Matahari memoncer redup saat waktu menjelang surup. Nampak cahaya semakin rapuh, merambat perlahan lenyap ke dalam peraduan. Siulan angin terdengar beriringan dengan burung yang sedang berasak-asakan menuju sangkar.

Terbesit makna bahwa bumi sedang berkutat dengan ketaksaan. Sehingga, kembali pulang menjadi opsi agar dapat beristirahat serta mendapat perlindungan.

Risau dan gundah tak perlu disematkan pada senja. Senja itu setia. Dia tak perlu berjanji untuk kembali. Dia hanya butuh waktu menepati. Karena dia tahu, meninggalkan bukan berarti mengusaikan segala harapan. Tapi meninggalkan hanya untuk menguji sebuah kesetiaan, serta membulatkan tekad perjuangan.

Meskipun sempat berpamitan kepada hiruk-pikuk alam semesta, kepergian surya masih tetap menagih arti. Lantaran berjabah harapan belum terkabulkan bahkan cenderung terabaikan—sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Entah berakhir kapan, namun pergerakan akan terus dihadirkan.

Seduhan secangkir kopi kothok ini tinggal seteguk. Ternyata sudah hampir satu jam aku termenung. Seperti terhipnosis oleh rona jingga kala senja yang amat memukau. Maklum saja, kala pandemi ini banyak orang memiliki waktu lebih untuk melamun dan tertegun. 

Ketika memiliki waktu luang, memang tepat jika digunakan untuk merefleksikan dan bermusahabah—baik sekadar merancang sebuah gapaian cita-cita atau justru bergulat dengan problematika masalalu. Atau alasan terakhir ini populer disebut dengan bernostalgia.

Nostalgia sering dikontruksikan sebagai absurditas perasaan atau harapan perihal kembalinya momen masa lalu yang ideal. Tentu kebaradannya kerap hadir dalam ingatan seseorang. Melalui media imajinasi dan fantasi untuk kemudian berkolaborasi dengan realitas yang ada. Padahal, kejadian yang sudah dialami dengan segala perlibatan perasaan akan berlalu begitu saja. Mustahil akan kembali dengan pengalaman batin serupa.

Selaras dengan ajaran filsuf asal Austria, Sigmun Freud. Dalam sebuah teori psikoanalisisnya, nostalgia dianggap tidak hanya sebagai kerinduan terhadap masa lalu, tetapi kerinduan untuk masa yang benar-benar tidak pernah ada.

Kelewat radikal sekali pernyataan beliau, hingga kebaradaan masa lalu disebut tidak pernah terjadi. Serta mewasiatkan agar tidak terjerumus dalam lembah dunia masa lampau yang fana dan penuh tipu daya.

Sangkalan tentu menyeruak memenuhi isi pikiranku. Bukankah mengingat kebahagiaan atau bahkan kejayaan yang sudah berlalu dapat menjadi penenang sekaligus penyemangat. Tidak dipungkiri kebaradaannya juga mampu menjadi pedoman untuk melakukan tindakan yang lebih tepat dan baik dari sebelumnya.

Kutinggalkan pemikiran filosofis itu. Sembari menyeruput kopi yang kian asat, aku disodorkan berita dari berbagai tema dengan tingkat mutu berkualitas, mulai dari fenomena alam sampai fenomena politik.

Melihat kejadian bencana alam memang sewaktu-waktu dapat terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Yang sering luput dari sorotan adalah bahwa manusia menjadi tersangka utama atas kerusakan ekosistem alam. Dengan segala kemampuan adaptasi yang dimiliki oleh alam—sampai tidak mampu membendung bencana akibat ulah kebengisan manusia tersebut.

Tanpa upaya melestarikan, justru manusia lebih berorientasi pada keuntungan semata. Sehingga banyak sekali tuduhan terhadap fenomena alam—menjadi kambing hitam atas segala kerugian fisik maupun non-fisik yang menimpa manusia. Betapa aneh bin ajaib makhluk yang disebut manusia itu.

Pantas saja jika Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Betapa bodohnya manusia, Dia meghancurkan masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan, tapi menangis di masa depan dengan mengingat masa lalunya.”

Beralih ke berita seputar politik. Memang tidak dapat disangkal bahwa politik merupakan tema yang digemari oleh berbagai kalangan, meskipun terkadang orang menghindar dan lebih memilih tidak terlibat di dalamnya.

Kasus yang sedang hangat adalah seputar tindakan korupsi dan kebebasan berpendapat yang dimiliki masyarakat. Walaupun, keduanya sudah berulang kali menjadi pembahasan di ruang rapat mewah hingga ke pelosok gubuk mepet sawah. Sulit untuk dapat mencari solusi tanpa ilusi di tengah arus globalisasi. Apabila masyarakat masih bersikap diskriminatif yang justru cenderung mengakar dan dianggap benar.

Sikap maklum hanya menyasar kepada kaum berkuasa, namun sikap tidak pandang bulu diterapkan secara ketat di kalangan masyarakat alit. Hukuman dapat dengan mudah dihilangkan dan keadilan semata-mata hanya jargon bagi kepentingan golongan tertentu.

Hal semacam ini yang membuat aku merasa sedikit skeptis dengan keyakinan yang aku miliki. Bahwa keadilan merupakan milik universal, tidak ada perbedaan dalam memperjuangkannya. Keadilan bukan diperoleh dari tingkat kekayaan atau ikatan kekerabatan belaka. Tapi mendapat keadilan adalah hak prerogatif yang dimiliki masing-masing individu.

Dalam kebimbangan yang menyita pikiran ini tidak bisa tidak, aku teringat akan salah satu percakapan dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, “Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, kalau benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.”

Malam semakin larut, banyak jiwa bermunajat penuh harap agar keberuntungan menghampiri di hari esok. Terbetik desis udara dan dingin menghujam pori-pori kulit, semakin membius agar segera beranjak tidur. Terpejam mendengkur di tengah heningnya malam musim penghujan.