Sekitar dua hari yang lalu saya menyempatkan diri membaca artikel jurnal yang sempat ramai dibicarakan dunia. Artikel itu berjudul The Hammer and The Dance, ditulis oleh Thomas Poeyo. Ada banyak detail menarik dalam artikel itu, bahkan ia memulainya dengan awal yang sungguh baik—dengan menampilkan data jumlah korban terinfeksi Corona di berbagai negara, khususnya negara-negara maju.

Ia bahkan membuat pembaca bertanya-tanya tentang benarkah Corona/Covid-19 ini hanya menyerang negara-negara maju dengan jumlah korban yang besar yang diikuti tingkat mortalitas yang beragam? Singkatnya, negara-negara yang mendapat serangan besar dari Corona bukanlah negara miskin.

Pengantar itu pada mulanya sempat membuat saya kebingungan. Tapi jika Anda cukup bersabar dengan Poeyo, sebenarnya ia ingin menjelaskan strategi-strategi jitu untuk menangkal sejumlah kemungkinan buruk yang akan terjadi karena Coronavirus.

Sebagai contoh, jumlah korban akan terus bertambah jika kita enggan mengambil tindakan serius untuk menekan laju perkembangan virus corona ini. Peningkatan orang-orang yang terinfeksi, artinya juga adalah peningkatan pada kematiannya. Ini logis, mengingat serangan virus corona telah merenggut banyak korban jiwa sampai hari ini.

Kemudian kemungkinan buruk yang lain ada pada simulasi yang akan saya jelaskan ini:

Jika pasien virus corona terus meningkat secara eksponensial, sementara fasilitas kesehatan yang kita miliki tidak meningkat secepat itu, maka hasilnya adalah runtuhnya sistem kesehatan kita.

Bayangkan jika seluruh rumah sakit-rumah sakit yang kita miliki demikian terfokus untuk menjadi tempat karantina dan pengobatan korban virus corona, kemudian jumlah korban makin meningkat bahkan melampaui kemampuan kapasitas fasilitas kesehatan kita, itu artinya kematian korban akan makin meningkat.

Bolehlah kita mengatakan dengan nada optimis khas para politisi kita, bahwa fasilitas kesehatan kita masih sanggup menampung siapa pun yang terinfeksi virus corona. Tapi apakah kita tidak terpikir pada para penderita kanker atau penderita jantung? Bayangkan bila Anda terkena penyakit jantung dan ambulan baru sampai ke rumah Anda 50 menit setelah serangan jantung. Kira-kira apa hasilnya? Ya, jawabannya sudah jelas; kematian.

Simulasi semacam ini setidaknya menjelaskan kepada kita bahwa ada banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi jika kita abai pada corona. Bahkan kalau Anda ingat-ingat lagi, penyebaran virus corona yang cepat di Indonesia adalah snowball effect dari sikap acuh/sepele dari para politisi kita. 

Saya tidak ingin menuliskan ini sebagai kritik terhadap para politisi itu, tapi apa yang ingin saya sampaikan adalah bahwa ke depan kita harus lebih percaya pada ilmu pengetahuan yang sejak dulu memang sering diremehkan oleh para politisi itu.

Untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan buruk semacam ini, kita hendaknya mengambil tindakan yang sangat mungkin mencegah penyebaran virus corona—bahkan kita berharap agar punya kemampuan untuk memutus mata rantai penyebarannya. Bagaimana?

Kita telah melakukan PSBB meski pada mulanya para politisi itu menolak Lockdown dengan dalih mengejar pertumbuhan ekonomi. Kemudian populerlah opsi-opsi yang seakan-akan logis; mana yang lebih dulu, kesehatan kita atau pertumbuhan ekonomi? 

Lalu para politisi kita berguyon tentang imunitas masyarakat Indonesia dan temparatur udara juga iklim tropisnya. Guyonan itu adalah pengabaian terhadap ilmu pengetahuan dan efeknya telah kita lihat bersama.

Pertanyaannya apakah tidak mungkin bagi kita untuk mengejar pertumbuhan ekonomi sembari menjaga kesehatan masyarakat? Pertanyaan ini mungkin akan sangat sulit dijawab. Tapi bayangkan begini; jika kita memberlakukan PSBB sampai Juni dan kemudian vaksin corona belum juga ditemukan, apakah PSBB akan terus berlanjut?

Jawabannya tentu tidak. Jika kita memperpanjangnya, kita akan mengambil risiko lebih besar dari efek buruk PSBB. Kelaparan di sana-sini, kriminalitas, bahkan gangguan psikologis bagi warga.

PSBB hanya akan memperlambat penyebaran virus corona dan yang akan memutus mata rantai penyebarannya hanya vaksin atau kesembuhan. Jika kita melakukan PSBB selama bertahun-tahun pun dan selama itu pula vaksin tak kunjung ditemukan, maka saat kita membuka pembatasan itu sudah barang tentu laju pertumbuhan korban terinfeksi akan meningkat lagi dan lagi.

