Senang saya mendengar alunan lagu-lagu gubahan trio Emerson, Lake and Palmer, ELP, baik yang berlirik syair maupun instrumental.

Karena saya termasuk kriteria generasi lawas, maka lagu-lagu saya ya yang lawas-lawas.



…mewakili jiwa yang menyemburat keluar dari kemapanan yang menjenuhkan…

Trio yang Merajai Era Progressive Rock 

Sangat populer menghasilkan karya-karya musik aliran Progressive Rock pada tahun 1970-an, mereka bertiga, Keith Emerson si perangkai melodi-melodi organ dan synthesizer, Greg Lake si pencabik bass, penyanyat gitar dan pengalun syahdu lirik syair lagu, serta Carl Palmer si penggebuk drum, pemukul gong dan pengetuk perkusi, telah didaulat sebagai pelopor karya musik unik, yang memadukan komposisi partisi-partisi klasik yang patuh akan tangga nada dan tempo irama, dengan pemberontakan jiwa anti kemapanan dalam bingkai rock 'n roll, sebagai warna musik dambaan generasi bunga tahun 1960-1970an.

Hasilnya? Karya-karya musik dan lagu yang menghentak dinamis mewakili jiwa yang menyemburat keluar dari kemapanan yang menjenuhkan, sekaligus menjaga agar sekumpulan jiwa yang terbebaskan tetap terjaga dalam suatu tatanan, agar tak sekedar menjadi jiwa-jiwa tercerai berai.

Jadinya? Adalah sekumpulan musik dan lagu yang berlama-lama, panjang, mematuhi partitur klasik sambil tetap gahar menyuarakan terbebasnya jiwa belia.

Tarkus, Karn Evil, Trilogy, Picture at Exhibition, Fanfare for The Common Man dan Pirates, adalah sedikit contoh gubahan ELP yang menyajikan karya-karya panjang tertata dalam banyak bagian, bahkan sub-sub bagian yang membuat sebuah lagu berdurasi hingga lebih 20-an menit.

Jelas, hanya pria generasi lawas kayak saya, yang mampu tekun dan telaten menyimak lagu-lagu dengan syair dan melodi nada yang mengalun berlama-lama. Menjadi tantangan tersendiri untuk mengenalkan suasana semarak musik kontemporer, beberapa puluh tahun lalu, kepada generasi sekarang ini.

Betapa dulu, kisaran tiga hingga lima puluhan tahun lalu, dunia berhias alunan musik yang sebenar-benarnya berasal dari permainan alat musik, bukan hasil gabungan melodi hasil racikan perangkat elektronik.

Salah satu sampul album yang berisikan musik dan lagu karya-karya ELP, Trilogy, rilis tahun 1972. Foto sumber; koleksi pribadi.

Toccata dan Fugue karya komponis klasik Johann Sebastian Bach yang hidup dan berkarya pada kisaran abad ke-18, sangat memengaruhi warna alunan musik ELP. Itu pun masih diinovasi dengan sentuhan sedikit melodi-melodi jazz klasik.

Sementara Still You Turn Me On, Take a Pebble, Lucky man, Ces't La Vie dan Jerusalem, adalah beberapa karya pendek, berupa lagu-lagu nan syahdu, penghias banyak renungan beriring tetapnya waktu.



...tiada satu pun seniman di dalam bumi? Jelas, kering dan membosankan. 

Keberadaan Seni Membuat Bumi Lebih Nyaman Ditinggali

Pirates, satu karya ELP favorit saya. Berkisah tentang seorang bajak laut kharismatik, tiada pernah bosan menebar harapan bagi banyak anak buahnya, sekaligus ceroboh hingga kapal kesayangannya terbakar, tenggelam tertelan ombak lautan.

Namun, si kapten bajak laut paruh baya ini tak kenal patah arang dalam hidupnya. Tetap dia mengajak pengikut setianya, meyakini bahwa kemuliaan bakal terenggut kembali, hingga ajal menjemput mereka.

