Di atas bis ber-AC, aku berteriak, "Yes!" 

Akhirnya aku berangkat malam ini ke Mamuju. Namun tujuan akhirku bukan ke ibu kota Provinsi Sulawesi Barat ini, tapi di suatu desa kabupaten. 

Bis berangkat jam delapan malam dari Makassar. Dan diperkirakan tiba di desa atau kampung itu sekitar siang hari. Perjalanan yang panjang, namun aku yakin akan amat seru dengan berbagai petualangan.

Aku akan tinggal di sebuah desa yang agak terpencil. Ada saudara jauh ibuku yang sudah menungguku disana. Kemarin dia datang setelah memborong pakaian di pasar Butung, Makassar. Pakaian-pakaian itu akan dijualnya kembali di desanya. 

Dia mengajakku untuk liburan di kampungnya setelah kuutarakan, aku jenuh dengan ritme kerja yang padat. Aku pun segera mengajukan cuti di kantor setelah semua pekerjaan kuselesaikan. 

Ibuku setuju saja, aku meninggalkannya selama kurang lebih seminggu. Ada mbak Munah tetangga kami yang sering membantu pekerjaan rumah tangga yang akan menemaninya. 

Di atas bis, aku akan tidur selama perjalanan. Aku sudah memasang status di WhatsApp  dengan huruf besar, MENGHILANG DARIMU! dan ingin mematikan Smart phone yang selama ini memburu hidupku.

Tiba-tiba chat masuk, Sarah. "Sayang, jadikah ke Mamuju?" dengan emotikon sedih.  

Dia sudah kubilangi berkali-kali, aku akan ke Mamuju. Namun, masih saja dia bertanya begini. Sarah salah satu alasan aku ingin pergi dari hidupku dari  Makassar. Tepatnya, lari dari hidupku untuk sementara. Aku bosan, aku jenuh. 

Aku bosan terlalu diperhatikan. Aku jenuh terlalu disayang. Walaupun, aku juga sangat mencintainya, aku ingin menghilang sementara darinya.

Kampung itu

Udara pagi yang segar, tanpa polusi kendaraan yang berarti. Cuma ada asap yang mengepul di dapur, tanda kayu dibakar sebagai bahan bakar masak. Namun, asap itu hilang diantara pohon-pohon pisang di belakang rumah.

"Ari, sini nak, minum kopi dulu," teriak tante dari dalam yang rumah. 

"Iya, tan!" jawabku. Lalu segera masuk kedalam.

Ada dua gelas besar kopi besar terhidang di meja. Dan sepiring besar pisang goreng juga dua piring kecil gula merah yang sudah diiris tipis sebagai teman makan pisang goreng.

Aku jadi ingat Sarah, dia suka sekali membeli banana Cok. Merek pisang goreng yang dilumuri coklat yang dibelinya via online. Sarah terus membayangiku.

"Kopinya pahit ya, Nak? Makanya pisang goreng dan gula merahnya juga dimakan biar ada manis-manisnya." kata Om, suami tante sambil tertawa meniru sebuah iklan di TV. 

"Iya, om. Jadi manis." Aku ikut tertawa. Televisi memang jadi sarana hiburan kampung dibalik gunung ini. Sinyal hape jadul saja susah. Apalagi mau bermedia sosial ria, tidak berlaku disini. Keinginanku untuk berpuasa medsos pun terkabul. Aku jadi wong desa, bukan laki-laki kota lagi. 

Hari ini, aku punya jadwal akan mengantar tante jualan di pasar desa. Setelah itu motor giginya bisa kupinjam. Om sejak tadi setelah minum kopi sudah pergi ke kebun dengan motor tuanya.

Di pasar

Tiga kata untuk gadis itu: cerdas, cantik, dan ceria. Dia tersenyum ketika pertama kali melihatku. Senyumnya begitu alami, polos, dan tulus. Dia masih begitu muda.

Di samping kios pakaian tante, dia berjualan. Dia Fati, Fatimah. Gadis yang baru lulus SMU. Dia membantu ibunya jualan pakaian juga karena ingin mengumpulkan uang untuk kuliah di jurusan desainer. Gadis yang mengerti passionnya.

Tante mengenalkannya, dan merekomendasikanku sebagai orang pertama yang akan Fati temui di Makassar. Seketika saja aku merasa sebagai pahlawan bagi Fati yang imut itu. 

