1 tahun lalu · 1137 view · 3 min baca menit baca · Agama 24864_48550.jpg
Foto: Twitter.com

Betapa Enaknya Jadi Warga Beragama Islam

Di negeri ini, menjadi warga beragama Islam itu sangat enak. Selain berposisi umat mayoritas, keimanan yang dipeluk pun digadang banyak pihak sebagai ajaran paling benar. Ya, paling benar sendiri. Yang lain mah autokafir.

Hampir seluruh wilayah di Indonesia memang melulu dipadati pengikut Muhammad bin Abdullah. Angkanya fantastis, mencapai kisaran rata-rata 87 persen dari total penduduk yang ada.

Persentase sebesar itu juga merupakan rata-rata dari persentase penganut Islam di tiap provinsi. Penganut agama ini menjadi mayoritas di hampir semua daerah besar, kecuali Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Barat.

Makanya, sebagai mayoritas, tindakan atau kehendak apa pun darinya hampir tidak pernah bisa dianulir. Jangankan kelompok di luar dirinya, negara sekalipun layak takut jika harus meredam kekuatan massa seperti ini.

Ingat, kan, bagaimana kasus Pilkada DKI Jakarta 2017? Desakan kepentingan mayoritas menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan hakim. Bisa dikatakan, yang berlaku belaka adalah hukum rimba: siapa kuat dia menang.

Untuk soal keimanan, ia didukung argumen teologis yang mengakar kuat. Bukan rahasia lagi bahwa Muhammad datang bawa Islam sebagai penyempurna semua agama. Ini mengindikasikan bahwa ajaran yang dipeluknya tersebut jauh di atas kertas dari ajaran-ajaran lain sejagat nusantara. Belum lagi si pembawa risasalahnya adalah yang paripurna.

Seperti halnya di aspek kemayoritasan, lantaran ajarannya dinilai paling benar sendiri, maka segala tindak-tanduknya, selagi dibalut dalam nafas keimanan, terang susah untuk tertandingi. Sebab yang diperlawankan bukan lagi antarmanusia, tapi manusia dengan tuhan. Berat. Bahkan seorang Dilan pun tidak akan sanggup.

Berbekal dua modal besar itu, tak salah jika perlakuan untuknya selalu tampil istimewa. Beragam fasilitas tersediakan. Masjid-masjid bisa dibangun di mana saja, dengan atau tanpa izin. Sekolah-sekolah (pesantren) hingga bantuan langsung seperti listrik gratis akan dengan mudah bisa mereka nikmati.

Lihatlah di Baduy. Yang berhak mendapat bantuan listrik gratis PLN adalah warga yang memeluk Islam saja. Pihak PLN punya maksud, mengarahkan bantuan khusus ke mereka adalah upaya memajukan hidupnya. Warga di luar itu tidak jadi perhatiannya.

“Ini dilakukan dengan pertimbangan, mereka sudah menjadi mualaf sebelumnya. Bentuk syukur telah ada perubahan mereka menjadi pemeluk agama (Islam),” terang Kepala Satuan Komunikasi Korporat PT PLN, I Made Suprateka.

Tidak hanya listrik gratis tentu saja. Ada juga program-program bantuan langsung lainnya, seperti uang tunai Rp 351 juta dan pemberian bibit pepaya California. Semuanya khusus hanya untuk warga beragama Islam di daerah ini.

“Penyaluran bantuan itu agar warga Baduy yang memeluk agama Islam bisa hidup mandiri juga mampu mengelola usaha.”

Hebatnya lagi, kehendaknya acap kali juga jadi prioritas. Satu contoh paling mutakhirnya adalah aksi pembubaran bakti sosial di Yogyakarta.

Di sini, di kota istimewa ini, kehendak mereka tak terbendung. Kegiatan bakti sosial Gereja Katolik Santo Paulus harus terhenti. Gara-garanya adalah mendapat penolakan dari warga beragama Islam yang tergabung dalam pemuda masjid dan ormas Front Jihad Islam (FJI).

Alasan? Karena dinilai sebagai kristenisasi, sebuah upaya pengrusakan aqidah-keimanan warga sekitar.

Karena itu, ratusan laskar FJI bergerak dengan nafas amar ma’ruf nahi munkar. Pembubaran bakti sosial itu adalah bagian jihad melawan orang-orang kafir.

“Kami datang ke sini sebagai upaya untuk menjaga terciptanya keamanan masyarakat karena hal ini sangat sensitif. Kami tidak menolak bakti sosial, namun jangan sampai melibatkan umat Islam. Cukup dilaksanakan di gereja masing-masing, agar tidak menimbulkan masalah,” ujar Komandan FJI, Darrohma.

Padahal, seturut rencana, bakti sosial ini akan menjual 185 paket bahan pokok yang murah meriah. Agendanya akan berlangsung di rumah Kepala Dusun Jaranan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Sayang, karena anggapan sebagai kristenisasi, bakti sosial yang sifatnya luhur itu pada akhirnya batal. Bentuk kepedulian keuskupan atas dasar kemanusiaan dalam rangka memperingati catur windu (32 tahun) Gereja Katolik Santo Paulus pun tak jadi terselenggara.

Pemerintah setempat? Alih-alih memberi rasa aman, yang dilakukan justru blaming the victim, menyalahkan korban. 

"Mbok baksos itu enggak usah mengatasnamakan gereja, kan persepsinya jadi lain," timpal Sultan.

Kasihan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Aneh? Tentu saja. Bakti sosial dinilai bermasalah karena mengatasnamakan gereja. Sementara yang membubarkan, bawa nama pemuda masjid dan ormas Islam, baik-baik saja, tidak dipermasalahkan.

Maka sungguh enak, kan, jadi warga beragama Islam? Apa-apa bisa didapat. Semuanya mudah dan terjamin. Sebab didukung kekuatan besar berupa massa dan argumen teologis yang kokoh, juga pemerintah.

Artikel Terkait