Pirates menjadi buah karya yang unik sepanjang karier ketiga awak ELP. Karena, Lake sang pelantun syair, terinspirasi oleh sosok bajak laut berperangai membahagiakan setelah menikmati wahana Pirates of the Caribbean di Disneyland.

Pirates, bagi awak ELP tak hanya sebuah masterpiece. Namun juga, mewakili suasana hati dan harapan para seniman, termasuk musisi, yang selalu berusaha menumbuhkan harapan, serta menebar kebahagiaan dalam bingkai karya-karya seni.

Apa jadinya apabila tiada satu pun seniman di dalam bumi? Jelas, kering dan membosankan. Bumi sama sekali bukan menjadi tempat nyaman untuk berbagi inspirasi.

"…i will take you and make you, everything you've ever dreamed..." Demikian sang Pirates, sosok seniman yang terperangkap dalam raga seorang kapten bajak laut, tengah mengujar janji.

Emerson, Lake and Palmer, mereka adalah suvenir dalam ribuan tahun perjalanan sejarah musik dan seni.

Potret koleksi album-album kaset dan CD ELP milik Penulis, yang tersisa. Sebagian hilang atau berpindah tangan, karena terbawa-bawa sebagai teman mengiringi suasana keluar dari kebosanan dalam banyak perjalanan. Sepuluh, dua puluhan tahun lalu, Penulis memang sama sekali tak menyangka perkembangan internet yang membuahkan kanal Youtube dan teknologi informasi yang menghasilkan aplikasi semacam Spotify.



…memelopori banyak corak irama musik kontemporer yang masih terdengar relevan hingga sekarang.

Budaya Musik Kontemporer Berawal dari Invasi Britania

Patut diakui empat anak muda asal Liverpool Inggris telah berhasil menggurat tinta emas dalam sejarah perjalanan tata musik kontemporer pasca, Perang Dunia.

The Beatles, sebuah grup band fenomenal tempat keempat anak muda itu, John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, Ringo Starr,  menghabiskan masa-masa muda, mengunggah karya-karya. Berempat mereka mengumbar imajinasi, lalu menuangkannya sebagai nota-nota tangga nada dan syair lirik menjadi lagu-lagu yang telah masuk kategori klasik, pantas didengar hingga kini.

Gairah musik kontemporer yang mendunia sepanjang pertengahan tahun 1960-an hingga kini, sedikit banyak terpengaruh oleh tata melodi dan lirik lagu-lagu The Beatles. Banyak tata irama musik kontemporer seperti pop, rock, hingga psychedelic yang asal muasal aliran Progressive Rock, terpengaruh oleh gaya berirama awak The Beatles.

Bahkan, pembetot bass bertangan kidal Paul McCartney, telah diakui menjadi sosok paling berpengaruh terhadap banyak musisi dunia, para pencabik bass grup-grup band beraliran Progressive Rock hingga Heavy Metal dan Trash Metal.

Jelas, The Beatles grup band yang asal Inggris telah berhasil memberi warna baru bagi dunia dalam hal  memelopori banyak corak irama musik kontemporer yang masih terdengar relevan hingga sekarang.

Dunia pun dilanda demam The Beatles pada pertengahan tahun 1960-an hingga 1970-an. Bahkan, generasi muda Amerika Serikat pun sempat terlanda serangan pengaruh musik kontemporer pada masa itu, yang dikenal sebagai Invasi Britania, British Invasion.

Foto ikonik anggota The Beatles tengah menyebrang di sebuah jalan di kota London. Foto ini memberi nuansa betapa grup band asal Liverpool ini mampu memengaruhi tatanan budaya lama dunia, untuk menyebrang menuju ruang budaya baru, yakni merubah cara berpikir yang diperkaya oleh alunan musik kontemporer. Foto sumber; Reuter.

Termasuk aliran Progressive Rock yang bertumbuh kembang pesat di Inggris pada awal tahun 1970 pun memengaruhi gaya bermusik musisi muda Amerika Serikat hingga terdapat sebuah grup musik yang mengakomodasi irama, nada melodi dan partitur Progressive Rock, meski masih tergolong ramah telinga, easy listening, yakni Kansas, dengan tembangnya yang terkenal, Dust in The Wind.

