Tak dapat dipungkiri,  akhir - akhir ini kejayaan industri kertas berangsur angsur meninggalkan era keemasannya. Sadar atau tidak,  gencarnya dunia teknologi digital mempengaruhi gaya hidup masyarakat modern saat ini.  Jika kita tarik lurus ke belakang,  sejarah industri kertas kini memasuki babak baru.  Perkembangan kertas tidak lepas dari kebutuhan manusia sebagai penyambung informasi dan budaya di peradaban ini. Sejarah panjang kertas dimulai dari adanya pertukaran informasi di atas batu oleh suku Babylonia pada 3000 SM.  Pentingnya penyampaian informasi dari zaman ke zaman membawa cikal bakal industri kertas perlahan tumbuh dan diperkenalkan oleh Dinasti Han-China di awal abad 202 SM.  Situasi dunia yang sangat dinamis saat itu (peperangan dan politik kekuasaan) membawa kebudayaan industri kertas dikenal di wilayah Barat,  yaitu dengan dibangunnya pabrik kertas komersial pertama di Eropa pada tahun 1588. Siapa sangka,  di awal tahun 1949 merupakan titik awal puncak kejayaan industri kertas,  yaitu dengan ditemukannya teknologi mesin fotokopi oleh Carlson yang melegenda hingga saat ini.  

Memasuki era 90-an dimana teknologi digital mulai diperkenalkan secara luas,  masyarakat modern memang cenderung memilih cara yg cepat, hemat, dan efisien untuk memenuhi hasrat akan pertukaran informasi. Tapi pernahkah kita merenung sejenak bahwa kertas telah menjadi bagian hidup bagi sejarah manusia itu sendiri walaupun arus digitalisasi jelas tak bisa dihindari. Pernahkah terpikir oleh kita jika dunia ini tanpa kertas? Sedangkan sebagian besar kehidupan kelompok manusia masih bergantung pada kehadirannya. 

Kehidupan manusia dan peradaban ini sungguh dinamis.  Bagi kebanyakan orang,  selembar kertas mungkin tidak terlalu terasa perannya mengingat hampir seluruh aspek pertukaran informasi dapat digantikan oleh layar virtual yang dapat mengakomodasi kebutuhan manusia hanya beberapa detik saja. Namun jika kita melihat sejarah panjang ke belakang sebelum adanya dunia digital,  seorang Alexander Graham Bell tentu tidak akan bisa menciptakan penemuan telepon ; Albert Enstein memecahkan rumus fisika kuantumnya ; maupun Alexander Volta menemukan ramuan yang pas untuk menciptakan rangkaian listrik. Sesungguhnya apa yang mereka pelajari berawal dari informasi di lembaran kertas sehingga menciptakan penemuan yang dapat dinikmati oleh generasi sesudahnya. 

Kertas bagaikan nafas sang pejuang kehidupan..... 

Jika kita menarik lingkaran kecil sebagian kelompok masyarakat Indonesia,  terdapat kurang lebih 10% (27,7 jt) dari total 262 jt masyarakat Indonesia yang masih berjuang di bawah garis kemiskinan (BPS,  2017). Profesi mereka pun beragam.  Loper koran,  pedagang makanan,  pedagang buku,  seniman amatir, dan profesi lainnya yang tentu saja tidak bisa lepas dari kehadiran kertas. Bergantinya era menjadi teknologi dan digitalisasi itu pasti adanya.  Namun belum untuk saat ini.  Kita tentu harus sepakat bahwa para pejuang kehidupan ini belum siap akan perubahan tersebut. Sebagai sesama manusia,  sudah tugas kita lah untuk merangkul mereka,  peduli akan kehidupannya hingga mereka siap akan modernisasi seutuhnya. 

Penulis pernah 'tertampar' untuk kesekian kalinya ketika melihat seorang loper koran tua renta yang membawa tumpukan tinggi koran di pundaknya setiap pagi untuk berjibaku,  berdesakan diantara ratusan penumpang kereta namun tetap gigih membawa koran-koran tersebut sampai ke tempat tujuannya untuk dijajakan.  Diantara ratusan penumpang tersebut,  terlihat hanya beberapa orang saja yang tidak sibuk membaca informasi di gadget mereka.  Terpikir oleh penulis,  melihat kegigihan sang kakek penjual koran,  beliau tetap optimis bahwa masih ada sekelompok orang yang 'merindu'  untuk membaca informasi di lembaran korannya.  Itulah salah satu contoh kecil bahwa kertas merupakan penyambung hidup bagi insan-insan yg mengharapkan harapan di tengah kebebasan teknologi saat ini. Bisakah kita mengganti sang kertas di kehidupan mereka? Tentu jawabannya bisa,  namun sekali lagi,  belum untuk saat ini. Tidak salah jika kita terbuka akan teknologi,  namun tetap lihatlah ke bawah.  Bukalah sedikit hati kita untuk tetap bergantung pada mereka,  bergantung pada kertas.  Bukankah kehidupan akan lebih harmoni? 

Kertas dan keterbukaan wawasan akan pentingnya lingkungan... 

Jika kita menyudutkan kertas sebagai pelaku utama kerusakan lingkungan,  tentu kita telah membuat paradigma yang kurang tepat.
Fakta penggunaan kertas di dunia saat ini telah menghabiskan 1732 hektar hutan/jam dan 3 liter air untuk menghasilkan 3 helai kertas tentu tidak bisa kita bantah. Namun pernahkah terpikir bahwa manusia adalah penyelamat bumi melalui tindakan dan inovasi mereka? Secara tidak sadar,  teknologi untuk mendaur ulang kertas dan menggunakannya untuk memproduksi kertas kembali adalah hal yang dapat manusia lakukan sebagai tanggung jawab kepada bumi. Jika bukan kertas,  bergantung pada plastik misalnya,  tentu keadaan bumi akan lebih mengkhawatirkan lagi mengingat plastik tidak bisa didaur ulang.  Menggunakan kertas yg seperlunya tentu tidak akan berdampak langsung pada bumi. Pernahkah terpikir oleh kita untuk lebih fokus pada tindakan-tindakan kecil yang konkret dibandingkan sekedar menuduh kertas adalah perusak lingkungan? Menghemat pemakaian listrik,  membuang sampah di tempatnya,  serta menghemat bahan bakar kendaraan adalah langkah sederhana nyata yg dampak positif bagi lingkungan pasti akan terasa lebih cepat. Tentu tidak dengan kita enggan untuk menggunakan kertas,  mematikan roda perekonomian saudara kita padahal kita belum tentu telah melakukan hal-hal kecil yang lebih nyata. 

Mari kawan kita renungkan,  bisa jadi kita harus berterimakasih pada kertas karena tanpa kehadirannya,  peradaban manusia tentu tidak akan sampai pada tahap ini. Dan karena kertas jugalah seorang manusia dapat menjadi manusia seutuhnya karena telah peduli dengan lingkungan, bumi  dan orang lain.