Kebebasan individu, pemberontakan terhadap egoisme korporasi dan pemodal. Itulah yang diajarkan film drama biografi, Ford v Ferrari (2019). 

Lumayan renyah juga sentuhan sutradara James Mangold yang mampu hadirkan jenis plot bergelombang. Sutradara juga piawai memadukannya dengan sengatan "haru biru" pemberontakan jiwa-jiwa merdeka.

Kemudian klimak yang dipilih cukup menggigit, yaitu benturan kepentingan antara talenta individu inklusif berdaulat yang diwakili dua pembalap dengan elite korporasi yang eksklusif yang diwakili oleh perusahaan otomotif kebanggaan Amerika Serikat, Ford. 

Haru biru itu bukan kisah sedih. Kata haru biru jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai makna: kerusuhan; keributan; kekacauan; huru-hara

Tidak ditemukan makna kata haru biru dalam KBBI yang berarti kesedihan atau suatu kejadian yang membuat sedih dan menyayat hati. 

Dengan latar kisah nyata patriotik pembalap Ford yang juga seorang penulis buku, Carrol Shelby serta Ken Mile, maka film ini terasa halus berkisah tentang persaingan Ford lawan Ferrari kebut-kebutan di arena lomba pacu jalur khas Prancis, 24 Hours of Le Mans. 

Film ini jelas propaganda "American Muscle", di mana mobil balap Ford GT40 signifikan secara historis juara empat kali berturut-turut dari laga di atas (1966–1969), termasuk finish 1-2-3 pada tahun 1966 pada laga tersebut.

Sutradara dan konsultan laga balap mampu menghadirkan wajah vintage lomba ketahanan mesin dan pengemudinya ini. Ketelitian konsultan laga balap terlihat dalam pernyataan Ken Miles setelah test drive seperti di bawah ini,

Miles : Doesn't track. 3rd gear’s too high, torque isn’t reaching the pavement. Steering feels loose cause the front end gets light. Above 140 it thinks it's

Hanya yang pernah berpacu di gigi 3 berkecepatan di atas 140 km/jam yang mampu mengetahui bahwa roda-roda mobil mulai tak cukup tekanan untuk mencengkeram ke aspal dan berat mobil cenderung berkumpul di bagian belakang hingga ujung depan mobil seolah ingin lepas landas.  

Tanpa downforce dari aerodinamis, sebuah mobil balap bisa melayang jika menembus kecepatan 160 km/jam. Sedang dalam film dikisarkan di atas 140 km/jam seperti pernyataan Ken Miles di atas, 

Akan lebih menarik jika sutradara memasukkan unsur gesekan horizontal antara sipil pengguna jalur yang telah dikuasai oleh panitia untuk menjadi sebuah sirkuit tertutup dari sebuah jalur publik. 

Ini juga dapat mewakili kesewenangan korporat pemilik modal dalam hal menguasai jalur transportasi publik untuk dijadikan arena balap tertutup.

Pelajaran tentang legawa juga dapat diambil dari percakapan Dr. Granger dengan Carrol Shelby yang mengalami gangguan jantung akibat sering melampaui batas kekuatan manusia, yaitu perpacu pada putaran 7000 RPM seperti di bawah ini.

Dr. Granger: An elevated heart rate, say 130 BPM, sustained even for a short period, you run a critical risk of cardiac arrest.
Shelby: So I’ll race shorter format.

Carroll Shelby  yang diperankan apik oleh Matt Damon adalah pembalap kampiun di ajang Le Mans 24 hours tahun 1959. 

Dia harus legawa berhenti total karena detak jantungnya 130 BPM. Sebuah level kecemasan seorang yang seolah menghadapi malaikat maut yang sudah gemas ingin melakukan tugasnya.  

Sebagai pembanding kenormalan bagi yang sehat, perenang Olimpic, Michael Phelps, memiliki detak jantung istirahat di rentang 30 BPM. Kontras, kan? 

Bayangkan betapa cemasnya Carrol Shelby. Kengerian detak jantung ini adalah akibat kecepatan super 7000 RPM yang sering dinikmati Shelby. Hingga ia berpuitis seolah bertemu malaikat pada ujaran dalam film seperti di bawah ini.

Shelby: There’s a point at 7000 RPM where everything fades, the machine becomes weightless. It disappears. All that’s left, a body moving through space, and time.

Parameter putaran mesin 7000 RPM adalah sebuah redline atau batas merah yang mengacu pada putaran maksimum mesin dengan batas maksimal  5500 hingga 7000 RPM. Di atas redline dipastikan mesin akan mengalami kerusakan dan sejenisnya. 

Sutradara mampu mempertemukan bintang-bintang gaek semisal Mat Damon dan Cristian Bale dalam sebuah kontras karakter. Namun, keduanya akhirnya mampu bekerja sama untuk Ford Motor Company dan menciptakan mobil revolusioner yang dapat mengalahkan salah satu mobil balap terbaik, Ferrari.

Pelecehan terhadap talenta dapat dilihat saat Ken Miles tidak diajak pada sebuah sesi balapan karena tampang dan prilakunya tidak seprestisius dan perlente pembalap Ford (Ford Man) pada umumnya. Pernyataan itu diucapkan oleh salah satu wakil dari manajerial Ford seperti di bawah ini, 

Bebee: I may not get the finer points of racing Mr. Shelby but I know people. Miles is a beatnik. He dresses like one. Ford means reliability. Ken Miles is not a Ford man.

Bebee: I'm afraid, with marketing concerns, that's not possible. Put a Ford type driver in a Ford car, Mr. Shelby.That's the Ford way.

Terlihat diawali dengan kalimat "I'm afraid" dan "I may not get" yang menunjukkan semuanya harus dihitung dengan untung-rugi sebuah keserakahan korporat bejat yang kurang memperhatikan sisi perasaan kemanusiaan para pembalapnya yang sudah maksimal berdedikasi dalam karirnya. 

Pembelaan berbau jiwa korsa oleh Shelby terhadap kesewenangan pengaturan urutan juara tim Ford, dinyatakan dalam bentuk kebebasan dan pemberontakan terhadap pemilik modal dalam ucapannya di bawah ini.

Shelby: Bulldog, I ain't made a single order stick on your stubborn ass since dayone. Whatever you do, it's fine by me.

Terlihat bagaimana Shelby memberi nickname keakraban dengan sebutan bulldog kepada si keras semangat, Ken Miles. Dia juga membela mati-matian atas kecurangan yang didapat oleh Ken Miles dengan memberikan keputusan yang merdeka: Whatever you do, it's fine by me.

Akhir film ditutup dengan bayang-bayang malaikat maut di 7000 RPM yang dinarasikan dalam penggal monolog: It creeps up on you, close in your ear, and it asks you a question. The only question that matters. Three small words. “Who are you?" 

Dan tentunya bukan "man Robbuka?" (siapa Tuhanmu?). Khas agama Hollywood.