Sejak kecil, aku selalu melewati makam Pangeran Diponegoro yang dekat dengan pusat perbelanjaan di Makassar waktu itu, pasar Sentral.

Aku dan keluarga, baik kakak, adik, dan ibu jika berbelanja di pasar Sentral, kami menaiki mobil sewaan, angkot atau pete-pete istilah orang Makassar. Pete-pete yang kami tumpangi rutenya selalu melewati makam beliau. Namun, kami tidak pernah singgah untuk berziarah. 

Ketika salah satu anggota keluarga jauh yang merupakan seorang mahasiswi, Ammoz bercerita. Bahwa dia baru saja mengantar temannya yang datang dari Jogjakarta ke makam pangeran Diponegoro. 

Temannya ini datang pertama kali di Makassar untuk mengikuti suatu kegiatan dan ingin menyiarahi makam beliau. Barulah keinginan berziarah itu muncul kembali. Dan kali ini, kesempatan berziarah itu ada.

Aku bisa berziarah karena sedang berada di Makassar, Sulawesi Selatan untuk kontrol kesehatan. Sebelumnya, aku berada di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Aku sungguh bersyukur, alhamdulillah bisa punya kesempatan ini. Aku akan berziarah ke makam pangeran Diponegoro setelah sekian lama hanya kulewati. 

Makam Diponegoro terletak di jalan Pangeran Diponegoro, kecamatan Makassar. Merupakan jalan raya utama yang dilalui angkutan umum dan jalanan yang juga dilewati dari arah pelabuhan.

Aku kesana bersama Ammoz dengan menggunakan motor dari aplikasi pemesanan online. Motor  kami sedang ada di kampung. Sebelumnya, aku juga sudah janjian dengan Ais, teman pelatihan keindonesian di Jakarta, yang sudah seperti sahabat lama untuk meet up di makam Abdul Hamid, nama lain pangeran Diponegoro.

Di Makam Pangeran Diponegoro

Saat tiba di makam beliau. Sekitar jam dua siang. Aku baru bisa ke sini di siang hari. Setelah pulang dari check-up di klinik. Ada beberapa rombongan bus pariwisata yang turun dari mobil yang juga sedang berziarah ke sana. Rupanya mereka adalah anggota DPRD dari Magelang, Jawa Tengah.

Aku masuk ke dalam area makam yang tidak terlalu luas. Ada dua makam inti yang besar, dan yang lainnya kecil seperti biasa. Semua makam dan kuburan terbuat dari batu.

Dua makam inti yang besar adalah makam pangeran Diponegoro dan makam istrinya. Makam yang berwarna hitam dan abu-abu itu terlihat eksklusif walau tanpa banyak corak. 

Corak hanya terdapat pada nisan seperti ornamen yang pernah kulihat pada keraton Jogjakarta. Mungkin saja benar, karena aku pernah membaca bahwa pangeran Diponegoro adalah anak dari Sultan Hamengkubuwono ketiga (III) dari istrinya yang berasal dari Pacitan, Jawa Timur.

Di atas makam pangeran Diponegoro ada sebuah benda semacam plakat kayu yang bertuliskan, Sultan Abdul Hamid Herucokro Kabiril Mukmin Sayidin Panata Agama Kalifatullah Tanah Jawa. 

Kemudian, di bawah dinding makam tertulis, Pahlawan NasioPangeran Diponegoro, Lahir: 11 November 1785. Wafat: 8 Januari 1855. Sedangkan, pada makam istri beliau tertulis, istri pangeran Diponegoro, R. A. Ratu Ratna Ningsih. Wafat: Tahun 1865.

Lalu banyak kuburan kecil yang ada di sekitar makam yang merupakan makam turunan dari pangeran Diponegoro yang juga dikuburkan di dalam karena menjadi makam keluarga. 

Di dinding, di samping makam pangeran Diponegoro terdapat tulisan kaligrafi yang tidak kumengerti maksudnya apa. Aku hanya duduk di samping makam beliau dengan adik, Ammoz dan mulai berdoa, membaca Al Fatihah.

Ketika selesai membaca doa, aku mengambil botol yang berisi air yang sejak tadi pagi kupersiapkan sebelum ke sini untuk menyiram makam. Tapi, ternyata, di belakang makam ada tempat wudhu yang airnya bisa diambil dan musallah tempat salat.

Semilir angin, dan dinginnya lantai makam membuatku ingin tidur. Aku mengambil hape, berfoto, dan melihat media sosial, WhatsApp. Ais menelpon akan segera tiba. 

Sebelum Ais tiba, aku mengambil wudhu. Aku akan salat duhur dulu. Sementara, Ammoz berbicara dengan juru kunci makam, pak Raden Hamzah Diponegoro. Dia adalah generasi kelima dari pangeran Diponegoro.

Dia mengajak Ammoz duduk bersamanya di suatu ruangan. Di sana, Ammoz mengisi buku tamu dan disuguhi minuman air gelas kemasan yang memang disediakan untuk tamu, peziarah. Di ruangan itu juga terlihat beberapa lukisan pangeran Diponegoro yang terpajang di dinding. Dan lemari, etalase yang berisi buku surah yasin dan Al Quran.

Ketika selesai salat, aku ikut bergabung dengan mereka. Aku mengisi buku tamu, dan minum minuman yang ada di meja setelah dipersilahkan. 

Pak Hamzah bersyukur ada generasi muda yang masih mau berziarah mengunjungi leluhur seperi Ammoz. Dia juga berkata bahwa pengunjung makam ini banyak yang berasal dari luar Sulawesi, yaitu Jawa yang ketika berada di Makassar menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam ini.

Ais tiba-tiba datang. Aku menemaninya berziarah ke makam pangeran Diponegoro dan istrinya. Dia berdoa dan menyiramkan air juga sepertiku.

Kemudian, aku meminta Ammoz mengambil foto kami berdua. Kami pun banyak mengobrol karena selama ini kami hanya melakukan chat di WA. Ais bilang sambil tertawa; kita tidak bisa salaman, cipika-cipiki, saling menyentuh (berpelukan).

Aku bilang iya, gara-gara si Covid-19, kita tidak jadi ke Jogja. Padahal, kami berencana bersilaturahmi ke buya Syafii Maarif. Bukan hanya itu, rencanaku untuk launching bukuku "Imam Lapeo", seorang wali di Mandar, Sulawesi Barat kayaknya batal. Padahal (lagi) Ais yang kuminta menjadi pembedahnya.

Kami mendiskusikan banyak hal; mulai dari sekolah Maarif kami, Ais yang ingin kuliah di luar negeri, aku yang GERD-nya kambuh, ruang diskusi filsafat Ais, sampai...

"Kak, mau ziarah lagi gak? Kita ke makam I Lomo Ri Antang, yuk!" Kata Ais tiba-tiba.

Kami memang suka ziarah. Aku mengiyakan. Kami bergeser. Aku dan Ammoz naik pete-pete jalur 05 di depan makam Pangeran Diponegoro yang disetop Ais. Sedangkan, Ais menyusul dengan motornya. Aku tidak ikut bersamanya, karena tidak membawa helm.