Di sebuah desa kecil di tengah hutan. Jauh dari keramaian. Ada satu keluarga kecil di dalamnya, seorang anak kecil dan ibunya. Mereka bahagia karena hutan itu selalu memberi mereka kecukupan hidup. Jika mereka menanam ubi, maka dengan ajaib ubi itu tumbuh. Bahkan, hutan ini bersedia memberikan mereka buah dan sayur.

Hutan ini seperti mengajari mereka cara menangkap hewan buruan: rusa, babi, burung, atau apa pun itu. Yang terpenting, hewan buruan tidak lebih ganas dibanding rasa lapar mereka. Begitulah kira-kira hutan menyuguhkan kenikmatan kecil agar keluarga ini hidup nyaman.

Selain mengajari keluarga kecil ini jauh dari rasa lapar dan haus, hutan ini mengajari mereka cara bertahan hidup. Ketika hujan datang dan sering membuat basah kuyup, mereka berteduh di bawah pohon rindang. Sampai akhirnya mereka menyusun beberapa batang kayu dan di atasnya ditutupi daun. Mereka menyebutnya rumah. Tempat bermukim ini aman bagi mereka.

Di tempat ini, mereka mulai mengenal banyak hal, dari menggesek-gesek kedua batu sampai keluar api sampai bagaimana melenyapkan api itu dengan air. Mereka mengerti dengan memegang api bahwa ada rasa panas yang hadir. Saat mereka menyentuh air, rasa dingin datang. Dari peristiwa sederhana ini mereka mulai memahami sesuatu.

Pada malam hari, hutan memberi cobaan keluarga. Badan sang ibu tiba-tiba panas sehingga tidak bisa bangun selama beberapa hari. Si anak panik, lalu berharap pada keajaiban air agar demam ibunya hilang, mulai dari diguyurkan, diminumkan, hingga tubuh si ibu direndam di dalam air. Hasilnya nihil. Demam itu tidak lenyap. Akhirnya, si ibu harus pergi selamanya akibat demam. Dukacita pun datang.

***

Cerita di atas bukan dongeng, melainkan warisan kemalangan masyarakat pedalaman kita. Yang dibiarkan hidup dengan diksi “tradisional”. Dari mereka, kita banyak berutang. Kita berutang tragedi, kisah, dan nikmat hidup. Tidak hanya itu, terutama kita berutang kesehatan kepada mereka.

Utang itu bisa kita lihat dari usaha seorang Edwin Chadwich, manusia yang menjadi pelopor kesehatan masyarakat. Ia tidak lupa mencatat ketertarikannya pada kematian yang terjadi di kota-kota besar Inggris pada abad ke-19.

Sebelumnya, ada William Farr yang mewariskan kegiatan mencatat angka kematian ini. Warisan itu tidak lain muncul karena adanya utang kematian dalam sebuah tragedi wabah. Tragedi itu disebut Black Death (pneumonia akibat pes) di Eropa pada tahun 1348, yang menjadi awal mula mengapa kegiatan mencatat kematian.

Akhirnya pada tahun 1920 Winslow, guru besar di Universitas Yale di bidang kesehatan masyarakat, menyatakan masyarakat harus berusaha menanggulangi masalah kesehatannya sendiri. Dari sini, kesadaran mencegah kemudian menyeruak. Di Indonesia, tanggung jawab itu dipegang oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Tidak banyak yang menyorot bagaimana puskesmas hari ini. Di layar kaca yang cuma berukuran inchi, hanya kinerja pelayanan kesehatan di tingkat rumah sakit yang disorot. Kita hanya punya bekal film dokumenter, semisal Suster Apung dan Tiga Mama Tiga Cinta, yang merekam denyut puskesmas kita. Itulah potret puskesmas kita hari ini: bekal seadanya dengan tanggung jawab segudang.

Puskesmas kita hari ini sedang beradu dengan laju perkembangan teknologi medis. Belum lagi, semakin membanjirnya rumah sakit dengan label internasional. Jika benar yang dikatakan Pramoedya Ananta Noer dalam romannya, Bukan Pasar Malam, bahwa kalau mengaku tidak punya uang, engkau akan lumpuh dan hanya boleh menonton sesuatu yang engkau inginkan.

Kita cuma punya satu harapan, kehadiran negara harus ada untuk menyudahi kepopuleran diksi “internasional”.