Tidak ada yang kebal dengan virus ini kecuali mereka yang berhasil sembuh. Jika kita demikian percaya dengan kemungkinan diri kita bisa sembuh, kenapa kita tidak terpapar lebih dulu, kemudian kita sembuh dan kebal? Jawabannya adalah karena tidak ada kepastian kesembuhan dari virus ini.

Itu artinya kita akan terjebak dalam lingkaran setan dimana PSBB sedang memperlambat laju pertumbuhan infeksi virus dengan efek ekonomi yang tidak bertumbuh, sementara jika kita tidak memberlakukan PSBB, ekonomi mungkin akan bertumbuh tapi juga tumbuhnya tingkat kematian disana-sini.

Apa yang dimaksud Poeyo dengan The Hammer singkatnya adalah upaya kita memalu kurva yang meninggi yang menunjukkan angka penyebaran virus. Salah satunya adalah dengan PSBB yang sedang kita lakukan. Sementara The Dance adalah apa yang akan kita lakukan pasca periode The Hammer.

Dancing yang paling mungkin akan kita lakukan pada periode antara pasca PSBB dan ditemukannya vaksin adalah menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan tetap menjaga jarak. 

Ke depan, dunia kita akan berubah dengan perubahan radikal pada sistem kebudayaan kita. Akan ada periode yang cukup lama di mana kita tidak lagi melihat konser, menonton bola di stadion bahkan kelas yang berisi 40 orang pada sekolah maupun kampus kita.

Mungkin kita belum siap untuk ini semua tapi ini bukan situasi normal.

Bagaimana Kita Seharusnya?

Jika Anda punya cukup waktu untuk membaca (tentu Anda memilikinya di tengah PSBB ini), saya menyarankan Anda untuk membaca pemikiran seorang Israel bernama Yuval Noah Harari yang berjudul The World after Coronavirus. Tulisan itu bisa memberikan Anda imajinasi yang cukup lengkap tentang apa yang bisa kita lakukan secara kolektif di hari-hari kemudian.

Yuval mengingatkan kita tentang pentingnya menyusun rencana global secara cepat namun tetap hati-hati dengan mempertimbangkan jebakan-jebakan yang mungkin melekat pada rencana-rencana itu. Ia telah membuat simulasi yang demikian bagus tentang dua pilihan yang mungkin bisa kita lakukan. Yang pertama pilihan antara pengawasan totaliter dan pemberdayaan sipil. Yang kedua adalah pilihan antara isolasi nasionalis dan solidaritas global.

Apa yang dimaksud Harari dengan pengawasan totaliter adalah menyerahkan otoritas penanganan Corona ini secara penuh kepada para politisi kita. Ia bahkan menuduh Cina telah menghilangkan hak privat warga negara dengan melacak sedemikian banyak orang, apakah ia terinfeksi atau tidak, dengan siapa saja ia telah bersentuhan dan penggunaan berbagai macam bentuk sensor pengenal wajah juga pendeteksi panas demi ketertiban dan pencegahan penularan virus corona. 

Mungkin yang dilakukan Cina telah cukup berhasil menghapus corona, tapi kita tak boleh lupa tentang ada kemungkinan penyebaran corona lagi dan lagi di wilayah dengan kepadatan penduduk semacam itu.

Sekali lagi, vaksin juga belum ditemukan. Sementara efek buruk dari sikap yang diambil negeri tirai bambu itu adalah diretasnya seluruh data kesehatan warga negara bahkan jika kita mendorong imajinasi kita lebih jauh, kemungkinan negara mengontrol pikiran kita melalui beragam sensor yang telah diterapkan, itu sangat besar. Simulasinya kira-kira begini:

Dahulu negara sangat mungkin mengetahui kecenderungan kita melalui permukaan kulit, yakni dengan menyentuh ponsel kita, website mana yang kita buka dan apa yang membuat kita tertarik, barang apa yang kita sukai, jenis wanita macam apa yang kita hasrati dan seterusnya.

Kini negara juga sama sangat mungkinnya mengetahui kecenderungan psikologis kita melalui apa yang ada dibalik kulit dengan teknologi sensor yang sebelumnya telah dilakukan Cina. Bayangkan jika negara dapat dengan mudah mengetahui apa yang membuat Anda marah, benci dan suka. Negara-negara seperti Korea Utara akan dengan sangat mudah melacak warga yang dianggap tidak loyal dan kemudian dieksekusi mati secara sadis.

Jika negara berdalih bahwa kontrol sosial melalui pemanfaatan teknologi secara maksimal itu dikarenakan sebab kedaruratan, maka kita tak boleh melupakan bahwa ada banyak jenis kedaruratan yang telah ditabrak negara. Harari mengatakan bahwa sejak 1948, Israel sebagai contoh, telah lupa mencabut banyak dekrit kedaruratan.

Artinya, negara punya potensi untuk menjadi sedemikian overpower dengan kontrol berlebih kepada warga negaranya. Jika situasi semacam ini dibiarkan bertumbuh dan terus berkembang, ini berarti membiarkan demokrasi kita di ambang keruntuhan.

