Mahasiswa
5 bulan lalu · 400 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 40707_76327.jpg
Didikpurnomo.wordprees.com

Betapa Sia-Sianya Minum Kopi Bersama

Saya tak tahu apa tujuan minum kopi bersama di kedai selain cari wifi. Setelah itu sibuk main gadget masing-masing. Jauh-jauh ke kedai sekedar minum kopi bersama. Ternyata, ketika sampai di tempat, tujuan utamanya bukan saling ide. Andai kedai saat ini jadi tempat bertukarnya ide revolusioner, terkurangi beban bangsa, karena banyaknya solusi yang dihasilkan dari pertukaran ide.

Masih ingat di pikiran, ketika saya diajak teman untuk ngopi bersama-tak semua minum-minum kopi seperti yang saya bicarakan ini-ternyata, tidak ada yang perlu dibicarakan kalah daripada bincang-bincang aki-aki di warung tradisional. Mereka bicara tentang cangkul, sawah, sapi, daunan dan rumput yang sulit dicari ketika musim kemarau. Lebih realistis daripada pembicaraan teman-teman yang sok borjuis.

Isi dari agenda minum kopi bersama sebenarnya tak lebih dari menghamburkan uang. Gaya-gayaan di kedai mewah. Tapi, ujug-ujug seperti daun kering ketika sudah tak punya uang sekedar beli permen. Mampus dikoyak-koyak kekurangan uang. Bayang-bayang penyesalan karena minum kopi di kedai elit tapi sekarat setelahnya.

Minum kopi yang tak menghasilkan apa-apa sebenarnya tak lebih baik daripada minum jasjus. Minum kopi yang tak menggeliatkan revolusi hanya istirahat melepas penat. Yang tak kalah ketika minum kopi, gelasnya difoto, diupload di story WA, fb diberi caption : " revolusi" atau diskusi sambil ngopi. Padahal kenyataannya hanya bincang-bincang. Ngalur-ngidul. Ujung-ujungnya tak ada hasil.

Saya sebenarnya bukan anti minum kopi bersama. Tapi, ketika tidak ada sesuatu yang bermanfaat untuk diperbincangkan, lebih baik, membaca, menulis, nelpon gebetan, kencan, dll. Dengan menulis, jelas apa yang dihasilkan. Dengan membaca, jelas apa yang ditangkap dari bacaan. Dengan kencan, jelas apa yang diperbuat.

Tapi, ketika minum kopi bersama tapi tak jelas ujungnya.  tak ada kerjaan lain yang lebih jelas? Tuhan melarang menyia-nyiakan waktu. Tolong dah ! Jangan bikin kesal Tuhan. Waktu  yang tak digunakan sebaik mungkin sama halnya membuat jalan tol tapi tak berguna bagi semua kan. Sia-sia.

Ketika ada yang bertanya, bukankah ada penelitian, bahwa konsumsi kafein ada hubungannya dengan denyut jantung? Penelitiannya ada. Seperti yang telah diberitakan di kompas.com, orang yang banyak minum kopi menurunkan resiko kematian dini. Dengan demikian, ajakan minum kopi bersama di kedai dengan macam-macam kopi sama halnya mengaja orang lain untuk hidup lebih panjang lagi.


Karena itu, jika ada 10 orang yang diajak minum kopi bersama. Otomatis, sudah mengajak 10 orang lebih panjang lagi. Jika di antara 10 orang tersebut mengajak 2 orang lagi misalnya, otomatis sudah bertambah 12 orang hidup lebih lama lagi. Bayangkan, jika 10 orang itu mengajak 2 sampai 5, otomatis sudah banyak yang diajak hidup lebih lama lagi.

Variabel-variabel itu tentu perlu dibuktikan. Saya yakin, ekonomi akan menggeliat. Kedai-kedai akhirnya menjamur. Banyak yang ingin mendirikan kedai karena melihat kedai begitu menjanjikan. Jika demikian, bisakah kedai-kedai yang menjamur itu menjadi tempat berseminya pikiran kritis? Belum tentu.

Banyaknya kedai bisa jadi berbanding terbalik dengan berseminya pikiran kritis. Ini pun bisa dilihat dari berbagai kenyataan di kedai. Sampai di kedai, cari wifi. Setelah itu, sibuk buka WA, facebook, IG dll. Tidak ada interaksi, yang ada senyum-senyum sendiri. Gandget merenggut segala. Dengan demikian, jangan harap ada pikiran kritis.

Apakah semua golongan sama? Faktanya memang, tak ada perbedaan antara aktivis, mahasiswa, siswa SMA, SMP pergi ke kedai biasanya cari wifi sambil lalu bikin status galau ala-ala filsafat. Jangan tanyakan pada aktivisnya, apa yang dikerjakan. Sebab, zamannya saat ini berbeda. Mahasiswanya yang pikirannya terkurung di balik tembok setebal 100 cm lebih. Siswanya? Saya khawatir, game onlie merenggut interaksi mereka.

Jika demikian, seharusnya kedai kopi lebih memperhatikan lagi cara tepat menghidupkan budaya kritis di ruang publik. Sebab, toh ruang publik didominasi satu golongan kan. Dari pikiran kritislah negara ini timbul. Sebab, dulu pelajarnya ingin bangsa ini merdeka.


Tetapi, apakah setelah kemerdekaan selesai, kekritisan tak dibutuhkan. Kumpul-kumpul bersama berembuk soal kemajuan bangsa ini tak lagi dibutuhkan? Tidak. Sebab, bagaimana pun pikiran kritis tetap harus ada meski tempat dan zamannya sudah berubah. Waktu dan tempat boleh berubah, tapi pikiran kritis tak boleh punah.

Tak ada bangsa tanpa masalah. Sebab, bagaimana pun tiap-tiap kepala rakyatnya sudah seperti disediakan masalahnya masing-masing. Dengan demikian, negara mengelola masalah agar terlihat rapi terorganisir sebelum akhirnya diselesaikan.

Apakah penyelesaian bisa diselesaikan cukup pemerintah? Sudah mustahil, tak kan tercapai tanpa saling gotong-royong. Seperti demokrasi yang tak kan mencapai titik sebelum ideal secara sempurna tanpa kerja sama dari rakyatnya.

Gotong -royong tak kan ada tanpa adanya rembuk bersama. Rembuk bersama tidak lain di kedai, di warung tradisional. Oke lah di warung-warung kampung, tempat aki-aki minum kopi sudah banyak membicarakan masalahnya meski di tingkat akar rumput. Sekarang, tinggal di kedainya yang dihuni banyak aktivis dan mahasiswa.


Kedai yang sebenarnya harus diisi dengan bincang-bincang santai dan segar terkait bangsa dan umat. Tidak boleh kalah dengan bincang-bincang aki-aki terkait kehidupannya.

Oleh karena itu, saya sarankan minum kopi sambil lalu diskusi. Atau minimalnya bincang-bincang artis yang tersangkut prostitusi online. Misalnya, penyebabnya. Langkah pembinaan sosialnya bagaimana. Bahkan bisa dibincangkan terkait libido perempuan dan laki-laki yang kembang-kempis seperti balon yang ditiup. Saran ini tak bersifat mengikat. Cuma sekedar prasyarat menuju Indonesia berperadaban.

Artikel Terkait