Semenjak dunia, tak hanya Amerika Serikat dilanda Invasi Britania, sejak itu pula hampir semua lagu yang mendunia, tampil dengan corak musik yang terpapar pengaruh The Beatles, apa pun alirannya. Selain itu, tentunya, menggunakan bahasa Inggris sebagai lirik syair lagunya.

Musik pun memasuki babak baru sebagai komoditi hasil industri, seiring dengan perkembangan teknologi rekaman dalam pita penghasil suara yang mampu melipatgandakan sebuah rekaman lagu, pun kumpulan lagu dalam sebuah album, ke dalam banyak paket-paket pita penghasil suara lainnya, dalam bentuk kaset-kaset. 

Sejak akhir tahun 1960-an pula, dominasi cakram piringan hitam dan pemutarnya sebagai penghasil suara-suara merdu lantunan rekaman lagu-lagu, menurun tergantikan oleh pita suara dalam sebuah kaset, beserta pemutarnya yang disebut Tape Player.

Metode pemasaran produksi hasil dari dapur rekaman para penyanyi, musisi pun grup musik pun memasuki babak baru, demi menyongsong era industri rekaman musik yang menggiurkan, tumbuh pesat dan menguntungkan, saat itu.



…yang berarti si pembeli, yang berarti si penggemar, telah menyumbang royalti.

Sedikit Kisah Industri Rekaman di Indonesia

Bahkan, tak hanya produk-produk rekaman dari produsen yang memiliki label resmi, namun juga label-label tak resmi yang menghasilkan produk-produk rekaman illegal, sebagai kaset bajakan, meski berkualitas sangat baik.

Indonesia pernah mengalami masa keemasan produksi kaset bajakan, sebelum Bob Geldof, menyuarakan protes tentang tumbuh maraknya industri kaset bajakan di Indonesia, pada tahun 1985, pas seru-serunya berlangsung konser amal dari banyak musisi dunia, Live Aid.

Sejak protes keras oleh musisi asal Irlandia itu, pelan namun pasti Indonesia memperbaiki sistem industri rekaman musik, dengan cara legal. Pada kisaran tengah tahun 1988, semua produksi kaset bajakan yang beredar, yang berkisar harganya antara Rp. 1.250,- hingga Rp. 2.500,- saat itu, dicabut dari peredaran dan dilarang untuk diperdagangkan.

Lambat laun masyarakat pun mulai mengenal bagaimana penampilan suatu produk rekaman oleh industri rekaman itu terkemas dengan tampilan yang profesional.

Terdapat keterangan lengkap, dalam kemasan produksi kaset, yang tak hanya profil pelantun lagu, musisi, awak band, alat-alat musik digunakan, studio dapur rekaman, siapa saja yang mencipta lagu dan menata musik, serta alamat surat menyurat penggemar. 

Juga, tulisan kata pengantar menyambut penggemar yang telah membeli produk kaset rekaman hasil karya musisi, yang berarti si pembeli, yang berarti si penggemar, telah menyumbang royalti.

Hingga, terdapat keterangan nama orang yang berperan sebagai Produser, Producer, yang bertanggung jawab atas kualitas hasil rekaman, serta siapa yang menjadi Produser Eksekutif, Executive Producer, yang memiliki ranah tanggung jawab untuk produk rekaman tersebut laku.

Adapun untuk industri rekaman di Indonesia, sering kali produk rekaman tanpa pencantuman Produser Eksekutif. Produk rekaman bisa sangat bagus, karena ada seorang Produser yang bertanggung jawab selama proses olah dapur rekaman. Namun, bagaimana karya-karya musik sebagai produk rekaman bisa sukses di pasaran, terindikasi bukan menjadi pertimbangan.

Apakah karena itu, produk rekaman karya-karya musisi Indonesia selama masa-masa industri rekaman legal di tanah air, hingga kini, belum mampu menembus blantika pasar musik dunia? Karena jarang ada, bahkan tidak ada penanggung jawab akan suksesnya rekaman sebagai produk yang laku terjual, yakni Produser Eksekutif.



