“Mas, bisa enggak sih kamu diganti “casing”-nya?”. Meledak tawa kami termules-mules di meja makan saat sarapan.

Dua puluhan tahun silam, istri saya pernah bilang, “Mas, kalau aku amat-amati ya, mata kamu tuh mirip Shahrukh Khan, lho”.

Mangkok hidung saya berdenyut mekar serasa. Sekiranya ia lalu ingin memanggil saya sehari-hari dengan nama itu, saya juga  tidak keberatan. Meskipun di masa-masa itu saya lebih merasa mirip tokoh Brian dalam “Coctail” : Tom Cruise.

Jaman itu panggilan sayang saya padanya ‘nduk’. Sehari-hari juga begitu. Sampai kemudian anak-anak lahir; saya mulai menggunakan sebutan ‘ibu’ supaya menjadi pilihan panggilan anak-anak pada orang tua yang melahirkannya.

Lagi pula panggilan sayang ‘nduk’ membuat saya lebih merasa punya anak perempuan ketimbang punya istri pendamping hidup. Keganjilan relasi akibat meng-‘genduk’-kannya sungguh menyiksa diri: ingin menyayanginya tapi kok sering menzaliminya, ingin melindunginya tapi kok senang memaksanya. Otoriter. (Seperti) sikap kebanyakan bapak kepada anaknya, deh. Dan saya sadar, relasi yang demikian adalah sisa abu yang belum lagi lindap di dalam batinnya. Duh!.

Sayangnya, alih-alih menimpali, sebutan ’ibu’ padanya malah sering memancing  protesnya. “Apa-an, sih ba-bu, ba-bu, memangnya aku ibumu? enggak nyaman, ah”. Begitu sahutnya ketus.

Sebagian dari cara membahagiakan istri adalah membuatnya ia nyaman, makanya lalu saya panggil saja ia dengan sebutan ‘adik’ atau ‘istriku’. Telinganya tidak “gatal” dengan sebutan itu. Mungkin ia nyaman, syukur jika ia bahagia.

Jelas saya senang bisa bertahan menggunakan sebutan itu untuknya, sampai saat ini. Malah sebutan tersebut sering tidak sengaja menjadi pelerai dan pereda ketegangan jika silang pendapat  entah itu menyangkut persoalan anak-anak, atau urusan-urusan klise rumah tangga lainnya terjadi suatu hari.

"Istriku!" begitu, cara saya memulai atau meladeni "provokasi"nya. Atau: "Adik!", lha kebayangkan? bagaimana cekcok adu mulut bisa bergolak, drop langsung seluruh ketegangan situasinya. Bertengkar tidak jadi lebih mirip sesi konsul terapis dengan kliennya (boleh lho, dicoba bagi yang mau menjadikan pengalaman saya sebagai tips "bagaimana menghentikan secepat kilat pertengkaran dengan istri").

Saya jadi teringat guyonan khotbah pak ustad dalam nasehat perkawinan pada suatu undangan akad nikah yang saya hadiri.

“Enam bulan umur perkawinan, kita masih saling menggunakan panggilan ‘ayang’, ‘cinta’, ‘honey’. Istri mau naik mobil pintu dibukain, mau turun tangga tangan pasangan saling kepit. Setahun umur perkawinan, panggilan sudah terpenggal, ‘sayang’ menjadi ‘yang’, cinta menjadi ‘cin’, ‘honey’ jadi ‘hon’, mau naik dan buka pintu mobil diburu-buru, turun tangga istri ditinggalin. Masuk paruh tahun kedua pernikahan, suami sudah sebut nama langsung saja ke istrinya, “Rini! kaos kakiku disimpan di mana?”. Istri juga tak mau kalah, “Ton, cicilan mobilku bayar dong, sudah lewat jatuh tempo, tuh”. Usia perkawinan masuk tahun ke tiga, panggilan pasangan sudah ‘njing’, ‘nyet’, ‘ndut’, ‘mpong, ‘Tem’, ‘Heh’, ‘Woi’.

Suasana perasaan hati pada pasangan, kadang terungkap lewat bentuk sapaan.

***

Memang, waktu adalah mesin pencipta. Maha, malah. Ia meng-ada-kan dan melanggengkan sesuatu yang semula tidak ada.

Mata seorang lelaki yang kenyataannya kecil dan sipit, adalah kesempurnaan yang bikin hati istrinya selalu begetar bila ditatap karena serasa ditatap artis Bollywood idamannya. Kulit istri yang gelap legam memunculkan bayangan Rihanna, kadang menjadi JLo di kepala suaminya.

Di lain waktu kebalikannya, postur suami yang sudah rata-rata orang Indonesia, dipaksa-paksa istrinya untuk ke dokter ortopedi supaya bertambah maksimal tingginya, “Biar enak meluknya” hujjahnya. Harum alami tubuh istrinya yang pernah bikin betah suami berubah menjadi aroma suasana pasar Tanah Abang lapak minyak wangi dan kurma. 

Begitu kreatifnya waktu.

Waktu tidak meniadakan atau melenyapkan. Kalau sepertinya waktu dapat membasuh peristiwa, itu tidak pernah benar-benar terjadi--meniadakan atau melenyapkannya, apalagi menyembuhkan, kecuali hanya seperti permainan illusionist yang membuat seekor merpati lesap dari tangannya di hadapan penontonnya.

Seorang istri bisa saja kembali memulai lagi kehidupan dengan suami yang pernah menyakitinya, karena “seiring waktu” peristiwa dan jejaknya seperti tak tersisa. senyatanya luka dan sakit hati tidak berakhir dan lenyap seperti lenyapnya jejak kaki di bibir pantai yang tersapu ombak. Waktu tidak menyapunya, ia menyamarkan saja melalui karya ciptaan baru lainnya. 

Kalau Jiddu Krishnamurti mengatakan, “waktu adalah gerak dari apa adanya menuju apa yang seharusnya”, maka karya cipta baru yang di maksud adalah kelahiran khayalan ‘apa yang seharusnya’ : perceraian tidak disukai Tuhan. Untuk itulah ia pertahankan biduknya, amnesia dengan babak belurnya.

Begitulah cara kerja waktu: agar kehidupan seseorang terus dapat berlangsung. Hanya melalui kelangsungan suatu kenanganlah (baca:waktu) manusia menentukan pilihan-pilihan dan melanjutkan hidupnya.

***

“Jadi, kalau aku mampu, kamu mau aku ganti casing-ku seperti siapa?” tanyaku masih terpingkal-pingkal.

“Kim Soo-hyun” sahutnya tangkas. Matanya berkaca-kaca, indah. Aku serasa sedang sarapan bareng Chelsea Islan. Eh.

“Aku seneng, deh semalem mimpi di kecup kening sama Kim Soo-hyung” lanjutnya

Semakin aku terpingkal dibuatnya.

Semalam itu, jam 00, saat ia terlelap, aku mengendap mengecup keningnya sambil berbisik, “Dirgahayu ya, istriku”.