Entah kenapa saya mulai meyakini betapa berbahayanya slogan “NKRI Harga Mati” itu. Karena cukup sekali tegak, meski diniatkan untuk tujuan yang baik-baik, potensi mudaratnya ternyata jauh lebih banyak.

Jangan bilang kalau saya tidak cinta Indonesia. Justru saking cintanya saya pada negeri tumpah darah inilah kenapa tulisan ini tersajikan. Bahwa kritik adalah bagian paling mendasar dari tatanan cinta; lawannya ketidakpedulian.

Kalau saya tidak peduli, persetan sekali bicara Indonesia. Cukup saya biarkan. Mau perang, peranglah. Hancur, hancurlah. Bodoh amat pokoknya. Begitu, kan, kalau orang tidak peduli, tidak cinta?

Baiklah. Langsung saja saya utarakan kenapa “NKRI Harga Mati” itu akhirnya begitu berbahaya di mata saya.

Kita semua tahu, tanpa kebebasan individu (warga), entah dalam hal berpikir atau bertindak, apalah makna diri manusia? Tidak ada, kecuali sebatas seonggok daging belaka. Menjadi tiada bedalah dengan binatang-binatang ternak—saya tidak memasukkan binatang liar, karena setidaknya punya “kebebasan bertindak”: mau makan apa, tidur di mana, tidak ada penggembala yang mengatur hidupnya.

Berbekal “NKRI Harga Mati”, itu berarti bahwa saya—juga Anda semua sebagai warga negara—tidak punya pilihan lain kecuali mengikut pada tatanan bentukannya. Dan sialnya, tatanan bentukan itu hanya diproduksi dari atas ke bawah: elite/pemerintah menentukan, warga mengamalkan. Model tatanan yang aduhai.

“Kan sudah dirumus-bakukan oleh para pendahulu kita, pejuang-pejuang kemerdekaan kita, bapak-bapak dan ibu-ibu pendiri bangsa kita? Maka sudah harga mati. Tidak boleh diganggu gugat lagi,” kata si pengabdi.

Bagaimana kalau tatanan yang sudah dihargai sampai mati itu tidak relevan lagi dengan perubahan zaman? Misalnya Pancasila. Bukankah kini bisa kita lihat bahwa ada banyak pihak yang ternyata tidak mengakuinya sebagai ideologi negara? Bisa jadi sudah dinilai tidak layak. Mungkin juga karena sejumlah unsurnya memang tidak jelas.

Saya termasuk orang yang sangsi dengan keampuhan Pancasila. Kesaktiannya yang kerap dikumandangkan, terutama di perayaan hari kelahirannya, nyaris terdengar sebagai sesuatu yang lebai belaka. Sebab fakta-fakta menunjukkan, terus memaksakan penerapan nilai-nilainya justru marak melahirkan konflik.

Lihat saja bagaimana perlakuan banyak orang terhadap individu yang berani menyatakan diri sebagai manusia tanpa agama atau ateis, misalnya. Meski tidak akan berujung pidana, tentu eksistensinya cenderung akan terbatasi. Persekusi hingga penghilangan hak asasi (nyawa) sangat mungkin pula akan jadi derita.

Maka saya kemudian bertanya, di mana letak kemanusiaan yang adil dan beradab itu? Mana konsep keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya?

Itu semua hanya mungkin berlaku di negeri yang terlalu cinta mati pada satu konsep. Ketika kita sudah memutlakkan “ketuhanan yang maha esa”, maka yang ateis akan serta-merta dicap “tidak mengindonesia”. Karena apa? Bukan semata tersalahgunakan berekor pemakluman lantaran dipandang lazim, melainkan pula sebab ketidakjelasan maknanya sendiri.

Apa makna darinya kalau bukan harus bertuhan melalui insitusi agama mainstream? Ada memang aliran-aliran kepercayaan. Mereka diakui, tetapi tidak pernah benar-benar utuh. Buktinya? Ya ateisme tadi, salah satunya.

Entah tidak jelas atau gemar disalahgunakan, ini jadi satu penanda bahwa sila pertama itu memang bermasalah. Dan hanya ada 2 cara terbaik untuk meresponsnya: mengubah atau menghapuskannya sekalian.

Bagaimana mungkin bisa menghapus atau mengubahnya jika konsep “NKRI Harga Mati” saja sudah tertanam hebat, meniscayakan keberadaan Pancasila, terutama soal “ketuhanan yang maha esa”?

Jangan terlalu khawatir. Perkara ini bukan sesuatu yang mustahil. Hanya butuh keberanian memulai saja. Semoga tulisan ini turut jadi bagian dari permulaan.

Lantas terhadap sila-sila lanjutannya? Saya kira sudah tidak perlu dibahas lagi. Efek dari sila pertama sudah jelas menjerumuskan keempat sila setelahnya. Bak organ tubuh: rusak kepala, hancur seluruh badan.

Maka saya cukupkan sampai di sini dulu untuk kemudian jadi bahan renungan bersama. Sebab masih banyak masalah yang konsep "NKRI Harga Mati" itu timpakan kepada kita-kita yang tidak mengamininya.

Terakhir, walau agak terlambat, saya ucapkan: Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke-74. Semoga momen spesial—bagi banyak orang—ini jadi pemicu kita semua untuk saling bebas-membebaskan.