Apakah pendidikan formal sebagai transformasi pendidikan moral? Pertanyaan ini seakan mengundang narasi yang kurang ajar. Mengapa demikian, tentu kita ketahui bersama bahwa pendidikan formal seperti sekolah maupun kampus telah kita lalui bersama dan kita ada di dalamnya. Dan jelas itu sudah menjadi struktural yang berjalan sudah sejak lama.  

Namun, apakah betul pendidikan formal sebagai pendidikan moral bagi manusia? Tesis ini butuh kajian yang mendalam, agar lembaga pendidikan betul-betul sebagai wadah yang memanusiakan dan membebaskan manusia.

Jika kita sedikit mereview sistem pendidikan kita termasuk sekolah, justru memicu ada kesadaran bahwa sistem pendidikan formal bukan satu-satunya sebagai lembaga yang dapat membentuk pendidikan moral.  

Dalam pendidikan formal, peran pengajar dengan murid masih perlu dipertanyakan. Hal ini terlihat bagaimana sistem pendidikan yang hanya berorientasi pada menghafal pelajaran. Contohnya saja pelajaran agama yang kebanyakan disuruh menghafal--mohon maaf sebelumnya, bukan maksud saya untuk menyinggung. Begitu pun dengan pelajaran PPKN juga sering berorientasi pada hafalan.  

Sistem pendidikan seperti ini menurut pribadi saya tidaklah mencerminkan adanya pendidikan moral. Proses menumbuhkan daya kreativitas, kritis dan mandiri pada diri siswa seakan jauh dari substansinya. Peran siswa didorong hanya untuk menerima pelajaran saja secara mentah-mentah dan siswa hanya bisa patuh atas apa yang disuruhkan oleh guru.

Jika hal seperti ini yang terus-menerus terjadi pada sistem pendidikan kita, tentu sistem pendidikan tersebut tidak mengalami perkembangan. Dan itu dapat membuat para generasi nantinya mengalami degradasi moral dan depresi terhadap perkembangan zaman.

Kondisi demikian merupakan salah satu problem besar, melihat esensi pendidikan mestinya dapat mewujudkan manusia yang bermoral dan beretika serta tanggap terhadap perubahan zaman.  

Melalui pendidikan, manusia harus dapat terbebas dari segala tekanan dan merdeka dalam menentukan nasib sendiri. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, "mestinya manusia merdeka sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan." Artinya bahwa pembebasan manusia bukan hanya ada dalam pikiran, tetapi lebih dari itu juga harus terjadi dalam perbuatan.

Namun, prinsip ini seakan terbawa arus gelombang dengan derasnya perkembangan zaman dan ada juga yang memang sengaja untuk mengabaikannya. Problem dalam pendidikan kita masih bereaksi, seperti halnya kapitalisme pendidikan yang dijadikan sebagai bahan bisnis. Peran pengajar tidak berada pada koridornya yang hanya melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelajaran saja, dan setelah itu seakan tidak ada lagi perannya sebagai seorang pengajar/guru.

Padahal tidak, peran guru/pengajar secara substansi mesti dapat memproduksi manusia sebagai sejatinya manusia dengan tidak hanya memberikan pelajaran saja.

Bukan malah menjadikan sistem pendidikan yang hanya memproduksi manusia-manusia siap kerja, karena hal itu tidak cukup untuk membentuk manusia dalam menghadapi perkembangan zaman ini.

Melihat perkembangan zaman yang begitu cepat, tentu bukan hanya kecerdasan otak saja yang perlu diperhatikan. Melainkan kecerdasan emosional yang juga perlu diperhatikan dan dibangun sejak dini. 

Meminjam pendapat dari Yoval Noah Harari bahwa dalam menghadapi perkembangan zaman yang serbacepat dengan adanya kecerdasan buatan, maka perlu ada kecerdasan moral dan ketahanan mental pada diri manusia. 

Dengan ketahanan mental tersebut, hal itu dapat membuat jiwa manusia terkontrol dan tidak mengalami stress untuk ikut pada zaman yang begitu serba cepat, serta mampu mengambil peran di dalamnya. Dengan bekal ketahanan mental pulalah sehingga ilmu-ilmu sains itu dapat dikuasai dengan baik.

Itulah mengapa pentingnya mewujudkan pendidikan yang baik untuk mencetak manusia-manusia yang berkarakter. 

Konsep dan teori pendidikan juga banyak diutarakan para pendahulu bangsa ini termasuk Ki Hajar Dewantara. Teori pendidikan beliau bersumber pada pendidikan kultur-nasional. Menurutnya bahwa sistem pendidikan Indonesia harus dapat berakar pada nilai-nilai kebudayaan tanah air.

Melalui bekal pendidikan kultural-nasional tersebut, maka arah untuk menuju pada nilai-nilai moral akan berasal dalam bumi Indonesia sendiri. Bukan berarti kita menutup ruang untuk budaya barat, melainkan perlu untuk memilah dan tetap memegang teguh nilai-nilai kebudayaan Indonesia dalam menghadapi tatanan hidup.

Sistem pendidikan Ki Hajar Dewantara ini, menurutnya, bukan hanya sekolah sebagai satu-satunya lembaga pendidikan. Tetapi pendidikan harusnya ada di mana-mana, baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan nasional. Artinya bahwa pendidikan ada dimana saja, dan setiap langkah manusia selalu dalam bayangan pendidikan yang mendidik.