…karya rekaman musik dan lagu yang mendunia, maka bahasa Inggris masih menjadi lirik pilihan sebagai ungkapan.

Buah Keteguhan Sebagai Penakluk Dunia

Patut diakui pula, betapa musik kontemporer yang diusung oleh musisi-musisi Inggris selama periode Invasi Britania, adalah karena bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, sebagai penyangganya. Menjadi catatan sejarah tersendiri, bagaimana proses selama berabad-abad bahasa Inggris bisa mendunia.

Juga, ada fenomena menarik, tentang bagaimana karya-karya musik musisi-musisi dari negara mantan musuh bebuyutan Inggris selama dua perang dunia, yakni Jerman, tak tampil segemilang karya-karya musisi Inggris dan tentunya, dengan Amerika Serikat.

Produk-produk musik kontemporer karya musisi-musisi Jerman, cenderung tertutup oleh pasar. Dalam hal aliran musik rock misalnya, maka grup band yang terkenal itu ya Scorpion. Adalagi Triumvirat, grup band beraliran Progressive Rock asal Jerman yang menjadi pesaing ELP.

Kehadiran grup-grup musik kontemporer dari Jerman dan kebanyakan yang dari luar Inggris cenderung kurang mengemuka. Bisa jadi karena keharusan menggunakan lirik dan syair berbahasa Inggris agar bisa dikenal dunia. 

Jadinya, para musisi yang memiliki cita-cita mendunia pun harus memenuhi tantangan untuk belajar Sastra Inggris. Setidaknya, belajar bahasa Inggris yang berisikan sebanyak 16 tenses itu.

Padahal, bahasa Eropa seperti Jerman, juga Perancis, kalo dibikin lagu bisa menjadi lagu yang langsung disukai, karena easy listening. Seperti alunan lagu Jerman berjudul Du lantunan syahdu Peter Maffay. Atau, sebuah lagu Perancis nan erotik pembangkit birahi, yang disuarakan oleh Jane Birkin dan Serge Gainsbourg berjudul Je T’aime,… Moi Non Plus.

Adalagi lagu yang berlirik bahasa Belanda, Geef Mij Maar Nasi Goreng yang dibawakan oleh Wieteken Van Dort, tentang kenangan memikat akan olahan masakan nasi goreng, tahu petis dan kawan-kawan, semasa pendudukan bangsa Belanda di tanah kolonialnya, Hindia Belanda.

Ketiga lagu yang mengandung syair bahasa selain Inggris tersebut, sedikit memberi gambaran, betapa dalam karya rekaman musik dan lagu yang mendunia, maka bahasa Inggris masih menjadi lirik pilihan sebagai ungkapan.

Masih ada lagi, fenomena tebang pilih dalam hal memasarkan produk seni musik kontemporer yang mendunia. Dalam ranah musik beraliran Trash Metal, misalnya. Mengapa The Big 4 itu hanya terdiri; Megadeth, Metallica, Slayer dan Anthrax

Semuanya, keempat grup band asal Amerika Serikat tersebut, adalah sekumpulan musisi pengusung, biang aliran Trash Metal. Sementara, musisi Inggris kurang berminat dengan sempalan musik rock ini.

Satu aksi Dave Mustaine sosok musisi biang Trash Metal sekaligus pentolan Megadeth. Satu dari empat grup band penyandang gelar The Big 4.

Jika dibilang The Big 4 adalah kumpulan para punggawa pelopor aliran Trash Metal dunia, maka, mana itu Kreator? Kenapa grup band Trash Metal asal Jerman ini tak dimasukkan memiliki kriteria Big? Biar jadi The Big 5. 

Padahal, corak tatanan musik yang dihasilkan oleh para awak Kreator sangatlah dinamis, gahar dan bertempo cepat. Juga, cenderung gelap. Kayak ramuan komposisi klasik Beethoven, komponis jenius tuna rungu asal Jerman.

Benar memang, bahasa bisa mendominasi seni populer dunia. Buah keteguhan hati menaklukkan banyak samudera, singgah di banyak wilayah daratan dunia, sejak ratusan tahun lalu.

Britain rules the waves.