Dikatakan bahwa semboyan Indonesia itu “Bhinneka Tunggal Ika”, berbeda beda tetapi tetap satu jua. Jika Indonesia mengakui dirinya sebagai negara yang toleran dengan perbedaan, banyaknya ras, agama, suku, dan budaya yang ada seharusnya mempererat persatuan dan bukan dijadikan bahan ejekan ataupun penjelas perbedaan yang ada.

Papua diakui sebagai bagian dari Indonesia. Namun, perlakuan Indonesia terhadap Papua masih seperti anak tiri. Berbagai sumber daya alamnya diambil untuk kepentingan negara tanpa balasan yang sebanding. Bahkan rakyatnya tidak jarang didiskriminasi di luar tanah asal mereka.

Meskipun demikian, rakyat Papua jarang membesarkan hal ini. Menurut penulis, mungkin sebaiknya Papua kita bebaskan saja. Mereka ada hanya untuk dimanfaatkan Indonesia.

Bukti konkret hal ini salah satunya adalah kasus mahasiswa Papua di Surabaya yang diteriaki dengan sebutan “monyet” bulan Agustus silam. Insiden pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya ini berawal dari perusakan Bendera Pusaka yang terletak di depan asrama yang menurut asumsi masyarakat dilakukan oleh mahasiswa Papua.

Namun, aparat kurang melakukan investigasi tentang siapa yang melakukan perusakan dan membiarkan masyarakat berasumsi bahwa mahasiswa Papua-lah yang melakukan. Aparat pun turut menyerang mahasiswa bahkan hingga menembakan gas air mata.

Dipanggil "monyet", dipaksa nasionalis

Miris untuk diakui bahwa ini bukan kali pertama hal semacam ini terjadi. Juli 2016 silam, saat Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) Yogyakarta hendak turun ke jalan untuk mendukung pembebasan Papua Barat agar masuk menjadi anggota Melanesia Spearhead Group (MSG), Presiden Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua Yogyakarta juga menyatakan mereka biasa diteriaki “monyet” di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keinginan mereka saat itu untuk turun ke jalan menyuarakan pendapat ingin merdeka dihentikan dan digagalkan sebelum mulai.

Masyarakat berkulit hitam dan rambut keriting di negara ini sudah terbiasa dengan rasialisme terhadap mereka. Sebutan tidak senonoh seperti monyet atau perlakuan diskriminasi oleh masyarakat sudah menjadi kebiasaan. Tidak jarang mereka dianggap kotor oleh masyarakat karena warna kulit mereka yang gelap padahal mereka tidak melakukan apa apa. 

Prasangka masyarakat akan etnis Papua berkontribusi terhadap ketidaknyamanan mereka di luar tanah Papua. Di Pulau Jawa, mereka ditolak untuk menyewa kamar kos karena alasan ras dan dianggap sebagai pembuat onar.

Diakui namun tidak terawat

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Papua adalah tanah yang kaya sumber daya alamnya. Bertahun-tahun pula Indonesia menikmati keuntungan dari kekayaan ini. 

Burung Cenderawasih, salah satu burung tercantik di dunia, berasal dari Papua. Objek wisata kelas dunia kebanggaan Indonesia, Raja Ampat, juga terletak di Papua. Freeport yang merupakan salah satu sumber pemasukan konsisten Indonesia, berinvestasi di tanah air untuk mengekstrak kekayaan tambang yang berasal dari tanah Papua.

Indonesia mengakui Provinsi Papua dan Papua Barat sebagai bagian dari Indonesia. Kendati demikian, Papua bukanlah provinsi yang mendapat perhatian yang cukup jika dilihat dari banyaknya SDA yang diambil dari mereka sejak puluhan tahun silam. 

Meskipun dengan penggalian besar-besaran, anggaran Indonesia sepertinya belum cukup untuk biaya pembangunan tanah Papua. Dapat dilihat dari lambannya pembangunan daerah Papua dibandingkan dengan Pulau Jawa atau Pulau Sumatera. Pemerintah baru menargetkan Papua Terang 2020 di saat listrik bukankah suatu masalah lagi Jawa dan sekitarnya sejak bertahun-tahun yang lalu.

Memegang nasib sendiri

Beberapa kali rakyat Papua menyuarakan kekecewaan mereka akan minimnya aksi pemerintah terkait rasialisme dan diskriminasi. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada tanggapan serius oleh pihak pemerintah. Respons dari pemerintah hingga saat ini hanya sekadar mencari pelaku rasialisme jika ada kasus yang terjadi dan memberikan hukuman kepada mereka.

Belum ada usaha untuk memberikan pemahaman dan menekankan tentang bagaimana salahnya diskriminasi terhadap Papua yang masih dilakukan oleh banyak masyarakat Indonesia.

Indonesia saat ini hiper-nasionalis khususnya terhadap Papua. Sedikit saja Papua bersuara soal kemungkinan memisahkan diri, Indonesia akan menyerbu dengan seribu satu alasan nasionalisme. Sedangkan, sudah lama Papua menyampaikan keinginan untuk lepas dari Indonesia lewat Organisasi Papua Merdeka.

Tentunya akan ada kerugian di pihak Papua jika akhirnya Papua tak lagi bagian dari Indonesia. Tidak ada kepastian bahwa Papua akan lebih makmur jika mereka memisahkan diri. Tidak pasti juga mereka akan maju lebih cepat tanpa Indonesia. 

Mereka mungkin akan menjadi seperti Timor Leste, berjalan maju dengan lebih lambat. Tapi setidaknya itu adalah atas pilihan mereka sendiri. Mereka akan bebas dari segala bentuk diskriminasi maupun rasialisme. Mereka juga tidak perlu merasa berbeda dengan saudara setanah air mereka. Setidaknya mereka akan bisa memilih nasib mereka sendiri.

Rakyat Papua sudah memberikan toleransi yang sangat tinggi selama ini. Mungkin sudah saatnya pendapat mereka lebih didengar.

Kerusuhan yang dimulai sejak Agustus juga sudah cukup memakan korban. Selanjutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan dan mulai melihat dari sudut pandang rakyat Papua apabila masih tetap bersikeras ingin mempertahankan Papua sebagai bagian dari Indonesia.