Kemarin malam di sebuah gerbong kereta.

Seorang laki-laki masuk dan berdiri persis di hadapanku, padahal masih banyak sekali bangku kosong. Dia berkacamata dan memakai masker berwarna hitam. Postur tubuhnya mengingatkanku pada seseorang yang pernah aku sayang.

Sembari membuka maskernya, dia berkata padaku, "Kau mirip mantan kekasihku."

Aku kaget. Aku memakai masker juga saat itu, bagaimana mungkin dia bisa melihat wajahku. Kutanyakan hal itu padanya.

"Aku sudah melihatmu sejak di loket pembelian tiket, sebelum kau pasang masker itu."

"Kau tahu, Mas? Kau juga mirip sekali dengan seseorang," balasku.

"Kalau begitu kau percaya dengan mitos yang berkata bahwa di dunia ini ada tujuh orang yang berwajah mirip dengan kita?" tanyanya serius.

"Tidak," jawabku sambil tertawa.

Haha, benar-benar metode ice breaking yang lihai. Mungkin dia seorang marketer atau public speaker, pikirku.

Lalu kami terlibat beberapa topik obrolan ringan. Musik salah satunya. Sama seperti aku, dia juga suka beberapa musik tahun 80-90an. Dan kebiasaan kami juga sama, saat earphone terpasang dengan musik mengalun di telinga, tangan, kaki, dan kepala kami otomatis bergoyang.

Dia yang mengaku suka bermain bass secara spontan menggerakkan jemarinya seperti saat sedang memetik senar. Aku yang (dulunya) bermain keyboard juga secara tak sadar memainkan jariku layaknya menyentuh tuts keyboard.

"Kau turun di stasiun mana?" tanyanya saat separuh perjalanan sudah kami lewati.

"Pondok Cina," jawabku

"Aku turun di stasiun Depok. Jadi otomatis kau duluan."

"Iya."

"Aku trauma ditinggalkan oleh perempuan, dalam bentuk apa pun."

Oh Tuhan, demi apa pun. Mata itu.

Mungkin setiap malam dia hanya membiarkan air matanya jatuh di cangkir kopi dalam hening.

Sungguh ingin ku menjawab secara (sok) bijak ataupun berfilosofi, tapi lidahku kelu. Dia benar-benar sedang terluka. Itu yang aku lihat. Dan luka yang dibiarkannya menganga itu sepertinya makin hari makin berdarah, bukan makin kering.

"Boleh aku meminta nomor handphone-mu?"

Aku tersenyum, "Maaf, sepertinya tidak bisa."

"Kenapa?"

Oh, wajah itu. Wajah memelas dengan pertanyaan yang sama yang diajukan oleh mantan kekasihku beberapa waktu lalu.

"Biar Tuhan yang mengatur, kita tak perlu ikut campur," jawabku sambil berlalu menuju pintu kereta, stasiun Pondok Cina sudah di depan mata.


Stasiun Adalah Perihal Menanti

Stasiun adalah perihal menanti. Begitu menurut saya. Atau mungkin saya hanya terbawa perasaan karena terlalu sering nongkrong di stasiun menunggu datangnya kereta?

Ya, sebut saja begitu.

Stasiun Jakarta Kota ini dulunya sangat jauh dari angan-angan saya. Bagi saya, tak akan ada kesempatan untuk bermain-main ke sini walaupun untuk sekadar mampir.

Tapi nyatanya sekarang dalam seminggu bisa beberapa kali saya duduk di peronnya. Entah untuk berangkat atau untuk pulang.

Di stasiun jugalah saya sempat melihat bayangan seseorang yang sangat saya kagumi. Saat itu saya mengira bahwa saya sedang berhalusinasi efek dari rindu yang hampir berkarat. Namun kemudian saya dikejutkan oleh satu unggahan di media sosial orang itu bahwa dia sempat melihat saya di stasiun. Berarti itu bukan hanya halusinasi saya.

Saya benar-benar melihatnya! Iya, dia! Yang saya kagumi dan yang paling (tidak) ingin saya temui saat ini.

Lalu pertanyaannya, kenapa Tuhan tidak membiarkan kami bertatap muka lalu saling menyapa? Mengapa kami sampai detik ini hanya dipertemukan melalui untai doa? Sampai kapan Tuhan membiarkan kami bermain petak umpet dengan waktu seperti ini?

Tak ada yang bisa saya jawab. Saya yakin dia juga tak tahu jawabannya.

Atau jangan-jangan Tuhan juga sedang bingung menentukan jawaban? Baiklah, Tuhan. Tak apa. Saya ikuti saja permainan ini. Dengan cara terus mengirim doa dan duduk menanti di peron stasiun. Mungkin suatu hari nanti takdir kami bisa beririsan kembali.

Ya, mungkin.

Jumlah Nabi Kita Tak Sama

Kalau saja sapamu tak kuhiraukan saat itu, Ant, maka tak akan kualami kerumitan seperti ini. Membiarkan diriku luluh dalam dekapmu yang otomatis menjatuhkan hatiku sendiri dari tempat paling tinggi. Harusnya ku sadar, bagaimanapun bentuknya, jatuh akan tetaplah sakit.

"Kenapa kita diciptakan berbeda religi, D?" tanyamu.
"Oh, ayolah Ant. Jangan pertanyaan itu lagi."
"Apa karena jumlah Nabi kita tak sama maka kita tak bisa bersama?"
"Bukan cuma itu, Ant. Yang haram bagiku pun ternyata halal bagimu. Mungkin sudah sepatutnya kita sadar dan berhenti."
"Tapi aku tak mau berpisah hanya karena ini, D."
"Tuhan yang mau, bukan kita."
"Tuhan yang mana?"
"Yang mana saja, Ant. Tuhan sudah berkehendak begitu, maka semesta akan mengamininya."
"Jadi untuk apa kita bertemu?"
"Untuk menanti keajaiban, Ant. Mungkin cuma itu."

Itu percakapan terakhir kita, Ant. Sebelum akhirnya kau yang terlebih dulu melepaskan diri dari hubungan kita. Aku tak terkejut, hanya saja belum siap. Belum siap kehilangan orang yang di bahunya aku pernah menyandarkan mimpi dan harapan.