Penulis
1 tahun lalu · 1405 view · 3 menit baca · Filsafat 48597_47603.jpg
Ilustrasi: Geotimes.com

Bertuhan tanpa Agama, Mungkinkah?

Kita boleh jadi sepakat bahwa agama dapat memberi jalan kedamaian bagi penganutnya, jalan yang telah dikehendaki oleh Tuhan dan prinsip yang dapat memberi arti penting nilai dalam menjalani kehidupan. Tapi, tak jarang agama juga dapat menjadi faktor utama dalam fenomena kerusakan sosial bahkan peperangan atas nama kebenaran agama.

Benturan antaragama dapat memberikan dampak pahit bagi keberlangsungan hidup, karena kebenaran tidaklah tunggal. Seseorang dapat berdebat mati-matian untuk mempertahankan kebenaran agamanya, hingga sampai menimbulkan konflik, tetapi kebenaran dalam konteks agama bukanlah wilayah yang seharusnya diperdebatkan.

Agama itu soal iman. Hanya imanlah yang dapat menjustifikasi kebenaran agama, bukan kebenaran dalam dirinya sendiri. Itulah kenapa, betapapun kita bersikeras untuk memastikan kebenaran agama yang diyakini kepada orang lain, seseorang tersebut tidak akan pernah mengakui kebenaran yang kita yakini sampai ia benar-benar beriman.

Sudah ada ribuan peristiwa yang dapat disaksikan bahwa betapa agama tidak melulu dapat memberi kedamaian bagi penganutnya. Agama juga dapat dijadikan senjata paling mematikan untuk menolak dan membunuh agama-agama lain yang dianggap sangat tidak sesuai dengan doktrin yang diyakini.

Jika agama juga dapat menimbulkan kerusahan atas dasar sikap konservatisme yang berlebih-lebihan, entah karena kepentingan agama itu sendiri, atau digunakan untuk kepentingan lain, lalu kita dapat bertanya, bukankah agama memiliki fungsi ganda, yakni memberikan jalan kebaikan sekaligus jalan kerusakan? Betapa dua hal ini saling bercampur satu sama lain.

Untuk siapa sebenarnya agama itu? Apakah Tuhan butuh agama? Atau manusia?

Jika agama ditarik fungsinya kepada Tuhan, maka jelas Tuhan tidak butuh agama. Tetapi, benarkah manusia butuh agama? Jika ada banyak jalan, bahkan tanpa agama pun seseorang dapat sampai kepada Tuhan.

Agama tampaknya memiliki porsi yang paling besar dalam menata dan mengelola setiap aspek kehidupan kita. Itulah kenapa porsi besar itu banyak menjadi jebakan sehingga banyak penganut agama saling memperkuat imannya dengan menyudutkan iman-iman yang lain atas motif agama.

Motif kebenaran tunggal yang bahkan selama seluruh hidupnya, seseorang belum tentu dapat memastikan kebenaran agama yang ia yakini. Apalagi, cara beragama kita sudah sangat jauh berbeda dengan orang-orang dahulu.

Jika orang-orang dahulu banyak menghayati agama dengan dibumbuhi seperangkat mitos-mitos yang berkembang di lingkungannya, sekarang ini, mitos telah dianggap sebagai tak lebih dari lelucon masa lalu yang tidak berdasar. Mitos bukanlah sesuatu yang berbahaya bagi agama, betapapun saat ini ia dianggap sebagai sebuah bentuk kebenaran yang paling rendah dan cenderung tidak diakui.

Namun, masyarakat kita saat ini sudah sangat rasional, ada hal-hal lain yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar mitos masa lalu, yakni agama yang dianggap sebagai alat untuk sampai pada tujuan. Jika agama adalah alat, maka ia dapat digunakan untuk hal apa pun yang dapat menguntungkan bagi penganutnya atau bagi yang memiliki kepentingan tertentu atas agama yang ia gunakan.

Alat itu sudah sedemikian rupa digunakan hingga ia dianggap sebagai kebenaran. Padahal alat tetaplah alat. Ia hanya instrumen untuk sampai pada tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Jika tujuannya adalah Tuhan atau kebenaran tertinggi, ketika telah sampai, maka seketika itu juga agama dapat ditinggalkan.

Begitulah cerminan orang-orang yang masuk surga di kemudian hari. Ia tak butuh lagi agama, karena surga seperti mata air yang membersihkan seluruh keyakinan kita saat masih di dunia ini. Agama lalu menjadi sesuatu yang tidak dibutuhkan lagi. Tetapi, ini baru khayalan, imajinasi suci yang berangkat dari agama.

Dan, sayangnya, kita masih terjebak di dunia ini, dunia di mana kebenaran dan kesalahan telah sedemikian campur aduk, dalam realitas apa adanya yang kita alami saat ini. Realitas yang dibumbuhi oleh berbagai hal yang kemudian ia berhenti menjadi realitas dan berubah menjadi sesuatu yang diinginkan oleh agama melalui penganut-penganutnya.

Benarkah kita butuh agama? Bukankah tujuan kita adalah Tuhan? Setiap tujuan pasti membutuhkan jalan.

Benarkah agama satu-satunya jalan untuk sampai pada dimensi ketuhanan? Paling tidak, agama adalah alat. Ia sama seperti alat-alat yang lain untuk mencapai tangga kebenaran. Bukan kebenaran yang universal, tetapi kebenaran yang kita yakini.

Agama hanyalah soal iman. Ia tidak akan pernah menjadi universal hanya karena ada jutaan penganut. Ada banyak agama, ada banyak iman, itu artinya ada banyak kebenaran yang bergentayangan di setiap keimanan seseorang.

Dengan begitu, ada banyak kebenaran yang tidak akan pernah menjadi kebenaran tunggal hanya karena iman kita yang begitu sempit. Logika tentang adanya ketunggalan kebenaran menjadi runtuh karena logika iman tidak akan pernah membenarkan tentang kebenaran dalam dirinya sendiri. Bukankah iman saja sudah cukup tanpa harus diembel-embeli agama yang begitu rigit dan muluk-muluk?

Agama, jika kita telah memasukinya, akan sebegitu menjebak dalam doktrin normatif yang selalu saja ada norma-norma lain yang disalahkan, dihakimi, dan diklaim sebagai sesuatu yang tidak benar. Padahal, ini bertentangan dengan sudut pandang iman yang selalu menuju pada Tuhan di mana agama mengacaukan tujuan itu dengan memberangus sudut pandang iman lain yang dianggap berbahaya dan tidak layak hidup.