Apa betismu tersingkap? Oh tidak. Itu tidak mengapa. Aku laki-laki. Mungkin betisku sama dengan betismu. Sama tidak indahnya dilihat. Pun barangkali juga pernah lebam dicubit simbok. Aku sering mengalaminya. Gegara malas mandi pagi untuk sekolah. Atau gegara simbok jengkel oleh sebab perilakuku yang bandel nggak ketulungan.

Itu semasih kanak-kanak. Tetapi tetap saja terkenang sampai usia dewasa.

Oya, di kala remajamu, bagaimana pendapatmu tentang betis jeng Laila yang tersingkap? Tak perlu dijelaskan juga kau pasti malu menceritakan kejujuran. Mungkin itu aib. Bisa saja itu menurutmu terlampau berlebihan diceritakan. Toh betis memang tidak lebih bagian dari organ tubuh. Walau begitu, sejauh yang kupahami, betis memiliki makna berlainan di tiap-tiap jenjang usia.  

Di usia remajamu. Barangkali kau menyukai Jeng Laila justru sebab keolekan betisnya itu. Putih dan terselubung. Kau bisa saja banyak berharap bakal ada angin kencang yang menyibaknya sesekali. Kau menyusun mimpi-mimpi suatu waktu dapat mendatangi rumahnya. Menyalami kedua orangtuanya. Menyiapkan lamaran sesegera mungkin jika diperlukan.  

Nah. Saat diriku mulai menginjak dewasa, soal betis yang menyimpan misteri keelokan terselubung itu mulai tidak utuh. Sebab aku tidak lagi melihat keberadaan betis itu tidak melulu menjelaskan sosok Jeng Laila. Acapkali ia sesekali menjelaskan kemunculan cak Fulan. Ya. Tetangga sebelah yang konon memiliki mata berbentuk keranjang yang lebar.

Ada kisah aneh soal cak Fulan ini. Suatu hari tiba-tiba ia dicegat kang Zaid di tengah jalan. Tanpa banyak bicara, tiba-tiba kang Zaid mengamuk. Cak Fulan roboh. Banyak luka di tubuhnya. Beruntung ia selamat setelah ditangani dokter di rumah sakit kecamatan. Konon masalahnya sederhana. Cak Fulan punya hobi melirik betis jeng Laila yang tersingkap. Betul. Kang Zaid adalah suami dari Jeng Laila.  

Nah. Sejak itu, soal betis berikut kemisteriusannya itu menghilang dari benakku. Aku mulai berpikir bahwa melihat betis yang tersingkap itu sangat berbahaya. Jadi lebih baik tidak tergoda setiap kali ndilalah ada betis-betis yang tersingkap. Tapi itu ketika aku menginjak dewasa.

Saat aku betul-betul sudah memasuki usia kedewasaan, kembali aku tertarik soal betis yang tersingkap itu. Itu setelah membaca dongeng Ken Arok. Raja Singasari itu, konon sukses menjadi seorang raja berkat menyaksikan betis Ken Dedes. Seorang perempuan cantik masa itu.  

Tetapi Ken Dedes sudah punya suami. Itu masalah yang membuatku bingung. Ini fenomena langka. Sebab aku teringat kisah Cak Fulan dan Kang Zaid. Betis Jeng Laila membawa cak Fulan ke rumah sakit. Tetapi betis Ken Dedes malah mengantarkan Ken Arok ke istana? Tetapi kabarnya, betis Ken Dedes memang bukan sembarang betis.  

Barangsiapa yang kedapatan melihatnya, ia bakal mendapat pulung wahyu keprabon. Begitulah kata-katanya yang kutahu. Kugarisbawahi lagi. Itu berlangsung semasa usia kedewasaanku. Begitu memasuki usia tuaku, ternyata berubah lagi anggapanku soal betis yang tersingkap. Ini tampak aneh.

Tetapi nyatanya begitulah. Selalu saja muncul perubahan di masing-masing usia yang kau lalui. Tiba-tiba sesuatu yang sama bentuk maupun warnanya dapat berubah makna dan penilaiannya. Nah, di usiaku yang mulai luntur itu, soal betis tersingkap ini kembali berulah. Sebab berada di mana pun saja, betis-betis elok menawan selalu bermunculan. Menggoda mata dan rasa ingin tahu.

Terlebih, aku melihat tidak hanya manusia atau hewan saja yang memiliki betis nan elok rupa. Aku melihat betis-betis penuh hasrat tersingkap di banyak tempat dan ruang. Batang-batang pohon. Ceruk-ceruk pegunungan. Lembah dan sungai-sungai. Di kedalaman samudra. Bahkan aku melihat betis-betis yang tersingkap lepas dan telanjang di udara. Dibawa angin. Ke sana dan ke mari.

Orang-orang mengatakan bahwa itulah betis yang anggun rupa milik ibu pertiwi. Banyak pangeran di negeri-negeri antah berantah yang kecanduan melihat atau sekedar untuk melirik saat ia tersingkap. Bahkan ada juga di antara pangeran dari negeri antah berantah itu yang menyerupai cak Fulan. Berani mendatanginya. Kemudian berlama-lama untuk menikmatinya. Bahkan mulai lancang untuk mencubit-cubitinya.

Di saat-saat macam itu, ingatanku kembali pada lebam betisku karena dicubit simbok semasa kanak. Oh, ada rindu yang meledak-melesak untuknya. Cubitan simbok pada betisku ternyata tak sebagaimana cubitan orang-orang itu pada ibu Pertiwi. Yang melahirkan takdim, bakti dan cinta.  Begitu rupa. Sedemikian tidak terkatakan.

Entahlah, tetapi cubitan-cubitan mereka memang melebihi lebam. Sebab setelah itu mendadak gunung-gunung jadi datar dan menjelma sumur-sumur yang sedemikian jurangnya. Hutan-hutan kehilangan pepohonan. Laut mengecil. Ikan-ikannya menipis. Sungai-sungai lenyap satu demi satu. Udara yang semula menyegarkan, tiba-tiba sengak di pernapasan. Ibu Pertiwi lamat-lamat mulai ditangisi oleh anak-anak cucunya.