Itulah kenapa dalam artikel tersebut Yuval Noah Harari kemudian mengajukan pemberdayaan sipil sebagai pilihan yang paling logis ketimbang totalitarian pemerintah. Dalam pemberdayaan sipil, kita dapat melihat pergerakan secara lebih organik dalam kasus mencuci tangan. Kita tak pernah mendengar “polisi pencuci tangan” namun kini kita telah mendapati kesadaran masyarakat yang bergerak ke arah sana.

Dalam pemberdayaan sipil semacam ini, kita bisa berharap lebih pada kesadaran masyarakat untuk terus memantau dan menjaga kesehatannya dan keluarganya. Melampaui itu semua, kerja sama antarwarga untuk saling mengingatkan, seminimal-minimalnya kerja sama antarwarga dan tetangga ini akan membentuk satu lingkaran saling pantau antar-mereka.

Pilihan kedua adalah tentang memilih antara isolasi nasionalis dan solidaritas global. Apa yang dimaksud Harari dengan isolasi nasionalis adalah kondisi di mana kita saling menutup diri atas nama keamanan nasional. Kita mengunci seluruh bandara bahkan seluruh lajur komunikasi antarnegara. Padahal desain kebangsaan kita mengharuskan kita untuk secara bebas dan aktif ikut serta dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Tentu tidak ada perdamaian selama perang melawan corona ini masih berlangsung. Maka kita bisa memilih solidaritas global sebagai suatu upaya kerja sama masyarakat dunia untuk bersama-sama melawan virus corona. Kecenderungan-kecenderungan hegemoni dan kooptasi negara-negara kaya dan adidaya itu harus segera didelegitimasi.

Negara kini tak begitu membutuhkan pinjaman dari luar—sebab yang paling kita butuhkan adalah membangun fasilitas kesehatan kita sendiri, sumber pangan kita sendiri, informasi kesehatan kita sendiri (khususnya terkait penanganan corona virus). Saya akan membuat simulasi untuk opsi ini;

Anda  bisa membayangkan jika PSBB atau bahkan lockdown dilakukan dalam jangka panjang. Kita semua akan bersama-sama membangun persoalan baru yang lebih kompleks. 

Di awal saya telah sebutkan bahwa akan ada krisis ekonomi, kelaparan, meningkatnya kadar stres warga negara, terputusnya pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Corona akan memakan korban lebih besar lagi dalam situasi semacam ini.

Sebaliknya, jika kita mengupayakan solidaritas global dengan prinsip integritas terbuka ala Sr Gerardette Philips, kita bisa memulai dengan semangat kerendahan hati sebagai sesama warga dunia untuk membuka akses informasi, pengetahuan, akses fasilitas kesehatan demi menumpas corona secara bersama-sama.

Anda bisa bayangkan jika sore tadi ada kasus Corona di Italy misalnya, dan kasus itu bisa disembuhkan, kemudian pada malam hari ada kasus serupa di Jakarta, maka Jakarta bisa belajar lebih banyak kepada Italy untuk menyembuhkan pasiennya. 

Kita membuka bandara untuk ilmuwan, politisi dan para filantropi dengan pemeriksaan yang ketat. Dengan begitu, negara-negara yang dikunjungi bisa lebih merasa lega karena mereka tahu bahwa hanya sedikit orang yang diizinkan bepergian antarnegara.

Sampai di sini, saya berharap Anda semua memahami maksud tulisan ini.

Apa Itu Integrasi Nasional?

Saya mengajukan tesis integrasi nasional dengan kadar yang sama seperti wacana rekonsiliasi nasional yang sering kita dengar dari banyak guru bangsa (bahkan belakangan kita dengar dari para politisi pasca pertarungan Pilpres 2019). 

Memulai integrasi dalam situasi tidak normal semacam ini tentu akan jauh lebih mudah ketimbang pada kasus rekonsiliasi pasca pilpres. Kita semua bisa lebih berbesar hati untuk membuka semua data dan lajur informasi dari para ilmuwan. Dan dengan begitu, kita secara bersama-sama tanpa sekat daerah, partai politik, pandangan politik, status pekerjaan, akan mengalahkan wabah ini.

Katakanlah bila DKI Jakarta dan Istana Presiden bisa terintegrasi dengan baik dalam penanganan wabah, kemudian mereka juga membuka akses informasi ke seluruh daerah tanpa gimmick politik, maka tentu akan lebih banyak warga yang lebih percaya dan karenanya tertolong. 

Demikian juga DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, jika mereka dapat secara lebih berbesar hati saling berbagi akses informasi, kolaborasi ilmuwan, kolaborasi dokter, maka Indonesia akan lebih cepat terbebas dari penanganan virus Corona ini.

Prinsipnya tentu dengan menghilangkan sedemikian banyak gimmick politik antar-kepala daerah dan buzzer. Hari ini, warga tidak ingin melihat siapa yang paling berjasa dalam penanganan virus ini. Apa yang ingin dilihat warga adalah kesembuhan total bangsa ini, dari momok menakutkan yang mereka kenal sebagai Corona.