Ahok adalah sosok pemimpin DKI Jakarta yang sudah teruji dan terbukti berhasil. Hari ini, 26 Agustus 2019, akhirnya pertemuan perdana Ahok dengan Anies, pasca-bebas dari penjara, terjadi di gedung DPRD DKI Jakarta.

Ahok, bersama-sama dengan Djarot, menemui Anies yang saat ini menjabat sebagai gubernur. Mereka berjumpa, saling lempar senyum, dan cium pipi kiri cium pipi kanan. Ahok dan Anies terlihat mesra, tidak sepanas saat debat pilgub.

Tapi ada sesuatu yang penulis lihat aneh. Senyuman. Ya, senyuman yang dilempar oleh kedua orang ini terlihat begitu berbeda.

Penulis, di dalam pemahaman membaca wajah orang, melihat senyuman kedua orang ini memiliki perbedaan yang tipis, namun esensial dan keluar dari lubuk hati yang berbeda. Satu foto bisa berbicara banyak hal.

Melihat dari foto di atas, kita bisa mengetahui bahwa senyuman kedua orang ini memancarkan aura yang sangat berbeda. Gedung DPRD DKI Jakarta menjadi saksi bisu dalam pertemuan kedua orang ini. Beberapa anggota DPRD yang barusan dilantik juga menjadi saksi melihat pertemuan kedua orang ini.

Senyuman Ahok adalah senyuman yang polos, tulus, dan tidak ada tekanan. Ahok menerima keberadaan Anies dengan sukarela dan terlihat sangat lepas. Dia menerima keberadaan Anies dengan sepenuhnya sebagai pemimpin Jakarta, meski hasil kerja masih tidak memuaskan sama sekali. 

Ahok terlihat begitu santai dan menikmati waktu-waktu pertemuan Anies, yang mungkin terakhir berjumpa di Balai Kota ketika Ahok memperkenalkan tempat kerja Anies yang baru pada saat itu.

Sekarang, Balai Kota tidak seramai dulu ketika Ahok menjabat, menerima keluhan warga dengan tangan terbuka lebar dan lapang dada. Gubernur terdahulu, Ahok dan Djarot, menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan rakyat secara baik.

Maka ketika kalah, mereka lepas dendam. Mereka tidak merasa bersalah kepada warga. Mengapa? Karena mereka sudah menjalankan tugas sebaik-baiknya. Maka senyuman Ahok adalah senyuman puas, bertemu dengan seseorang yang menggantikan dirinya, dan ternyata makin tersenyum lebarlah ketika orang itu masih perlu dipecut untuk bekerja lebih keras lagi.

Saya melihat bahwa senyuman Ahok mendayu-dayu dan membuat Anies tidak bisa tidak merasa tertekan. Loh kok bisa tertekan? Begini loh. Tertekan ini artinya ada sebuah paksaan dan ketidaksinkronan antara perasaan dalam hati, dan yang harus dikeluarkan.

Senyuman Anies adalah senyuman yang terpaksa. Mengapa terpaksa? Karena terlihat dari suasana hatinya yang saat itu mungkin sedang khawatir dan gundah gulana. Mengapa gundah gulana? Karena ada 8 orang yang akan siap mengkritisi kebijakan Anies: dari fraksi PSI.

Partai Solidaritas Indonesia adalah partai yang siap menerima keluhan rakyat yang sudah ditutup oleh Anies. Mungkin kedelapan orang ini akan menjadi sekelompok pejuang rakyat, reinkarnasi dari ideologi Ahok, sang pelayan rakyat. Apakah mungkin Anies merasa tertekan dengan hal ini? Atau bagaimana?

Saya melihat, bagaimana pun juga, ada tekanan-tekanan batin yang dirasakan oleh Anies ketika dia datang dan melangkah masuk ke dalam pelantikan para caleg terpilih yang siap bekerja di DPRD DKI menggantikan peranan gubernur dalam mengurus kota.

Senyuman Anies ini terlihat terpaksa, ketika harus bersiap-siap menghadapi 8 Ahok Reborn yang ada di DPR-D DKI Jakarta, dan siap menerima aduan rakyat dari jam 8 sampai 10 di kantor PSI di gedung DPRD DKI Jakarta. Saya melihat bahwa ancaman ini sangat serius. Anies mungkin merasa terancam dengan keberadaan Viani Limardi, William Aditya Sarana, dan lain-lainnya.

Mimik orang bisa dibaca dengan mudah. Kita melihat bagaimana mimik Ahok begitu sumringah puas melihat banyaknya partai-partai koalisi Jokowi yang mengisi kursi DPRD DKI Jakarta.

Dia puas melihat ada 8 anak PSI yang ada di sana. Malah dia dengan bangga bersama Djarot mendatangi Anies dan menyelami Anies. Sebagai gubernur aktif, Anies pun harus tetap melempar senyum.

Suasana hati mereka benar-benar terlihat berbeda. Nuansanya satu gembira, satu terpaksa. Senyuman yang tulus menjadi senyuman Ahok yang dilempar ke Anies dan direspons dengan senyuman kecut. Sekali lagi, membaca wajah adalah salah satu hobi saya dari kecil.

Saya suka membaca wajah-wajah orang. Senyuman terlihat palsu bisa mudah ditebak. Saya berharap, memang Anies tidak palsu senyumannya, tapi ya memang wajahnya begitu saja.

Sekali lagi, kita melihat bagaimana ketokohan kedua orang ini sangat berbeda ya. Ketulusan dan keterpaksaan. Pelayan rakyat dan bos rakyat. Pekerja dan pembicara. Gembira dan tertekan. Bebas dan terikat. Semuanya antitesis.

Maka, tidak berlebihan jika kita berkesimpulan bahwa apa yang menjadi mimik Ahok membawa berkah bagi kita semua, membawa ketenangan. Sedangkan senyuman Anies terlihat begitu mencurigakan dan memiliki aura negatif. Semoga dengan ini kita belajar untuk memiliki hati yang tulus.