Tiada hari tanpa Fati

Dulu semboyanku, tiada hari tanpa Hapeku. Kini hidupku tiada hari tanpa Fati. Bagaimana tidak? di pagi hari, ketika di pasar aku lebih suka nongkrong di kios Fati. Di sore hari, aku jalan berdua dengan Fati, mengendarai motor beatnya, mengelilingi kampung. 

Kami juga menyusuri perkebunan coklatnya sambil makan biji-biji coklat yang asam manis itu. kemudian mandi di sungai yang tidak jauh dari sana. Sungai itu airnya masih jernih.

Pernah, kami mencuri waktu naik ke gunung. Padahal, hari sudah sore, dan pulang di malam hari. Walaupun, baru jam sembilan malam, tante menegurku karena tidak enak sama keluarga Fati. Katanya, nanti aku dikira berbuat macam-macam sama Fati.

Namun, orang tua Fati menurutku, suka dan percaya padaku. Fati pun seru-seru saja menjadi guideku. Fati, bagaikan dewi yang diturunkan dari langit. Dia membuatku lupa pada rutinitas kerja yang penuh deadline, terganti dengan hidup yang enjoy tanpa beban berarti. Dia juga membuat menikmati makan siangku, bukan makan siang yang buru-buru atau harus ikut makan siang dengan klien ketika bekerja.

Fati juga membuatku lupa dengan Sarah yang selalu menjadi tempat curhatku. Sarah yang selalu ada untukku di setiap saatnya. Di kantor, rumah, dan media sosialku, Sarah pasti hadir. Sampai mau tidur pun, biasanya, aku melakukan video call dengan Sarah. Kini, ritual itu hilang.

Di malam hari, tidurku nyenyak karena asyik dan capek seharian bermain dengan Fati di alam yang alami dan luas. Bermain? Ya, aku merasakan gairah muda dengannya. 

Besok, aku dan Fati sudah janjian ke hutan di balik gunung. Masyarakat menyebutnya hutan karena di sana ada makam tua para leluhur kampung ini. Kata Fati, jalanan menuju kesana penuh pohon kelapa yang jarang dilalui penduduk yang menghubungkan dengan desa disebelahnya. Aku membayangkannya sampai aku pun tertidur untuk segera bangun besok subuh.

Di hutan

"Fat, jangan cepat-cepat jalannya," teriakku melihat Fati berjalan dengan sangat cepat. Badannya yang ramping, kakinya yang panjang membuatnya sangat mudah melewati setapak.

"Ayo, kak, keburu malam nanti," katanya tersenyum tanpa beban. Walau ini baru jam setengah empat sore, seperti jam enam saja sebab rimbunnya pepohonan di jalan menuju makam.

Ingin kucubit anak itu. Aku sudah ngos-ngosan. Aku sudah capek sekali berjalan. Setelah tadi naik motor sejam. Kemudian kami berjalan kaki hampir satu kilo meter karena kendaraan tidak bisa masuk. Kami baru bisa sampai di makam kuno itu.

Setelah mengirimkan doa pada leluhur. Aku memulai lagi aksiku. Aku suka sekali menjadi fotografer, aku menyuruh Fati bergaya bak model diantara makam-makam itu. Seperti kemarin-kemarin, Fati menjadi model di rumahnya, kemudian di pasar, kebun, sungai,  gunung, dan sekarang di makam.

Fati terlihat lebih cantik baju berwarna merah mudanya dipadu dengan jins hitamnya sangat kontras dengan nuansa makam yang dingin dan gelap.

"1,2,3!" kataku memberi aba-aba. Aku semakin menikmati kebersamaanku dengan Fati. Fati pun asyik tersenyum dan terus tertawa bahagia. Kami larut dalam suasana. 

Tempat yang sepi, angin yang semilir, dan dingin membuatku ingin memeluk erat seseorang, Fati. Ingin segera kutangkap Fati dalam pelukanku. Aku meraih tangannya. Dan kudekap sangat erat. Fati diam tanpa melawan.

"Apa yang kamu lakukan anak muda?" teriak suara seperti suara kakek yang tua serak dan berat.

Aku bangun dari pembaringanku, Fati pun begitu. Kami berpandangan mencari asal suara yang ternyata di samping kami. Seorang kakek berpakaian putih dan memakai tongkat hitam duduk diatas batu nisan kuno. 

"Ini wilayahku, jangan macam-macam disini." katanya dingin, penuh marah.

Bulu kudukku berdiri, kakek ini bukan manusia, dia leluhur makam ini. Aku segera menarik tangan Fati dan berlari.