaan

Bila seseorang sudah menikah baik seorang suami atau istri, kedua-duanya tidak ada yang merencanakan kapan pernikahannya mau diakhiri, dan bila  sepasang suami dan istri memiliki anak tentu keduanya tidak pernah merencanakan kapan hubungan dengan si anak akan diakhiri. Lebih-lebih bila anak pertama kemudian mempunyai adik tentu sang kakak maupun adiknya tidak pernah merencanakan kapan hubungan mereka akan berakhir.

Penggalan singkat mengenai hubungan seorang suami, istri dan anak bisa menjadi rujukan untuk memulai mengutarakan anggapan subjektif saya mengenai bangsa dan negara. Sebab akhir-akhir ini saya melihat fenomena-fenomena yang mencekam, kira-kira melebihi mencekamnya nonton film horor di bioskop.

Fenomena mencekam tersebut saya lihat di medsos dan televisi nasioal, hampir setiap hari sajiannya mengenai politik. Terlebih lagi sudah mendekati tanggal 22 Mei 2019, kira-kira sekarang H-2 diumumkannya presiden periode 2019/2024 oleh KPU.

Mengapa saya pilih diksi mencekam, sebab yang mendarat di telingga publik sesuatu yang menyeramkan, saya yang tinggal di perdesaan yang jauh dari riuh rendah suara, kondisi psikologisnya mungkin tidak seheboh orang-orang yang tinggal di perkotaan, namun teman-teman saya yang ada di perkotaan pun tidak membincangkan hal-hal yang serem seperti di media-media yang sedang berlangsung.

Kemungkinan lain, boleh jadi hanya di kalangan elit saja yang sedang dilanda situasi mencekam, pun elit dalam definisi yang seperti apa dulu, saya tidak memukul rata. Sebab bila ada yang mengatakan bahwa manusia itu makhuk yang berpolitik maka itu bermakna sebagian (dalam tanda kutip).

Maka dari beberapa informasi yang berseliweran di jagad maya, paling mentok saya cuma pakai neraca “common sense.” Sebab bila saya harus melakukan kajian akademik maupun metode penelitian yang lain, saya tidak punya anggaran dana untuk itu, juga saya hanya menatap dari kejauhan hiruk-pikuk para elit yang diperkotaan, saya sekedar memandang dengan cara pandang “wong desa,” orang desa.

Kita ini keluarga “sedulur”


Berhubung sudah saya catut setting pedesaan, maka saya sedikit gambarkan suasananya. Barangkali ada orang-orang yang ada di kota setelah 22 Mei yang mau singggah lebih lama di pedesaan, supaya bisa meresapi kondisi psikologis masyarakat pedesaan yang murah senyum, sebab siapapun tamu yang hadir penduduk di perdesaan selalu menyuguhkan makanan-makanan yang terbaik, maksudnya cuma satu yakni menyambung “paseduluran” (kekeluargaan).

Mengenai peseduluran, secanggih komputer saja punya dua perangkat yakni software dan hardware, artinya punya dua perangkat lunak dan perangkat keras. Menurut teman saya yang kuliah di Perguruan tinggi pada bidang tersebut, katanya komputer bisa sesuai apa yang kita perintahkan, sebab sudah di program denagan sedemikian rupa supaya apa yang manusia perintahkan dapat di jalankan, seperti halnya mengoperasikan ms office dan yang lainnya.

Tentunya nalar saya tidak berhenti sampai di situ, sebab yang sedang kita bincangkan tentang “pasedeluran” yang dioperasikan lewat software manusia yakni letaknya di dalam rasa. Ternyata setelah saya amati kekeluargaan itu tidak ujug-ujug terjadi begitu saja, namun kekeluargaan itu berangkat dari rasa. Tentunya rasa kekeluargaan itu muncul dari orang-orang yang sudah dewasa yang sudah mempunyai kematangan mental.

Maka bila para elit yang berada di kota sedang gontok-gontokan, mungkin ia sedang kembali di masa pubernya. Pengalaman saya sewaktu duduk pada masa itu memang banyak geng-gengan, yang setiap geng saling membully, tidak jarang keduanya melakukan tawuran.

Namun demkian saya selaku bagian dari masyarakat desa masih berhusnudhon pada para elit, yang saya maksud elit yang sesuai dengan definisi yang ada di KBBI yakni orang-orang terbaik atau pilihan dalam suatu kelompok, kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi.

Para elit sedang bertegur sapa

Sebagai orang desa tentu saya sebatas menguraikan nilai yang saya tau dari leluhur-leluhur dulu, yang disampaikan dari mulut ke mulut. Seperti “Menang tanpa ngasorake,” kira-kira artinya menang tanpa merendahkan. Saya maksudkan ini sekedar proses lima tahunan kalau nilai tercederai tentu tidak elok, entah siapapun yang jadi. Untuk kedepannya perlu pertimbangan nilai kembali dengan mau menengok ke belakang.

Kalau mau sedikit menengok kebelakang, ada banyak bahan untuk dapat dipakai sebagai kaca sepion masa depan. Namun sekiranya saya cuma serampangan tau beberapa hal saja, bahwa simbah-simbah kita dahulu untuk membuat kesepakatan publik perlu perbincangan yang panjang, bahkan kadang perlu bersemedi artinya ia mensoliterkan dirinya. Menimbang-nimbang supaya tepat, supaya tidak terjadi gesekan yang menyeramkan dan supaya input, proses dan outputnya selaras.


Namun husnudhon saya kepada para elit di kota mungkin ia sedang bertegur sapa. Sedang mematangakan proses menuju dewasa. Mungkin hal-hal yang mencekam yang mendarat di telinga masyarakat lewat jagad maya itu dalam rangka menyudahi masa pubernya. Sebagaimana anak SLTP atau SLTA yang kadang tawuran. Selebihnya kadang kita jadi berteman, saling merangkul, dan berbagi senyum.

Namun kira-kira setelah elit nanti saling bertegur sapa, apakah kami-kami ini jadi fokus perbincangan para elit di atas, atau mungkin seperti itu saja, seperti musiman. Tapi tidak apa-apa, sebab fokus kami yang ada di perdesaan adalah terus-menerus menyambung tali kekeluargaan.

Sebab kami tidak pernah merencanakan kapan desa kami akan berakhir, kami sebisa mungkin menjaga khasanah nilai para leluhur. Kami sangat takut kalau mendengar kata “kualat.” Maka segala macam persoalan yang ada di desa kami, pasti selalu kami “rempug” bersama, baik yang muda atau yang tua bila sudah bersepakat pasti akan “disengkuyung bareng-bareng.”

Uraian saya ini memang tidak fokus pada satu ide, bisa dikatakan sedikit blur, wajarlah resolusi pandang saya masih rendah. Kata Aristoteles subtansi itu terdiri dari sembilan aksioma, namun saya tidak secerdas itu, dapat menarasikan dengan apik dan mudah diketahui subtansinya.   

Leluhur kami sudah berpesan “desa mawa cara” sederhananya desa punya cara sendiri dalam menyikapi fenomena yang ada. Cara yang kami pilih selalu menanam kebaikan. Kami selalu menanam rasa kekeluargaan. Sekalipun di jagad maya diselimuti suasana mencekam. Tapi kalau boleh saya jujur saya lebih tertarik nonton film horor, sekalipun saya harus mengurungkan niat untuk menontonya.

Artikel Terkait